Di balik rimbunnya pepohonan dan sunyinya kawasan makam tua di Madura, tersimpan kisah cinta yang dipercaya mampu menembus batas zaman. Bukan gembok besi seperti di kota-kota Eropa, melainkan batang-batang bambu yang dipenuhi ukiran nama pasangan menjadi saksi harapan banyak orang akan cinta yang abadi. Tradisi unik ini hidup di tengah masyarakat Desa Montok, Kabupaten Pamekasan, berpadu dengan legenda Joko Tarub dan bidadari kayangan yang hingga kini terus dipercaya dan dilestarikan.
Indonesia memang kaya akan legenda dan kepercayaan masyarakat terhadap benda-benda alam yang dianggap memiliki nilai spiritual. Salah satunya adalah kepercayaan terhadap pepohonan keramat. Di Madura, terdapat bambu yang diyakini mampu mengikat dan melanggengkan hubungan asmara, yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai bambu cinta.
Bambu cinta ini berada di Desa Montok, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan. Lokasinya tidak jauh dari makam Ki Ageng Joko Tarub, tokoh yang dipercaya sebagai leluhur Dinasti Mataram. Para peziarah yang datang ke makam tersebut kerap menyempatkan diri mengukir nama mereka bersama pasangan pada batang-batang bambu yang tumbuh di sekitar area pemakaman.
Masyarakat meyakini, mengukir nama di bambu cinta dapat mempererat hubungan dan mempermudah jodoh. Tak heran jika ratusan batang bambu di kawasan itu dipenuhi ukiran nama pasangan dari berbagai daerah.
Warga setempat, Muhammad, menyebut bambu cinta dengan nama perrèng sojjin. Kepercayaan terhadap perrèng sojjin ini telah diwariskan secara turun-temurun selama puluhan tahun. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, bambu tersebut merupakan peninggalan Ki Ageng Joko Tarub.
Konon, bambu itu tidak ditanam sebagaimana bambu pada umumnya. Dikisahkan, Ki Ageng Joko Tarub hanya menancapkan tusuk sate ke tanah, yang kemudian tumbuh menjadi bambu besar dan menaungi area pemakaman. Karena itulah bambu tersebut disebut perrèng sojjin.

“Banyak yang datang dari luar Madura, seperti dari Bondowoso dan Probolinggo. Mereka percaya bambu ini bisa mengikat kasih,” ujar Muhammad.
Untuk mendapatkan hajatnya, pengunjung diyakini harus memiliki niat yang sungguh-sungguh dan tujuan yang baik. Masyarakat setempat percaya bahwa ketulusan niat menjadi kunci utama dalam ritual tersebut.
Di sekitar area pemakaman, terdapat pula sebuah bangunan tua yang di dalamnya terdapat empat makam. Pada batu nisan tertulis nama Dewi Nawang Sasih, Raden Arjo Bondan Kejawen, Nawang Sari, dan Nawang Wulan. Di dalam bangunan tersebut juga tersimpan selendang dengan beragam motif warna yang dipercaya sebagai milik Dewi Nawang Wulan.
Juru kunci makam, Adi Krisno, menceritakan legenda Joko Tarub yang datang ke Pulau Madura bersama ayahnya, Syekh Maulana Maghribi, untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Pamekasan. Dalam perjalanannya, Joko Tarub melihat sejumlah bidadari dari kayangan yang sedang mandi di sebuah tempat yang dikenal sebagai Taman.
Singkat cerita, Joko Tarub menyembunyikan selendang milik salah satu bidadari bernama Dewi Nawang Wulan, sehingga sang bidadari tidak dapat kembali ke kayangan. Joko Tarub kemudian menikahi Dewi Nawang Wulan, dan dari pernikahan tersebut lahir seorang anak perempuan bernama Dewi Nawang Sasi, yang juga dikenal sebagai Bujangga Anom.
Hingga kini, kisah Joko Tarub, Dewi Nawang Wulan, dan bambu cinta di Desa Montok terus hidup dalam ingatan masyarakat. Tradisi mengukir nama di perrèng sojjin pun tetap dilestarikan, menjadi simbol harapan, keyakinan, dan doa bagi mereka yang mendambakan cinta yang langgeng.





