Kamar biruku menjadi saksi setiap mimpi dan cita-citaku. Setiap malam, aku selalu memikirkan masa depanku. Kamarku memang tidak luas, tetapi mampu menampung segala inspirasi yang tumbuh dalam benakku. Boneka-boneka lucu yang menghiasi kamarku pun menjadi saksi perjalanan seorang gadis berusia 11 tahun yang sedang merajut impian.

Namaku Yumna. Saat ini, aku duduk di bangku kelas 5 SD. Sejak kecil, tepatnya sejak usia lima tahun, aku sudah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dosen yang cantik dan pintar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ayahku adalah inspirasiku. Karena itulah aku ingin menjadi seperti Ayah. Beliau adalah seorang dosen yang berdedikasi. Ayah pernah bercerita bahwa ketika seusiaku, beliau juga bercita-cita menjadi dosen. Sejak saat itu, Ayah selalu menjadi pendukung terbesar dalam setiap mimpiku. Beliau selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik darinya.

Suatu hari, Ayah mengajakku ke kampus tempat beliau mengajar. Di sana, aku bertemu dengan para mahasiswa yang diajarnya. Diam-diam, aku mengintip dari luar ruangan saat Ayah sedang mengajar. Ternyata, mengajar itu sangat menyenangkan. Sejak saat itu, aku semakin mantap untuk menjadi seorang dosen.

Sepulang dari kampus, aku langsung berkata kepada Ibu bahwa aku ingin menjadi seperti Ayah. Sejak saat itu pula, aku semakin rajin belajar agar bisa pintar seperti beliau. Mimpiku menjadi dosen membuatku gemar membaca, menulis, dan mengikuti berbagai lomba yang melatih keberanianku untuk tampil di depan banyak orang.

Di rumah, aku sering berpura-pura menjadi dosen kecil dengan mengajari adikku. Namun, mengajari adik ternyata membutuhkan kesabaran yang besar.

“Adik!” teriakku.

Adikku malah tertawa lalu berkata, “Kakak, kalau jadi dosen tidak boleh galak-galak.”

Mendengar itu, aku pun ikut tertawa. Tidak lama kemudian, Ibu datang membantu mengajari adikku. Suasana belajar pun menjadi lebih tenang dan adikku mulai serius memperhatikan pelajaran.

“Krreeek… krreeek…”

Terdengar suara pintu terbuka. Kami menoleh ke arah pintu, dan ternyata Ayah sudah pulang. Aku segera menghampirinya dan bercerita bahwa aku sedang menjadi dosen kecil untuk adikku.

Ayah meletakkan tasnya lalu duduk bersama kami. Dengan senyum hangat, beliau berkata,

“Yumna, menjadi dosen adalah cita-cita yang mulia. Ilmu yang kamu miliki nantinya akan bermanfaat bagi banyak orang. Ayah dan Ibu akan selalu mendukung agar semua mimpimu tercapai.”

Mendengar perkataan Ayah, hatiku terasa hangat dan bahagia. Kami pun saling berpelukan dengan penuh kasih sayang.

Kini, aku semakin yakin untuk meraih cita-citaku. Aku percaya bahwa dengan belajar sungguh-sungguh, berdoa, dan pantang menyerah, suatu hari nanti aku bisa menjadi dosen yang membanggakan keluarga serta bermanfaat bagi banyak orang.

___________

*) Penulis adalah Adzkia Yumna Athaya, Siswa SDIT Al Hidayah Islamic School.