Di tahun ketika kampus-kampus dikunci pandemi, ketika ruang kuliah menjelma layar empat inci dan kesunyian mengalir sampai ke halaman asrama, dua nama perlahan bertaut di sela kekosongan itu: Siti dan Fahruz.
Mereka datang dari ruang perekrutan organisasi kemahasiswaan daerah sebuah forum yang biasanya penuh formalitas, tapi justru memantik sesuatu yang lebih personal. Awalnya, percakapan hanya sekadar basa-basi lewat WhatsApp. Tetapi waktu yang lengang di era COVID-19 membuat pesan-pesan biasa berubah menjadi percakapan panjang, dan percakapan panjang berubah menjadi kebiasaan yang mereka nanti.
Di rapat-rapat organisasi, keduanya seperti bayang yang saling mengikuti. Orang bilang itu kebetulan. Teman-temannya bilang itu kecocokan. Tapi bagi Fahruz, ada sesuatu yang lebih besar dari itu sesuatu yang ia simpan rapat, demi persahabatan yang ia anggap terlalu berharga untuk dipertaruhkan.
“Aku tak tahu dari mana rasa ini berlabuh,” gumamnya suatu malam, “tapi sudah lama aku menutupinya.”
Pada sebuah pertemuan mingguan organisasi, dua kawan karib Khair dan Badrus mengendus gelagat itu. Mereka bukan tipe analis asmara, tapi melihat dua anak muda yang tak pernah tak bersama, membuat mereka geli sendiri.
“Siti, kamu peka nggak sih?” tanya Khair ketika mereka menarik Siti duduk di warung kopi.
“Peka apanya? Kita sahabatan, bukan lebih.”
Badrus tertawa seperti orang yang tahu rahasia besar.
“Lho Siti… beda lho sikap teman ke teman, sama sikap orang ke pacar.”
Candaannya jatuh seperti batu kecil ke permukaan air membuat riak, tapi tak langsung tenggelam.
Siti terperanjat. “Ah masa?”
“Ya sudah, kita lihat saja nanti,” ujar Khair sambil menyeringai.
Persis saat itu, langkah Fahruz terdengar mendekat.
“Yok, aku anterin. Udah malam,” katanya datar, seolah angin tak pernah membawa rumor apa pun ke telinganya.
Khair dan Badrus hanya saling pandang tertawa kecil seperti penonton yang sudah tahu kelanjutan sebuah adegan drama.
Sebulan kemudian, rahasia itu menjadi beban. Setiap malam, perasaan yang disembunyikan Fahruz seperti penyakit yang tak diberi obat. Dan seperti biasa, dua sahabatnya menjadi orang pertama yang membaca gejala itu.
“Rus, jangan lama-lama. Itu menyiksa,” kata Badrus sambil menepuk bahunya.
“Tak ada salahnya jujur,” timpal Khair.
Tapi bagi Fahruz, kejujuran adalah pintu yang mungkin membuka kehilangan.
Dua hari setelahnya, ia berdiri di depan Siti. Tangan gemetar, napas tercekat.
“Kamu kenapa? Kok nggak seperti biasanya?” tanya Siti.
Fahruz menarik nafas pendek, lalu panjang sekali.
“Aku… nggak tau mulai dari mana. Tapi aku suka sama kamu, Siti. Udah lama. Aku cuma takut kamu berubah kalau tahu.”
Siti terdiam. Kata-kata seperti tertahan di ujung lidah.
“Aku nggak nuntut apa-apa kok,” lanjutnya. “Aku cuma mau kamu tahu.”
Siti akhirnya bersuara pelan, nyaris seperti bisikan.
“Nggak ada yang salah sama perasaan. Tapi… aku belum mau ke situ. Lebih baik kita berteman. Kita fokus saja sama kuliah.”
Dan malam itu, di antara dua manusia yang saling menghargai, kejujuran justru membuat jarak baru. Kehangatan yang dulu cair, kini membeku di udara.
Empat bulan berlalu. Rasa yang ditolak tak benar-benar hilang ia hanya mencari bentuk lain. Di saat yang sama, kabar baru menyelinap masuk.
Seorang teman organisasi mempublikasikan foto Siti dengan seorang mahasiswa bernama Barok. Foto itu romantis, akrab, tanpa jarak, menghentak Fahruz lebih keras dari penolakan apa pun. Ia tahu Siti selalu menjaga jarak dari laki-laki, tak mudah bersalaman, tak suka bersentuhan, bahkan saat boncengan ia selalu memisahkan diri dengan tas sebagai batas. Ia lahir dari keluarga yang membesarkan kehati-hatian.
Namun dalam foto itu, kehati-hatian lenyap seolah tak pernah ada.
Khair dan Badrus melihat perubahan itu pada diri Fahruz tatapan yang mengabut, tawa yang dipaksakan, dan cara ia menatap tanah terlalu sering. Setiap malam, Siti dan Barok datang ke tongkrongan tertawa, bercanda, duduk terlalu dekat dan Fahruz memilih mengunci luka itu dalam dada.
Orang patah hati, kata mereka, punya dua pilihan: hancur, atau berubah.
Fahruz memilih yang kedua.
Ia sibukkan dirinya. Ia menulis. Kalimat demi kalimat, seperti memungut kaca yang berserakan di dadanya sendiri.
Dalam sebulan, naskah itu selesai. Dalam waktu singkat pula, organisasi memberikan apresiasi sadar bahwa tulisan itu sebentuk keberanian untuk merelakan.
“Benar kata Khair,” katanya sambil tertawa getir,
“orang yang mau jadi sastrawan cukup dipertemukan dengan patah hati.”
Hidup, bagaimanapun, memiliki cara untuk mengembalikan keadilan yang tak diminta.
Beberapa pekan setelah buku Fahruz terbit, kabar lain menyebar: Barok ketahuan selingkuh dengan beberapa perempuan.
Cerita yang rumit ini ternyata tak pernah berjalan lurus. Ia melingkar, memutar, lalu jatuh pada simpul-simpul yang tak pernah diduga.
Siti terluka. Barok terbongkar.
Dan Fahruz dengan sisa rasa yang telah ia kubur hati-hati sudah menemukan dunia baru. Dunia yang tak lagi memusingkan tentang siapa memilih siapa, tetapi dunia yang memulihkan dirinya pelan-pelan.
Akhirnya hidup mengajari mereka satu hal. Tak semua yang kita jaga, kembali.
Tak semua yang kita tunggu, datang dan tak semua cinta harus dimiliki untuk menjadi bermakna. Kadang, perjalanan justru bermula dari yang tak pernah berhasil kita genggam.




