Analisa, Jakarta – Isu bahwa Nostradamus meramalkan perang antara Indonesia dan Australia pada tahun 2037 kembali ramai diperbincangkan. Klaim ini terutama berakar dari tafsiran ulang terhadap naskah ramalan Nostradamus oleh penulis Inggris, Mario Reading.
Namun, sejumlah pakar dan sumber kredibel menyatakan bahwa ramalan semacam itu bukanlah pernyataan langsung dari Nostradamus, ia merupakan hasil interpretasi subjektif.
Nostradamus, seorang peramal asal Prancis abad ke-16, menulis buku berjudul Les Propheties yang diterbitkan pertama kali pada 1555. Buku ini berisi 942 kuatrain (bait puitis).
Tafsiran soal perang Indonesia – Australia muncul dari penulis Mario Reading dalam bukunya Nostradamus: The Complete Prophecies for the Future.
Reading mengambil satu kuatrain Nostradamus:
“Ung peu devant que le soleil s’esconse / Conflict donne, grand peuple dubieux: / Profliges, port marin ne faict responce, / Pont & sepulchre en deux estranges lieux.”
Dari kuatrain tersebut, Reading menafsirkan beberapa poin sebagai berikut:Frasa le soleil s’esconse (“saat matahari tersembunyi”) diartikan sebagai gerhana matahari.
Grand peuple dubieux (“orang-orang ragu/tidak beriman”) diasosiasikan Reading dengan warga Australia karena visinya tentang sekularisme.
“Port marin ne faict responce” (“pelabuhan laut tak memberi respons”) ditafsirkan sebagai pelabuhan yang tidak mampu menahan serangan.
“Pont & sepulchre … deux estranges lieux” (“jembatan dan makam di dua tempat asing”) dikaitkan oleh Reading dengan kota Surabaya, yang menurut dia memiliki Tugu Pahlawan (monumen) dan pelabuhan.
Untuk menjustifikasi tahun 2037, Reading merujuk pada prediksi gerhana matahari total. Menurut analisis dia, gerhana ini akan terjadi pada tahun tersebut.
Faktanya, memang akan ada gerhana matahari total pada 13 Juli 2037. Namun, interpretasi bahwa kuatrain Nostradamus menunjuk langsung pada tahun ini adalah hasil tafsiran Reading, bukan pernyataan eksplisit dari Nostradamus.
Beberapa media dan pengamat menilai tafsiran Reading sebagai cocoklogi atau interpretasi berlebihan (overinterpretation).
Nostradamus tidak pernah menyebut “Indonesia” ataupun “Australia” dalam teks asli Les Propheties. Nama-nama tersebut adalah hasil deduksi Reading, bukan terminologi asli dari Nostradamus.
Pemilihan Surabaya oleh Reading juga dipertanyakan, alasan dia menautkan kuatrain dengan Surabaya (karena Tugu Pahlawan dan pelabuhan) menurut pengkritik tidak memiliki dasar kuat dari teks Nostradamus.
Paranormal Hard Gumay menyebut ramalan tersebut dalam podcast bersama Denny Sumargo. Menurut Gumay, konflik semacam itu “akan terjadi”.
Namun, klaim perang fisik besar skala nasional tidak didukung rujukan sejarah atau dokumen militer nyata. Klaim seperti ini lebih bersifat spekulatif dan konspiratif daripada berbasis bukti konkret.
Teks Nostradamus tidak menyebut nama negara atau tahun secara eksplisit. Interpretasi “Indonesia vs Australia 2037” berasal dari Mario Reading, bukan Nostradamus.
Gerhana matahari total pada 13 Juli 2037 memang akan terjadi menurut astronomi. Namun, mengaitkannya dengan kuatrain Nostradamus adalah pilihan interpretasi Reading.
Karena tafsiran sangat subyektif dan tidak didukung oleh teks eksplisit dari Nostradamus, klaim perang 2037 lebih cocok dianggap sebagai spekulasi daripada ramalan pasti.





