Analisa, Pamekasan – Setelah viralnya temuan menu buah berulat dalam program Makan Bergizi (MBG) di Desa Lesong Daya, gelombang kekecewaan dari wali murid terus bermunculan.

Selain menyoroti kualitas menu yang dinilai belum konsisten, wali murid juga mempertanyakan keterbukaan pihak penyelenggara dalam menerima kritik dari masyarakat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kekecewaan tersebut muncul karena persoalan yang sama disebut terjadi berulang, meski sempat ada perbaikan di beberapa menu.


“Sekalipun ada sedikit perbaikan di menu, kami tetap trauma sebagai masyarakat, satgas tolong di sidak disuspend kalo perlu, padahal dari postingan kami ditiktok yang lele kriting sudah beredar, dan sppg ini terus mengulangi kesalahannya, susunya kadar bahkan berulangkali sajikan menu tak layak,” ucap wali murid yang enggan disebut namanya, pada Kamis (30/4), saat melaporkan kepada Jurnalis Analisa.co.

Selain itu, ia juga menyoroti terbatasnya ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pihak SPPG.


“Kami sendiri kewalahan menyampaikan kritik, karena untuk medianya SPPG sendiri menutup komentar dihampir semua postingan, jelas kami kebingungan untuk menyampaikan kritik dan saran,” lanjutnya, pada Kamis (30/4), saat melaporkan kepada Jurnalis Analisa.co.

Di tengah keterbatasan akses tersebut, sejumlah warga mencoba menyampaikan keluhan melalui media sosial, khususnya pada unggahan akun TikTok @sppg.lesongdaya

Berbagai komentar muncul, mencerminkan kritik terhadap kualitas makanan yang disajikan kepada siswa.

@nurullaii2: “jangan tutup komentar di setiap VT karena itu masukan”

@atiyah sholihah: “sudah tidak tahu MW bagaimana dengan dapur MBG satu ini dari buah salak jeruk yg kecil kecut dan hari ini kelengkeng yg semuanya hampir busuk…”

@Story.ofm3: “kalau mau tutup komentar semua VT lah jgn setengah-setengah”

@prasetyo88: “lebih di perbaiki lagi bos masakannya telurnya banyak yg bau, lebih kreatif lagi klo masak anak anak banyak gak suka”

Hingga kini, keluhan yang terus bermunculan menandakan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kualitas bahan baku, pengolahan, serta distribusi makanan dalam program MBG. Selain itu, keterbukaan terhadap kritik dari masyarakat dinilai penting agar perbaikan dapat dilakukan secara berkelanjutan.