Bagaimana jika kesedihan yang kita alami saat ini hanya berakar dari pikiran yang berlebihan? Atau kamu sedang merasa dunia ini hancur se dahsyat-dahsyatnya akibat ulah pemerintah? Jika sedang merasa gundah, galau, pikiran kocar kacir, aku saranin kamu untuk membaca buku anggitan Hanry Manampiring “Filosofi Teras” Begini alasannya;
Fakta menarik buku ini Adalah, membahas tentang filsafat Stoa dengan Bahasa yang sangat renyah dan mudah dipahami. Bertolak belakang dengan Ketika kita mendengar pembahasan mengenai filsafat yang mengawang-ngawang bagi orang awam, kupikir buku ini terlepas dari hal itu. Pembahasan mengacu pada pengolahan psikologi dengan baik, terapi pola pikir otak dikemas dengan cukup detail. Dari berbagai macam permasalahan pemikiran makhluk sosial dan berbagai cara pengendaliannya.
Filsafat Stoa (Stoisisme) merupakan aliran filsafat Yunani Romawi kuno yang pertama kali dicetuskan oleh Zeno dari Citium di Athena. Filsafat ini, berfokus pada pengolahan ketahanan mental dalam menyaring berbagai macam emosi negative yang dialami manusia. Prinsip utama aliran stoa Adalah Dikotomi Kendali. Bahwa, dalam diri manusia terdapat dua jenis kejadian; bisa dikendalikan dan tidak bisa dikendalikan.
Hal-hal yang bisa kita kendalikan Adalah segala sesuatu yang berada di bawah kendali kita seperti pikiran, opini, Tindakan dan respon kita sendiri. Sedangkan yang tak bisa kita kendalikan mengacu pada segala bentuk di luar diri kita seperti cuaca, opini orang lain, masa lalu, masa depan dan Tindakan orang lain pada diri kita. Sehingga, yang perlu kita lakukan sebagai Upaya pengendalian hidup lebih Tenang Adalah fokus terhadap segala sesuatu yang bisa kita kendalikan.
Salah satu gagasan menarik dalam buku Filosofi Teras adalah tentang bagaimana seseorang mengendalikan pola pikir ketika menghadapi komentar atau penilaian dari orang lain. Pertanyaan seperti, “Apakah saya harus menolak atau menerima komentar tentang penampilan dan tingkah laku saya?” menjadi relevan karena dalam kehidupan sehari-hari, pendapat orang lain sering kali memengaruhi cara kita memandang diri sendiri. Tidak jarang komentar tersebut berkembang menjadi dorongan yang membuat seseorang berubah, bahkan hingga mengusik emosi dan ketenangan batin.
Melalui ajaran Stoisisme, Henry Manampiring menjelaskan bahwa kita tidak memiliki kewajiban untuk hidup sesuai dengan harapan orang lain. Ketika menerima komentar atau saran, langkah yang perlu dilakukan bukanlah menolak atau menerimanya secara mentah, melainkan menyaringnya secara rasional: apakah komentar tersebut bermanfaat untuk pengembangan diri atau justru tidak memiliki nilai yang perlu dipertimbangkan. Bahkan, ada kalanya komentar tertentu cukup dianggap sebagai “angin lalu”. Buku ini menegaskan bahwa stres dan emosi negatif bukan muncul dari peristiwa atau ucapan orang lain itu sendiri, melainkan dari penilaian yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut. Dengan memahami prinsip ini, pembaca diajak untuk lebih bijak dalam mengelola emosi dan tidak mudah terombang-ambing oleh penilaian orang lain.
Secara keseluruhan, Filosofi Teras adalah bacaan yang inspiratif karena tidak hanya menawarkan pemahaman filosofis, tetapi juga memberikan panduan praktis untuk membangun ketenangan batin, ketangguhan mental, dan cara berpikir yang lebih rasional dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.





