Perubahan algoritma media sosial yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir membuat strategi membangun konten ikut berubah. Kreator tidak lagi bisa mengandalkan satu format atau mengikuti tren yang sedang viral untuk mempertahankan jangkauan. Di tengah persaingan yang semakin padat, memiliki identitas yang kuat dinilai menjadi salah satu faktor penting agar tetap relevan di mata audiens.
Laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal menunjukkan Indonesia memiliki sekitar 212 juta pengguna internet dan sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial. Besarnya jumlah pengguna tersebut membuka peluang sekaligus meningkatkan persaingan antarkreator dalam menarik perhatian audiens. Di tengah kondisi tersebut, konsistensi dan karakter konten menjadi pembeda yang semakin penting.
Beauty creator Gabriele Kaylaa menilai perubahan algoritma merupakan bagian yang tidak dapat dihindari dalam dunia kreator digital. Menurutnya, tidak ada rumus pasti yang dapat menjamin sebuah konten selalu memperoleh jangkauan tinggi.
“Algoritma media sosial terus berubah sehingga tidak ada satu formula yang selalu berhasil. Yang lebih penting adalah memahami audiens, membuat pembukaan video yang menarik, mempertahankan perhatian penonton, memilih topik yang relevan, dan terus mengevaluasi performa konten,” ujarnya.
Ia mengatakan, tren memang dapat membantu memperluas jangkauan sebuah konten. Namun, kreator tetap membutuhkan identitas yang jelas agar memiliki alasan bagi audiens untuk terus mengikuti karya-karyanya meskipun tren terus berganti.
“Tren dapat membantu jangkauan, tetapi identitas dan konsistensi tetap dibutuhkan agar audiens mempunyai alasan untuk terus mengikuti seorang kreator,” katanya.
Gabriele yang dikenal melalui konten beauty dan lifestyle di TikTok maupun Instagram mengaku sejak awal memilih membangun karakter visual yang kuat dengan gaya penyampaian yang sederhana dan mudah dipahami. Menurutnya, personal branding tidak dibangun dengan menciptakan sosok baru, melainkan memperkuat karakter asli yang dimiliki seseorang.
“Personal branding bagi saya adalah bagaimana seseorang dikenal, diingat, dan dipercaya oleh audiens. Bukan sekadar tampilan visual, tetapi juga karakter, cara berkomunikasi, nilai yang dibawa, hingga konsistensi dalam berkarya,” ujarnya.
Saat ini akun TikTok @gabrielekaylaa memiliki sekitar 2 juta pengikut, lebih dari 19 juta tanda suka, serta mencatat lebih dari 33 juta tayangan sepanjang 2026. Salah satu video yang diunggahnya bahkan telah memperoleh sekitar 18 juta penayangan.
Menurut Gabriele, perubahan perilaku audiens juga membuat kreator perlu menghadirkan konten yang lebih jujur dan relevan. Khusus untuk konten beauty, pengguna media sosial kini tidak hanya ingin melihat hasil akhir, tetapi juga pengalaman penggunaan produk yang nyata.

“Review jujur tetap sangat penting karena kepercayaan merupakan salah satu modal terbesar seorang content creator. Kerja sama dengan brand tetap dapat dilakukan secara profesional tanpa menghilangkan tanggung jawab kepada audiens,” katanya.
Selain mengikuti perkembangan algoritma, ia juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari ide kreatif. Namun menurutnya, teknologi tersebut tidak dapat menggantikan pengalaman pribadi maupun hubungan yang dibangun kreator dengan audiens.
“AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan untuk menghilangkan identitas asli kreator,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan kreator pemula agar tidak terlalu terpaku mengejar viralitas. Menurutnya, terlalu sering meniru kreator lain, kehilangan identitas, serta hanya berfokus pada jumlah followers justru menjadi kesalahan yang paling sering menghambat perkembangan seorang kreator.
“Personal branding dibangun dalam waktu yang panjang, tetapi bisa rusak apabila kita tidak menjaga kepercayaan audiens. Karena itu, identitas dan konsistensi harus tetap menjadi fondasi dalam berkarya,” tutupnya.





