Jakarta— Di tengah nilai tukar rupiah yang masih berada di level lemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad justru mengimbau masyarakat untuk menukarkan simpanan dolar mereka ke rupiah. Pernyataan itu memicu sorotan karena disampaikan saat kurs rupiah masih berkutat di kisaran Rp17.900 per dolar AS.
Dasco menyebut pemerintah telah menyiapkan strategi khusus yang diyakini mampu memperkuat rupiah dalam waktu dekat. Karena itu, ia meminta masyarakat mempertimbangkan untuk melepas dolar AS sebelum nilai mata uang Garuda kembali menguat.
“Karena kalau kemudian sudah minggu depan nilai rupiah menguat, kan kasihan kalau simpan-simpan dolar. Itu imbauan saya sih demikian,” kata Dasco di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis.
Pernyataan tersebut langsung mengundang perhatian publik. Pasalnya, dolar AS sebelumnya sempat menyentuh level psikologis Rp18.000, sementara penguatan rupiah yang terjadi belakangan masih tergolong tipis dan belum sepenuhnya stabil.
Dasco optimistis arah pergerakan rupiah akan membaik seiring langkah-langkah strategis pemerintah. Meski demikian, ia belum mengungkap secara rinci kebijakan apa yang akan ditempuh untuk menopang penguatan mata uang nasional.
“Dalam minggu ini dan ke depan ada strategi-strategi khusus yang akan dilakukan oleh pemerintah, yang saya yakini akan membuat nilai tukar rupiah menguat,” ujarnya.
Selain rupiah, Dasco juga mengaitkan penguatan pasar saham nasional dengan meningkatnya kepercayaan terhadap pemerintah. Menurut dia, kondisi tersebut ikut memberikan sentimen positif terhadap pasar keuangan domestik, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Namun, sejumlah kalangan menilai penguatan kurs tidak cukup bergantung pada optimisme pejabat. Stabilitas rupiah tetap sangat dipengaruhi kondisi global, arah kebijakan suku bunga AS, harga komoditas, hingga kondisi fiskal dalam negeri.
Berdasarkan data perdagangan Kamis pagi, rupiah tercatat menguat tipis tiga poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.941 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.944 per dolar AS. Kendati bergerak positif, posisi tersebut masih menunjukkan tekanan yang cukup besar terhadap mata uang domestik.
Sementara itu, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai penguatan rupiah belakangan lebih dipengaruhi membaiknya persepsi terhadap prospek fiskal Indonesia. Menurutnya, kekhawatiran pasar mulai mereda setelah harga minyak global mengalami pelemahan dan pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax.
“Kekhawatiran terhadap prospek fiskal Indonesia mereda seiring pelemahan harga minyak global, sementara keputusan pemerintah untuk melakukan penyesuaian harga BBM Pertamax turut mengurangi tekanan terhadap keseimbangan fiskal,” ujarnya.
Perkembangan itu dinilai memperkuat ekspektasi bahwa defisit fiskal Indonesia dapat lebih terkendali. Dampaknya, sentimen terhadap rupiah dan pasar obligasi domestik ikut membaik.
Meski demikian, imbauan menukarkan dolar di tengah kurs rupiah yang belum sepenuhnya pulih tetap menyisakan tanda tanya. Publik kini menanti apakah optimisme pemerintah benar-benar akan berbuah penguatan rupiah dalam waktu dekat, atau justru menjadi pernyataan yang terlalu dini.





