Analisa, Inspirasi – Pengasuh Pondok Pesantren Banyuanyar, RKH Muhammad Hasbullah Muhammad Syamsul Arifin, menyampaikan tausiyah tentang keutamaan dzikir dan kemuliaan membaca Al-Qur’an saat mengisi Pengajian Umum dalam rangkaian acara Walimatul Ursy. Tausiyah tersebut terekam dan dipublikasikan melalui kanal YouTube @irfanmultimedia.
RKH Muhammad Hasbullah Muhammad Syamsul Arifin merupakan putra dari almarhum RKH Muhammad Syamsul Arifin, kiai yang dikenal waro’ dan karismatik. Ia melanjutkan kepemimpinan Pondok Pesantren Banyuanyar setelah RKH Muhammad Syamsul Arifin wafat pada Kamis, 1 Juli 2021.
Pondok Pesantren Banyuanyar sendiri merupakan salah satu pesantren tertua di Pulau Madura dan Indonesia. Pesantren ini berlokasi di Desa Potoan Dajah, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Madura.
Dalam tausiyahnya, RKH Muhammad Hasbullah menyampaikan bahwa dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an.
“Afdzalu dzikir adalah tilawatil Qur’an. Suatu waktu saya berbicara dengan abah tentang membaca Al-Qur’an,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca bernilai satu kebaikan dan setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.
“Kemuliaan Al-Qur’an dari huruf per huruf ditulis dengan satu kebaikan, dan setiap kebaikan ditambah sepuluh kebaikan. Alif lam mim itu hanya terdiri dari tiga huruf, dan dari tiga huruf itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan,” tuturnya.
Ia kemudian menyampaikan bahwa Al-Qur’an terdiri dari 30 juz dengan jumlah huruf yang sangat banyak, sehingga nilai pahala membacanya tidak terhitung.
“Coba dihitung dari tiga huruf dikalikan menjadi sepuluh kebaikan, sedangkan Al-Qur’an terdiri dari 30 juz yang kita sendiri tidak menghitung dari banyaknya huruf. Yakin apa enggak?” katanya kepada jamaah.
RKH Muhammad Hasbullah juga mengajak jamaah membayangkan pahala yang diperoleh ketika membaca surat Yasin.
“Coba bayangkan ketika jenengan semua membaca surat Yasin, dari banyaknya huruf yang dibaca, lalu berapa kebaikan yang akan didapatkan. Sangat banyak fadhilahnya. Yakin apa tidak?” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa dirinya sendiri belum pernah menghitung secara rinci jumlah pahala dari huruf-huruf Al-Qur’an yang dibaca.
“Saya sendiri belum sempat menghitung dari banyaknya huruf yang tertulis indah di dalam Al-Qur’an,” sambungnya.
Selain itu, ia menyampaikan keutamaan membaca surat Al-Ikhlas.
“Ketika kita membaca surat Al-Ikhlas satu kali saja, pahalanya sama halnya membaca separuh Al-Qur’an. Apalagi membaca tiga kali, pahalanya sama halnya kita khatam Al-Qur’an,” jelasnya.
Menurutnya, membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang melibatkan hati dan lisan, yang idealnya dilakukan dengan ikhlas dan khusyuk.
“Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang kita lakukan melalui hati dan lisan. Dengan membersamakan hati dan lisan dengan penuh ikhlas dan khusyuk, itu yang paling bagus. Atau jika merasa kesulitan, cukup membaca menggunakan hati,” katanya.
Ia menegaskan bahwa semakin sering seseorang membaca Al-Qur’an dan berdzikir, maka semakin baik diri seseorang dan semakin jauh dari perbuatan yang buruk.
“Dzikir bil qalbi dan dzikir bil lisan. Apalagi jika kita mengetahui maknanya, karena dari sanalah kita banyak belajar dan tahu tentang kisah serta petunjuk hidup yang jelas,” ujarnya.
Menutup tausiyahnya, RKH Muhammad Hasbullah mengajak jamaah untuk senantiasa berdzikir kepada Allah, memperbanyak doa, serta melaksanakan kewajiban ibadah dengan istiqamah dan tumakninah.





