Analisa – Namanya Fahrur, ia terlahir seperti manusia biasa, tapi di sisi lain, dirinya punya keistimewaan lebih dari apa yang orang lain lihat, orang lain tahu, bahkan itu yang membedakan keistimewaannya dengan jutaan makhluk dimuka bumi ini.
Ia kira kelahirannya adalah tanda Tuhan memberi kesempatan berjuang sebagaimana hak hidup dipertaruhkan, dari situ ia mengenyam, seberapa besar nyalinya tumbuh di dunia yang serba fana ini.
Bicara panjang soal visi hidup, harusnya bagian lestari untuk menemukan arah, sebagaimana doa-doa dipanjatkan, menjadi tuntunan yang digerakkan. Diri lahir dari keterpurukan dan ingin menolak keterpurukan itu.
Sah-sah saja bila orang lain melihat diri ini sebagai makhluk yang menyandang disabilitas, sementara ia terlahir sebagai bayi yang utuh, sehat, tanpa cacat, tanpa riwayat penyakit.
Ibu bercerita sembari menghela napas, seolah ada yang tersirat rapuh. Di usia sepuluh hari, bayi itu menangis sepanjang malam, tangis yang tak bisa dijelaskan, tak bisa dihentikan. Tidak ada diagnosa, tidak ada jawaban. Tetangga berdatangan, bertanya, cemas. Ibu hanya bisa memeluk bayinya dengan ambigu.
Hari demi hari berlalu, tangis itu tetap tinggal. Hingga suatu dini hari, sesuatu yang tak pernah diduga terjadi. Mata kiri bayi itu mulai mencair, peristiwa yang bahkan tak mampu dijelaskan oleh logika. Hari itu, sesuatu dalam dirinya berubah. Sesuatu yang sebelumnya utuh, perlahan menjadi tanda bahwa hidupku tidak akan berjalan seperti kebanyakan orang.
Tubuhnya tumbuh tidak seperti anak-anak lain. Lebih Pendek, lebih kurus, seperti tertinggal. Teman-teman di kampung punya sebutan sendiri untukku. Ia mendengarnya, ia tahu maksudnya, tapi lama-lama, terbiasa. Bukan karena tidak sakit, tapi karena ia memilih tidak berhenti di rasa itu.
Saat ia tumbuh menjadi anak kecil ingusan berumur 5 tahun, aku bertanya kepada ibuku, soal mata kiriku, “apakah aku mengalami mata picek ini sejak lahir bu?” Berulang kali ibu tidak menjawab. Akhirnya ia pergi tanpa jawaban.
Masa kecilnya bukan panggung kebebasan seperti yang lain. ia tumbuh di antara ejekan, penolakan, dan jarak yang diciptakan oleh mereka yang tak mengerti. Fahrur bukan anak yang bisa berlari tanpa beban, bukan pula yang mudah diterima dalam lingkaran permainan, justru dari sana, aku belajar sesuatu yang tak diajarkan di ruang kelas.
Dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi, satu pertanyaan terus membuntutinya: mengapa dirinya terlahir seperti ini? Pertanyaan itu tak pernah benar-benar terjawab, tetapi pelajaran ini menyalakan sesuatu dalam dirinya, ambisi. Aku ingin tahu seberapa kuat aku bisa bertahan, seberapa banyak kegagalan yang bisa ditanggung, dan sejauh mana kemenangan itu mungkin diraih.
Perjalanan yang tidak sederhana itu yang mengantarkannya sampai detik ini, setelahnya, semakin hari semakin sadar bahwa hidup adalah titipan, kita akan kembali pada Rabb-Nya, namun dari hidup ini kita tahu betapa banyaknya cita dan perjalanan manusia.
Di atas sajadah, ia belajar menerima. Menerima takdir yang tak bisa ditukar, menerima keadaan yang tak bisa dinegosiasikan. Meski kenyataannya aku sering gagal, sering tertinggal.
Ada masa ketika ia dipanggil “balita” saat remaja, justru mengapa membuatku tersenyum. Lagi-lagi ia belajar, bahwa kekurangan bukan untuk ditanggung, tetapi juga menjadi cara orang lain mengenal bahwa manusia memang diciptakan untuk saling menerima.
Tentang cinta, ia pun tak selalu beruntung. Beberapa kali ia jatuh, bukan karena kurangnya rasa, tetapi karena fisik yang dianggap tak sepadan. Sakit, tentu. Namun dari sana ia mengerti, bahwa patah hati pun adalah cara hidup mengajarkan rasa syukur.
Ia hanya manusia kecil, dengan segala keterbatasan yang melekat. jika hidup adalah anugerah, maka menerimanya adalah bentuk keberanian. Ia tidak pernah menyesal dilahirkan seperti ini. Justru dirinya bersyukur, karena dari kekurangan ini, dapat bertemu dengan orang-orang yang mau menerima, membangun, dan peduli. Dari merekalah ia belajar segalanya.




