SURABAYA — Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Dewan Kota (PPMI DK) Madura menggelar media visit ke Jawa Pos sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring antarlembaga pers mahasiswa sekaligus memperluas wawasan mengenai praktik jurnalistik di media profesional. Selasa (29/6/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sejumlah lembaga pers mahasiswa (LPM) yang tergabung dalam jaringan PPMI DK Madura. Di antaranya LPM Semesta, LPM Aktivita, LPM Surga, dan LPM Haroka.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ketua Umum PPMI DK Madura, Naufal, mengatakan PPMI DK Madura menjadi ruang bersama bagi lembaga pers mahasiswa untuk membangun komunikasi, memperkuat jejaring, sekaligus mendukung kebutuhan internal dan advokasi pers mahasiswa.

“PPMI menjadi ruang untuk saling mengenal dan memperkuat hubungan antarlembaga pers mahasiswa,” ujar Naufal.

Dalam kunjungan tersebut, peserta mendapat pemaparan mengenai proses kerja jurnalistik di Jawa Pos dari Redaktur Senior Jawa Pos, Galih.

Galih menjelaskan, pengalaman berorganisasi di lembaga pers mahasiswa memiliki keterkaitan dengan kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis dan menulis. Menurut dia, mahasiswa yang aktif di LPM umumnya memiliki pengalaman lebih dalam memahami persoalan dan mengolahnya menjadi tulisan.

Ia juga memaparkan ekosistem Jawa Pos yang memiliki jaringan media lokal di berbagai daerah melalui Radar. Jaringan tersebut memungkinkan media mengangkat isu lokal sekaligus menjadi bagian dari pemberitaan yang lebih luas.

Menurut Galih, media lokal memiliki peran penting karena dapat menjangkau persoalan hingga tingkat daerah. Di Surabaya, misalnya, kerja jurnalistik terbagi dalam berbagai bidang, mulai kriminal, politik, pendidikan hingga isu sosial.

Khusus pemberitaan kriminal, Galih menekankan pentingnya ketelitian karena berkaitan dengan aspek hukum. Wartawan harus memastikan informasi yang diperoleh memiliki dasar yang jelas dan telah melalui proses verifikasi.

Selain kemampuan menulis, wartawan juga dituntut mampu membangun jejaring dengan berbagai pihak. Komunikasi dengan narasumber menjadi bagian penting dalam proses memperoleh informasi.

“Wartawan tidak bisa menutup diri. Kemampuan berkomunikasi dan membangun hubungan dengan narasumber sangat penting,” jelasnya.

Dalam proses produksi berita, wartawan Jawa Pos dituntut menghasilkan sejumlah berita setiap hari. Naskah yang telah dibuat kemudian dikirim kepada redaktur untuk melalui proses penyuntingan sebelum diterbitkan.

Galih juga menjelaskan pentingnya keberagaman sumber dalam sebuah berita. Idealnya, informasi diperkuat dengan lebih dari satu narasumber. Namun, dalam kondisi tertentu, berita dapat menggunakan satu sumber, misalnya informasi resmi dari humas, dengan catatan informasi tersebut tetap dapat dipertanggungjawabkan.

Produk jurnalistik juga tidak hanya mengandalkan teks. Foto, infografis, dan desain grafis menjadi bagian penting dalam memperkuat penyajian informasi sekaligus menarik perhatian pembaca.

Dari sisi produksi, redaksi Jawa Pos bekerja dengan tenggat yang ketat. Berita reguler umumnya diselesaikan sejak pagi, sedangkan isu yang berkembang dapat terus dipantau hingga malam hari.

Galih turut menjelaskan pembagian produk Jawa Pos, mulai dari pemberitaan nasional hingga wilayah. Untuk Surabaya terdapat Metropolis, sementara jaringan Radar hadir di berbagai daerah, termasuk Radar Madura.

Di tengah perubahan pola konsumsi informasi, Jawa Pos juga terus mengembangkan platform digital. Galih menyebut produksi koran Jawa Pos saat ini berada di kisaran 4.000 eksemplar per hari.

Selain pemberitaan hard news, peserta juga mendapat penjelasan mengenai pendekatan pemberitaan positif. Media dapat mengangkat inovasi, sisi humanis, prestasi, maupun berbagai perkembangan positif di tengah masyarakat.

Media visit tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung proses kerja jurnalistik profesional. Mulai dari mencari informasi, membangun jejaring dengan narasumber, melakukan verifikasi, menulis berita, hingga proses penyuntingan dan penyajian visual.

Melalui kegiatan itu, PPMI DK Madura mendorong pers mahasiswa untuk terus meningkatkan kapasitas jurnalistik. Tidak hanya mampu menghasilkan tulisan yang informatif, tetapi juga kritis, terverifikasi, dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsi pers di lingkungan kampus maupun masyarakat.