Perkenalkan, nama saya Nafisa Azkadina. Saat ini saya duduk di kelas 4 SD dan bersekolah di SD IT Al-Hidayah Islamic School. Saya baru saja meraih Juara 1 Lomba Menulis Tingkat Kabupaten Bekasi.
Saya adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Saya lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayah saya bekerja sebagai karyawan swasta, sedangkan ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga. Meskipun demikian, saya memiliki cita-cita yang tinggi dan berbeda dari profesi kedua orang tua saya, yaitu menjadi seorang dokter sekaligus penghafal Al-Qur’an.
Cita-Cita Menjadi Dokter yang Handal
Saya sangat ingin menjadi seorang dokter agar dapat membantu orang-orang yang sedang sakit. Berdasarkan pengalaman saya melihat dokter bekerja, saya memahami bahwa seorang dokter yang handal harus memiliki kesabaran dan ketelitian yang tinggi dalam menangani pasien.
Seorang dokter tidak hanya memeriksa kondisi pasien, tetapi juga harus mendengarkan keluhan dengan baik, menanyakan gejala penyakit, memeriksa kondisi tubuh secara teliti, menjelaskan hasil pemeriksaan, menjawab pertanyaan pasien, hingga memberikan pengobatan yang tepat. Untuk melakukan semua itu, dibutuhkan ilmu, kesabaran, dan ketelitian.
Karena itulah saya selalu merasa termotivasi ketika melihat dokter bekerja. Saya menjadi lebih semangat belajar agar suatu hari nanti dapat menjadi dokter yang handal dan bermanfaat bagi banyak orang.
Selain melihat langsung pekerjaan dokter, saya juga terinspirasi dari drama bertema medis yang pernah saya tonton berjudul The Trauma Code: Heroes on Call. Drama tersebut menceritakan tentang seorang dokter senior yang sangat berpengalaman dan seorang dokter koas yang sedang belajar menjadi dokter profesional.
Mereka harus menangani banyak pasien, bahkan sebagian besar berada dalam kondisi yang sangat parah. Tidak jarang mereka harus berhadapan dengan pasien yang mengalami luka serius dan mengeluarkan banyak darah. Dari drama tersebut saya belajar bahwa perjuangan untuk menjadi dokter sangat panjang dan tidak mudah.
Namun, justru dari situlah saya semakin termotivasi untuk terus belajar dan berusaha agar kelak menjadi dokter yang tangguh, handal, dan berani menghadapi berbagai tantangan.
Menjadi Penghafal Al-Qur’an
Selain bercita-cita menjadi dokter, saya juga ingin menjadi seorang penghafal Al-Qur’an yang istiqamah. Saya percaya bahwa Al-Qur’an dapat membawa keberkahan dalam kehidupan.
Saya sering terinspirasi ketika melihat para syaikh di Masjidil Haram. Mereka adalah para penghafal Al-Qur’an yang berhasil dan dihormati banyak orang. Saya masih mengingat salah satu nasihat yang pernah mereka sampaikan, yaitu bahwa kecintaan terhadap Al-Qur’an dapat mengangkat derajat seseorang menjadi lebih mulia.
Nasihat tersebut membuat saya semakin bersemangat untuk terus belajar dan menghafal Al-Qur’an.
Tantangan Menjadi Dokter dan Penghafal Al-Qur’an
Saya menyadari bahwa untuk menjadi dokter sekaligus penghafal Al-Qur’an bukanlah hal yang mudah. Ada banyak tantangan yang harus saya hadapi.
Salah satu tantangan terbesar saya untuk menjadi dokter adalah rasa takut terhadap darah. Ketika melihat darah dalam jumlah banyak, saya sering merasa takut, merinding, bahkan mual. Padahal, dalam pendidikan kedokteran nanti saya akan sering berhadapan dengan kondisi seperti itu.
Namun, apakah saya akan menyerah? Tentu tidak.
Saya akan terus berusaha melatih diri agar lebih berani. Salah satu caranya adalah dengan membiasakan diri melihat proses penyembelihan hewan kurban. Saya bisa memulainya dari menonton video, kemudian melihat secara langsung dari jarak yang cukup jauh, hingga akhirnya mampu melihat dari dekat.
Saya tahu bahwa mengatasi rasa takut membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Namun, saya yakin bahwa dengan usaha, doa, dan pertolongan Allah, saya akan mampu melewatinya.
Sementara itu, tantangan menjadi penghafal Al-Qur’an juga tidak kalah berat. Saya harus melawan rasa malas, menjaga keistiqamahan, mempertahankan semangat, dan yang paling sulit adalah konsisten dalam muraja’ah atau mengulang hafalan.
Meskipun demikian, saya akan terus berusaha menambah hafalan, mengulang hafalan yang sudah dimiliki, serta memohon pertolongan kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam menjaga Al-Qur’an.
Menjalankan Dua Mimpi Sekaligus
Tantangan berikutnya adalah menjalankan kedua cita-cita tersebut secara bersamaan. Saya harus mempelajari ilmu kedokteran sekaligus terus menghafal Al-Qur’an.
Tentu hal itu tidak mudah. Akan ada banyak tugas, tanggung jawab, dan kegiatan yang harus saya jalani. Mungkin saya akan merasa lelah, kurang tidur, atau bahkan kurang sehat karena padatnya aktivitas.
Namun, saya percaya bahwa selama saya memiliki tekad yang kuat, terus berusaha, rajin belajar, dan selalu berdoa kepada Allah, saya akan mampu melewati semua tantangan tersebut.
Berjuang dan berdoa adalah kunci utama. Kita tidak boleh takut gagal. Jika gagal, kita harus bangkit dan mencoba lagi. Keberhasilan tidak datang secara instan, tetapi diperoleh melalui proses, kerja keras, dan kesabaran.
Saya yakin bahwa suatu hari nanti, dengan izin Allah, saya dapat meraih semua cita-cita yang saya impikan.
Apakah Dokter dan Penghafal Al-Qur’an Bisa Berjalan Bersamaan?
Menurut saya, profesi dokter dan penghafal Al-Qur’an sangat mungkin dijalankan secara bersamaan. Memang akan terasa lebih berat dibandingkan hanya memilih salah satunya. Namun, jika dijalani dengan sepenuh hati, ikhlas, dan penuh kesungguhan, semuanya bisa dilakukan.
Lelah tentu akan selalu ada. Akan tetapi, saya yakin bahwa setiap perjuangan yang dilakukan karena Allah akan mendatangkan kemudahan dan keberkahan.
Harapan di Masa Depan
Ketika dewasa nanti, saya ingin menjadi dokter yang memahami ilmu agama sekaligus seorang penghafal Al-Qur’an.
Saat tidak sedang melayani pasien, saya akan terus belajar untuk menambah wawasan dan pengetahuan di bidang kedokteran. Ketika memiliki waktu luang, saya akan memanfaatkannya untuk muraja’ah dan menjaga hafalan Al-Qur’an.
Saya juga ingin menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain, selalu siap membantu mereka yang sakit, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Semoga Allah selalu memudahkan setiap urusan saya, mengabulkan cita-cita saya, serta senantiasa melindungi saya dan keluarga dalam setiap keadaan.
Itulah cerita tentang cita-cita saya untuk menjadi dokter yang handal sekaligus penghafal Al-Qur’an. Saya percaya bahwa dengan kerja keras, doa, dan pertolongan Allah, tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi untuk diraih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.





