Di laut Madura, jauh dari riuh daratan, deru mesin anjungan migas terdengar seperti napas panjang yang tak pernah menyentuh maut.
Di bawah permukaan air yang tenang, tersimpan lapisan demi lapisan energi—minyak dan gas bumi—yang selama bertahun-tahun mengalir, menghidupi kota-kota megah di Jawa Timur.
Melihat kekayaan itu bekerja
Setiap hari, energi dari perairan Madura bergerak menuju Surabaya, dan kawasan industri lain. Ia menyalakan lampu-lampu kota, menggerakkan mesin pabrik, dan menjaga roda ekonomi tetap berputar. Madura, dengan segala yang tersimpan di perut buminya, telah lama menjadi salah satu penopang penting. Tercatat, Madura merupakan wilayah penopang produksi migas Jawa Timur, menyumbang sekitar 70% produksi di wilayah ini.
Baru-baru ini, di tahun 2026 perusahaan energi asal Malaysia, Petronas, kembali menemukan cadangan hidrokarbon baru di sumur eksplorasi Barokah-1, wilayah kerja North Ketapang. Temuan ini seperti membuka lembar baru dari kisah lama: bahwa laut Madura masih menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tergali.
Jika dilihat dari peta energi, Sumenep berdiri sebagai pusatnya. Di wilayah inilah blok-blok besar seperti Kangean dan Madura Strait beroperasi, menjadikannya semacam “jantung” yang memompa energi keluar dari Madura.
Di sisi lain, Bangkalan menjaga aliran dari barat melalui West Madura Offshore, sementara Sampang menjadi penghubung lama yang setia memasok kebutuhan pembangkit listrik.
Semua terlihat utuh. Semua tampak berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, ketika kita beranjak dari laut ke daratan, suasana berubah perlahan.
Di desa-desa Madura, kehidupan berjalan dengan ritme yang berbeda. Jalan-jalan kecil, ladang yang mengering saat kemarau, dan peluang kerja yang terbatas menjadi bagian dari keseharian. Kekayaan yang begitu dekat secara geografis, justru terasa jauh dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang warga dihantui rasa khawatir kehabisan tabung gas untuk menopang kehidupan sehari-hari.
Data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur tahun 2025 mencatat sesuatu yang sulit untuk diabaikan. Kabupaten Sampang, Bangkalan, dan Sumenep—tiga wilayah yang berada di jantung kekayaan migas—justru masuk dalam daftar daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Timur. Angkanya bukan kecil: Sampang 20,61 persen, Bangkalan 18,25 persen, dan Sumenep 17,02 persen. Pamekasan pun masih bertahan di angka dua digit.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah potret kehidupan: tentang keluarga yang harus berhemat setiap hari, tentang anak muda yang mencari pekerjaan ke luar daerah, tentang harapan yang tumbuh, tapi sering kali berjalan pelan.
Paradoks itu terasa begitu nyata. Di satu sisi, Madura adalah penyedia energi—sebuah wilayah yang memberi terang bagi banyak tempat. Di sisi lain, sebagian masyarakatnya masih hidup dalam bayang-bayang keterbatasan.
Selama lebih dari satu dekade, kondisi ini seperti berulang. Kekayaan alam tetap ada. Produksi energi terus berjalan. Namun, pertanyaan yang sama terus menggantung di udara: mengapa jarak antara potensi dan kesejahteraan terasa begitu jauh?
Mungkin jawabannya tidak sederhana. Ia berlapis—tentang infrastruktur, distribusi ekonomi, kebijakan, hingga akses terhadap peluang. Tapi satu hal yang pasti, cerita tentang Madura bukan hanya soal energi yang diambil dari bumi, melainkan juga tentang kehidupan yang tumbuh di atasnya.
Sebaran minyak dan gas bumi (migas) di Madura didominasi wilayah lepas pantai (offshore), dengan distribusi utama sebagai berikut:
1. Sumenep (terkaya)
Menjadi pusat cadangan terbesar. Di wilayah ini terdapat Blok Kangean yang dikelola Kangean Energy serta Blok Madura Strait yang dioperasikan HCML.
2. Bangkalan
Berfokus di kawasan barat Madura. Aktivitas produksi dikelola oleh PHE West Madura Offshore (WMO) dan berperan penting dalam memasok energi bagi kawasan Surabaya–Gresik.
3. Sampang
Merupakan kontributor lama melalui Blok Sampang yang dikelola Medco dan Santos, dengan pasokan utama untuk PLTGU Grati.
4. Pamekasan
Berfungsi sebagai wilayah eksplorasi sekaligus jalur perlintasan pipa strategis yang menghubungkan blok Sampang dan Sumenep.





