Analisa_Globalisasi telah mendorong banyak negara untuk membuka sistem pendidikan mereka terhadap inovasi global, termasuk digitalisasi, kurikulum internasional, dan metode pembelajaran modern. Namun, dalam konteks negara dengan identitas religius yang kuat seperti Brunei Darussalam, pertanyaan mendasar muncul: apakah keterbukaan tersebut benar-benar menjadi kebutuhan?

Brunei merupakan negara dengan sistem pendidikan yang terintegrasi erat dengan nilai agama melalui filosofi Melayu Islam Beraja. Sistem ini menempatkan pendidikan sebagai sarana pembentukan karakter, bukan sekadar kompetensi global. Oleh karena itu, penting untuk menilai apakah inovasi global justru membawa manfaat atau risiko terhadap struktur pendidikan yang sudah mapan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pendekatan Filosofis: Pendidikan sebagai Penjaga Nilai

Secara filosofis, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai alat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan identitas dan nilai. Dalam konteks Brunei, pendidikan diarahkan untuk membentuk individu yang beriman, berakhlak, dan loyal terhadap negara.

Pendekatan global yang cenderung sekular dan individualistik berpotensi bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Oleh karena itu, keterbukaan tanpa batas terhadap inovasi global dapat menyebabkan disorientasi nilai. Dalam perspektif ini, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari tingkat modernisasi, tetapi dari kemampuannya menjaga tujuan manusia secara holistik.

Pendekatan Yuridis: Legitimasi dan Stabilitas Sistem Pendidikan

Secara yuridis, sistem pendidikan di Brunei Darussalam memiliki legitimasi yang kuat melalui kebijakan negara. Pemerintah, melalui Ministry of Education Brunei dan Ministry of Religious Affairs Brunei, mengatur kurikulum pendidikan agar tetap selaras dengan nilai Islam.

Dalam teori hukum kebijakan publik, perubahan besar hanya dapat dilakukan jika terdapat urgensi yang jelas. Namun, dalam kasus Brunei, tidak ditemukan indikasi krisis pendidikan atau kegagalan sistemik. Oleh karena itu, dorongan untuk membuka diri secara luas terhadap inovasi global tidak memiliki dasar yuridis yang kuat dan berpotensi mengganggu stabilitas kebijakan.

Pendekatan Sosiologis: Bukti Empiris Keberhasilan Sistem

Secara sosiologis, keberhasilan pendidikan dapat diukur melalui dampaknya terhadap masyarakat. Data menunjukkan bahwa:

Tingkat literasi Brunei mencapai 97–98%, dengan literasi pemuda sekitar 99,7% (World Bank; UNESCO). Angka penyelesaian pendidikan dasar mencapai sekitar 96%. Partisipasi pendidikan menengah mencapai sekitar 88%.

Data tersebut menunjukkan bahwa sistem pendidikan Brunei telah berhasil menciptakan masyarakat yang terdidik secara luas.

Selain itu, Brunei dikenal memiliki stabilitas sosial yang tinggi dan tingkat kriminalitas yang relatif rendah, yang menunjukkan kuatnya kohesi sosial. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, hal ini merupakan indikator keberhasilan sistem dalam mentransmisikan nilai dan norma sosial.

Dampak Modernisasi Pendidikan: Studi Perbandingan Global

Meskipun inovasi global sering dianggap membawa kemajuan, berbagai studi menunjukkan dampak yang kompleks terhadap nilai keagamaan:

Dilansir dari Pew Research Center 2025. menunjukkan bahwa, di Belanda, sekitar 42% individu berpendidikan tinggi meninggalkan agama, dibandingkan 29% pada kelompok berpendidikan rendah.

Sedangkan di China (dalam Hungerman, 2014; ScienceDirect), mengungkapkan bahwa setiap tambahan satu tahun pendidikan menurunkan tingkat kepercayaan agama sekitar 1,5%.

Di Kanada, peningkatan pendidikan menurunkan afiliasi agama sekitar 4% serta mengurangi partisipasi ibadah (Hungerman, 2013)

Studi di beberapa negara Eropa menunjukkan bahwa pendidikan yang lebih tinggi berkorelasi dengan penurunan praktik keagamaan seperti ibadah dan doa (NBER Working Paper No. 20557)

Dari beberapa temuan di atas dapat diartikan bahwa modernisasi pendidikan tidak selalu netral, tetapi dapat membawa perubahan nilai yang signifikan jika tidak diimbangi dengan kontrol budaya dan religius.

ketiga pendekatan tersebut menghadirkan paham bahwa sistem pendidikan di Brunei Darussalam telah berada dalam kondisi stabil dan berhasil. Oleh karena itu, keterbukaan terhadap inovasi global perlu dilakukan secara selektif, bukan sebagai perubahan struktural yang besar.

Konsep “one size fits all” dalam pendidikan global tidak dapat diterapkan secara universal, terutama pada negara dengan karakteristik sosial dan religius yang kuat. Relevansi lokal harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan pendidikan.

Artinya, keterbukaan terhadap inovasi global dalam pendidikan agama di Brunei Darussalam bukanlah kebutuhan mendesak. Sistem yang ada telah menunjukkan keberhasilan secara filosofis, yuridis, dan sosiologis.

Oleh karena itu, inovasi global sebaiknya diadopsi secara selektif dan kontekstual, dengan tetap menjaga nilai dasar yang menjadi identitas bangsa. Dalam pendidikan, stabilitas yang berbasis nilai sering kali lebih penting daripada perubahan yang mengikuti tren global.

Referensi

World Bank. (2023). Literacy Rate – Brunei Darussalam.

UNESCO. (2022). Education Statistics Global Database.

Pew Research Center. (2025). Around the World, Many People Are Leaving Their Childhood Religions.

National Bureau of Economic Research. (2014). Education and Religious Participation (Working Paper No. 20557).

Hungerman, D. (2013). The Effect of Education on Religion: Evidence from Canada.

Hungerman, D. (2014). Education and Religious Belief: Evidence from China.

Ministry of Education Brunei. Kebijakan Pendidikan Nasional Brunei.

Ministry of Religious Affairs Brunei. Kurikulum Pendidikan Agama.

* Penulis adalah Naufal El Fany dkk. Peserta ajang bergengsi International Conference Santri.