SUMENEP – Masalembu selama ini kerap dikenal dengan julukan “Segitiga Bermuda”. Stigma tersebut membuat wilayah kepulauan di Kabupaten Sumenep itu sering dipandang sebagai kawasan yang jauh dan penuh cerita negatif.

Namun, pandangan tersebut coba diluruskan melalui buku Masalembu: Suara dari Laut Seberang karya Mahéng. Buku itu dibedah dalam acara ngobrol buku yang digelar LESBUMI PCNU Sumenep bersama Penerbit Literatus di Cafe Kancakona, Jalan Jokotole, Desa Gedungan, Kecamatan Batuan, Sabtu (22/8).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Diskusi tersebut menghadirkan A. Dardiri Zubairi sebagai penanggap pertama dan Iskandar Dzulkarnain sebagai penanggap kedua. Sementara Ummul Hasanah bertindak sebagai moderator.

Dalam diskusi, buku tersebut tidak hanya dibahas dari sisi proses kreatif. Masalembu dikaji melalui berbagai perspektif, mulai dari identitas Madura, keberagaman masyarakat, stereotip, hingga persoalan pembangunan kawasan kepulauan.

Mahéng mengatakan, buku tersebut lahir dari perjalanan dan berbagai cerita yang didengarnya mengenai Masalembu. Ia menemukan banyak kisah menarik yang dinilai perlu dituliskan agar tidak hilang begitu saja.

“Sejelek-jeleknya tulisan adalah sekuat-kuatnya ingatan,” kata Mahéng.

Menurut dia, tulisan menjadi salah satu cara untuk menyimpan pengalaman sekaligus menghadirkan gambaran Masalembu dari perspektif masyarakat dan kehidupan yang ditemuinya secara langsung.

Mahéng menggunakan pendekatan journalism feature dalam merekam kehidupan masyarakat Masalembu. Di kawasan tersebut terdapat masyarakat dengan latar belakang Madura, Bugis, dan Mandar yang hidup berdampingan.

Keberagaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam cerita yang disampaikan. Menurut Mahéng, laut yang memisahkan Masalembu dari daratan tidak selalu menjadi batas. Sebaliknya, laut juga menjadi jalur pertemuan manusia, kebudayaan, dan gagasan.

Karena itu, buku tersebut tidak dimaksudkan sebagai kajian ilmiah maupun buku sejarah. Karya itu lebih diarahkan sebagai catatan perjalanan dan pengalaman personal setelah penulis mengunjungi Masalembu.

Mahéng berharap pembaca tidak melihat Masalembu hanya melalui rumor atau stigma yang berkembang. Ia mengajak masyarakat melihat langsung kehidupan warga di wilayah kepulauan tersebut.

“Datang dan lihat sendiri, jangan hanya berdasarkan katanya,” pesannya.

Penanggap kedua, Iskandar Dzulkarnain, menilai karya tersebut memiliki arti penting dalam melihat masyarakat Madura secara lebih utuh. Menurut dia, buku itu turut menantang stereotip tentang masyarakat Madura yang selama ini banyak dibentuk dari perspektif kolonial.

Iskandar mengatakan, kebudayaan Madura tidak tumbuh dalam ruang tertutup. Interaksi dengan berbagai kelompok dan kebudayaan lain telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Madura.

Keberadaan masyarakat Madura, Bugis, dan Mandar di Masalembu, lanjut dia, menunjukkan bahwa perjumpaan budaya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kepulauan.

“Dalam konteks ini, laut justru menjadi bagian dalam membentuk kehidupan masyarakat kepulauan. Laut tidak sekadar menjadi batas wilayah, tetapi juga jalur pertemuan manusia, kebudayaan, dan gagasan,” tegasnya.

Sementara itu, A. Dardiri Zubairi menilai pembahasan mengenai Masalembu tidak cukup hanya berkutat pada identitas dan kebudayaan. Persoalan pembangunan kawasan kepulauan juga perlu mendapat perhatian.

Dia menyoroti pembangunan wilayah kepulauan yang dinilai masih cenderung berorientasi pada daratan. Padahal, masyarakat kepulauan memiliki karakteristik, kebutuhan, dan tantangan yang berbeda.

Menurut dia, sejumlah persoalan seperti akses kesehatan, ketersediaan listrik, lingkungan, serta pengelolaan sumber daya laut perlu menjadi perhatian serius pemerintah.