Analisa_Novel Aib dan Nasib karya Minanto merupakan sebuah karya sastra yang mengangkat tema psikologi yang mendalam, dengan fokus pada pergulatan individu dalam menghadapi ketidakadilan dalam dirinya sehingga memaksa mereka berhadapan dengan stigma individual, aib yang melekat pada diri mereka, dan ketidakadilan terhadap dirinya. Novel ini menyajikan tentang perjalanan batin karakter-karakternya dalam menemukan harga diri dan makna hidup yang lebih mendalam.

Novel Aib dan Nasib karya Minanto ini juga menjadi juara dalam Sayembara Manuskrip Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019. Alkisah, novel ini juga menyuguhkan berbagai polemik-polemik di desa Tegalurung yang beralokasi di Jawa Barat. Melalui penceritaan yang begitu rumit, di sini saya akan membahas novel ini melalui kacamata teori psikologi populer Alfred Adler Superioritas dan Inferoritas.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sikap superioritas adalah sikap untuk menutupi kelemahan diri dengan kesempurnaan atau pencapaian. Pewartaan ini kian menggambarkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita yang menjadi lebih baik untuk dirinya sendiri dan berupaya unggul ketimbang tokoh lain. Sebgai contoh, di sini saya akan mengutip salah satu tokoh superior dalam cerita, yakni Kaji Basuki.

Kaji Basuki merupakan tokoh yang disegani dalam cerita. hal ini terjadi karena Kaji Basuki sangat ketat dalam menjaga kekayaannya. Sikap Kaji Basuki yang demikian menunjukkan kepribadiannya yang kikir, ia takut kehilangan harta bendanya sehingga selalu waspada pada tokoh lain yang berurusan dengan apa yang ia miliki. “Sebagaimana orang-orang mengenal tokoh Kaji Basuki sebagai lelaki kikir, orang-orang selalu berhati-hati jika bersentuhan dengan harta benda milik lelaki itu.” Kaji Basuki kerap kali memarahi tokoh lain karena menyentuh barang tanpa se—idzinnya. Hal ini memunculkan keseganan tokoh lain  “orang-orang selalu berhati-hati”, tokoh lain merasa takut mendapat cibiran Kaji Basuki jika menyentuh harta bendanya.

sikap superioritas dalam pribadi tokoh-tokoh yang diwartakan Minanto, tak sepenuhnya tercapai. Namun, juga ada beberapa tokoh yang keinginannya tercapai seperti: Kicong dan Kartono. Keinginan tokoh yang tidak tercapai lebih dominan daripada beberapa tokoh yang semua hasratnya tercapai. Dan hal itu digambarkan ke dalam perwujudan tokoh perempuan. Artinya, secara tidak gamblang, Minanto masih terikat dengan budaya domestikasi perempuan. Hal itu dapat ditilik dari Analisa kepribadian—yang bersumber dari psikologis pribadi—tokoh-tokoh perempuan yang ingin mencapai keinginan, tetapi selalu tertimbun oleh sesuatu yang lebih kuat, tokoh laki-laki.

Selain domestikasi perempuan, dominasi terhadap kekuasaan tergambar dalam tokoh Kaji Basuki. Dalam penggambarannya, Kaji Basuki digerakkan seolah-olah dia ingin menjadi sesuatu agar dapat mengontrol masyarakat di bawah kendalinya. Sebagaimana dalam psikoanalisis, bahwa aturan-aturan dalam masyarakat merupakan simbol ayah—tata simbolik, yang mana dalam hal ini ayah adalah cerminan dari seorang laki-laki, dan masyarakat yang masih terkungkung oleh aturan adalah lawan dari tata simbolik, yaitu dunia ibu. Artinya, secara tidak terang, dominasi baik secara performa maupun secara simbolik, Minanto masih meromantiasasi domestikasi perempuan—bahwa perempuan harus di bawah kendali laki-laki.

Opini demikian tidak bisa ditelan secara literal. Bisa jadi, motif di balik yang gamblang, Minanto ingin menyuarakan—atau mewakili suara perempuan—kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, baik secara personal maupun komunal. Selain ingin menemukan sosok mana yang lebih superior, dampak dari permainan psikologi kepribadian tiap tokoh mempengaruhi jalan cerita. Selain itu, beberapa kemungkinan-kemungkinan—di luar superioritas-inferioritas—motif penulis Aib dan Nasib dalam membangun naratif. Tokoh-tokoh yang berusaha menjadi superior dan bermuara dari rasa inferior tiap pribadi dalam beberapa tokoh dalam novel Aib dan Nasib karya Minanto.

Inferioritas adalah perasaan rendah diri, tidak mampu, dan berusaha menutupi ketidaksempurnaannya. Perasaan inferioritas bukan sesuatu hal yang buruk. Cerminan Inferioritas tergambar pada Mang Sota, salah satu tokoh dalam Aib dan Nasib sebagai berikut.

“Mau sebarapa malu, pikir Mang Sota. Tidak saja ia tak mampu hidup sejajar dengan para tetangga, tetapi malang tak kunjung hilang. Para tetangga bolehlah menutup mulut setelah bertukar sapa dengannya, namun siapa tahu mereka berkasak-kusuk di belakang punggungnya.” Kutipan tersebut menunjukkan perasaan rendah diri Mang Sota. Ia merasa malu lantaran tidak bisa hidup normal layaknya orang-orang disekitarnya. Dengan kondisi Uripah hamil, Mang Sota harus menghadapi berbagai macam omongan tetangganya. Orang-orang disekitar Mang Sota tentu akan menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan gosip. Tanpa mencari tahu fakta kebenaran yang terjadi. Mereka cenderung membuat cerita sebagaimana yang mereka inginkan. Minimnya intelektual masyarakat Tegalurung dalam cerita menjadi faktor utama penunjang sikap mereka yang mudah mengambil keputusan.

Beberapa tokoh yang berusaha mengobati rasa inferioritasnya, juga ada beberapa tokoh yang tetap terkungkung dalam jeratan tokoh lain. Artinya, baik individu maupun dividu saling berkaitan memberikan pengaruh sehingga membuat dunia Aib dan Nasib berjalan secara didaktis.

dalam dunia Aib dan Nasib tokoh-tokoh superioritas dihadirkan dengan kekuasaan (uang, status, tubuh) yang kemudian digunakan sebagai alat memarginalkan tokoh-tokoh inferior untuk meraih ambisi dan posisi unggul. Tokoh-tokoh inferior duperkenalkan dengan penderitaan, pergulatan melawan nasib dan masih tertindas atau malah mengalami kemunduran.