Analisa_Kemiskinan banyak memakan korban” kupikir kalimat ini sangat mewakili dunia Ronggeng Dukuh Paruk anggitan Ahmad Tohari. Sebelum beralih pada pembahasan utama, rasanya saya ingin menyinggung bagaimana kelihaian Ahmad Tohari dalam menguarkan kisah dengan Bahasa yang penuh metafora. pembaca ulung seperti saya kian menganga oleh permainan kata yang begitu lihai. “suaranya melengking seperti keluhan panjang”  kalimat ini saya temui di awal cerita. Sepasang burung bangau  terbang di langit Dukuh Paruk yang sedang gersang. Penceritaan tentang sepasang burung bangau yang terbang tidak sebatas mengenai sepasang burung belaka, Ahmad Tohari kian menyelipkan kepedihan pedesaan Dukuh Paruk laiknya kalimat yang saya kutip sebelumnya. Sepasang bangau yang mendambakan genangan air yang sudah lama tidak mereka jumpai.

Gambaran kekeringan, kelaparan dan harapan kian terwakili dengan penceritaan sepasang bangau di awal cerita. maka muncullah pertanyaan dalam benak saya; jika sepasang bangau kebingungan dengan makanan, bagaimana kondisi manusia (tokoh-tokoh dalam cerita)?.  Apa musabab dan maksud tersirat kemiskinan dan kepedihan menjadi paten di Dukuh Paruk?.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Terciptanya pada tahun 1983, cerita Ronggeng Dukuh Paruk tidak terlepas dari rezim politik era 1965, sajian peristiwa tersebut tidak secara langsung digambarkan sebagai peristiwa politik besar di pusat pemangku kuasa, melainkan dampak besarnya terhadap masyarakat di lingkungan terpencil, Dukuh Paruk. Ihwal ini menghadirkan sebuah paham, bahwa pergulatan politik begitu mencekik masyarakat, khususnya di lingkungan rural. Berikut peristiwa yang disajikan Ahmad Tohari dalam dunia Ronggeng Dukuh Paruk.

“ kemelaratannya, keterbelakangannya, penghuninya yang kurus dan sakit, serta sumpah serapah cabul menjadi bagiannya yang sah.” Tohari mengawali penceritaan tentang kondisi Dukuh Paruk, sebuah pedesaan terpencil yang lugu, tidak berpendidikan dan menjadi katak dalam tempurung.  Bahkan, saking minimnya pengetahuan, mayoritas masyarakat Dukuh Paruk tidak bisa membaca dan Menulis. Sehingga, hal ini menjambatani nasib buruk yang kian melanda: kelaparan, wabah penyakit, kekerasan, pemerkosaan kian terjadi dengan normalnya, menjadi bagiannya yang sah. Laiknya dalam sosial politik, warganya tidak benar-benar paham tentang ideologi politik seperti komunisme. Sehingga tanpa sadar kesenian tari yang begitu sakral bagi mereka kian terjerumus dalam pergulatan PKI.

dalam dunia Ronggeng Dukuh Paruk, dengan kondisi tertinggal, mistis dan sangat memeegang teguh tradisi tarian Ronggeng. Mulanya tradisi ini diceritakan dalam kondisi fakum, mengalami kekosongan yang cukup lama, 11 tahun. Situasi ini menjadi musabab keterpurukan Dukuh Paruk, Desa tersebut menjadi sunyi tanpa adanya penerus penari Ronggeng. Kemudian, muncullah Srintil yang dipercayai memiliki titisan atau penerus semangat Ronggeng bagi Dukuh Paruk. Kesunyian kian surut, Desa kembali tertawa dengan segala harapan keluar dari jeratan kemiskinan.

Kehadiran Srintil sebagai penari Ronggeng menghadirkan nyawa baru bagi masyarakat Dukuh Paruk. Orang-orang di luar desa kian berdatangan untuk sekedar menyaksikan tarian dan mengantri demi bermalam dengan srintil—meski harus membayar mahal. Tapi kebahagiaan tersebut harus digerus oleh kebodohan. Pertunjukan Ronggeng kemudian dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk sebuah kepentingan politik.

Pertunjukan Ronggeng selalu menarik perhatian banyak orang. Hal ini, merupakan kondisi yang cukup efektif dalam pengumpulan masa. dengan berbagai hasutan, kemudian tanpa disadari kegiatan Ronggeng yang mulanya disajikan dengan lagu-lagu sakral Dukuh Paruk kian teralihkan dengan lagu-lagu yang bernuasa politik. Ajakan dan simbol-simbol yang berkaitan dengan organisasi tertentu kian berseliweran dalam acara. Warga yang sebenarnya datang untuk menonton hiburan, perlahan terekspos pada propaganda. Keterlibatan yang tanpa disadari dan kelihatannya sepele menjadi musabab aparat untuk menganggap mereka sebagai begian dari Gerakan politik terlarang di era 1965.

Ketidakpahaman terhadap politik Warga Dukuh Paruk bermuara dari keterbelakangan dan kebodohan mereka, yang kemudian menjadi korban. Artinya, tragedi 1965 bukan hanya soal ideologi, melainkan juga penderitaan yang dialami masyarakat biasa. Kesenian yang merupakan hal sakral bagi warga Dukuh Paruk menjambatani keterjerumusan pada propaganda politik besar. Yang kemudian, peristiwa ini menyebabkan banyak warga hilang dan mati, struktur sosial desa kian hancur dan beberapa tokoh seperti srintil mengalami trauma. Desa Dukuh Paruk yang mulanya berbinar dengan kehadiran Ronggeng harus menelan paksa kepahitan yang kian mendekap mereka kembali.

“karena tak pernah atau tak mampu mengembangkan akal budi pula, tanah airku yang kecil sesungguhnya tak pernah berusaha menyelaraskan diri dengan selera ilahi. Ibuku telah sekian lama terlena dalam krida batin yang naif, kenaifan mana telah melahirkan antara lain ronggeng-ronggeng Dukuh Paruk. Namun ronggeng yang mengembangkan wawasan berahi yang primitive ternyata tidak mendatangkan rahmat kehidupan.” (Ahmad Tohari, 518:2025).