Cuaca sudah tak lagi bisa diramal. Angin datang silih berganti, tak tentu arah, dan kerap kali tidak berada dalam poros waktu yang sama. Dalam beberapa pekan terakhir, slabung panceng (angin kencang dari timur) kerap menyapu laut utara Madura. Para nelayan di pesisir Pamekasan pun dibuat gelisah. Kadang perahu mereka bisa melaut, kadang harus istirahat berhari-hari di bibir pantai.
“Sekarang susah, anginnya tidak menentu,” ujar Tasim (50), nelayan asal Desa Bandaran, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, saat ditemui di teras rumahnya, Selasa siang, 19 Agustus 2025.
Tasim sudah puluhan tahun melaut, namun belakangan ia mengaku sulit membaca tanda alam. Dulu, ia bisa menebak arah angin dari bentuk awan dan gelombang. Kini, langit seperti punya kehendaknya sendiri.
“Kalau sudah ada ondem petteng (awan hitam pekat) dan angin besar, itu pertanda slabung datang,” katanya.
Biasanya, puncak angin datang antara Oktober hingga Desember. Namun, beberapa tahun terakhir, pola itu bergeser. Kadang slabung datang lebih awal, kadang justru berkepanjangan.
Tak hanya slabung panceng, Tasim juga mewaspadai angin yang berembus dari selatan. Saat itu terjadi, ombak bisa menggulung tinggi dan air laut merangsek ke daratan. Kalau sudah begitu, niat berlayar harus diurungkan. Ia menyebutnya angin ghendhing.
“Tahun 2024 kemarin pernah kejadian, sekitar 20 perahu di sini karam. Bahkan sampai terseret ke Desa Keramat, di sebelah timur ini,” katanya, mengingat laut yang murka.
Biasanya, Tasim berangkat melaut di siang yang panas sekitar pukul 13.00 dan kembali menepi ke daratan pada pagi hari sekitar pukul 06.00–07.00. Namun jika cuaca buruk, ia terpaksa melepas rutinitas melautnya itu.
“Kadang saya juga tidak ikut berlayar meski teman-teman mengajak, nyali tidak cukup menghadapi angin besar,” ceritanya.
Informasi soal cuaca kerap ia dapat dari berbagai sumber. Kadang dari tetangga sesama nelayan, kadang dari anaknya yang bisa membuka prakiraan cuaca lewat ponsel. Sesekali pula dari teman yang baru pulang melaut dan membawa kabar tentang arah angin atau tinggi gelombang.
Sebelum berangkat, Tasim dan nelayan lain biasanya berkumpul di kobhung—tempat nongkrong sederhana di dekat pantai. Di sanalah mereka saling bertukar kabar, menimbang-nimbang tanda alam, dan memutuskan apakah hari itu laut bisa “ditempuh” atau sebaiknya ditunda.
Di pesisir lain, sekitar dua jam perjalanan dari Bandaran, cerita berbeda datang dari Sumadi (63), nelayan asal Desa Tambaan, Kecamatan Camplong, Sampang. Bagi Sumadi, cuaca bukan hanya kendala, tapi juga tantangan.
Menurut dia, dalam beberapa waktu terakhir cuaca sering buruk sehingga ia lebih banyak tidak melaut. Perubahan iklim membuat musim sulit diprediksi. Biasanya Maret hingga September tidak turun hujan, tetapi sekarang masih sering hujan. Pola peralihan musim pun sudah tidak menentu. Sebagai seorang nelayan informasi soal cuaca terus ia perbarui, baik dari pengamatannya sendiri atau dari group sosial media antar nelayan.
“Di wilayah sini ada komunitas nelayan, walaupun tidak ada nama resminya. Kami biasanya saling memberi informasi cuaca lewat grup WA bernama Komunitas Nelayan Pesisir. Ada rekan yang mendapat informasi dari internet lalu dibagikan ke grup, ada juga yang dari BMKG. Jadi sumbernya macam-macam,” jelasnya, Rabu (20/8/2025).
Komunitas nelayan ini tidak memiliki ketua atau anggota resmi, hanya kumpulan orang-orang sekitar yang sama-sama melaut. Grup WA itu juga dipakai untuk bercanda, berbagi cerita, dan menjalin silaturahmi.
Ia bilang, selama 3–5 tahun terakhir, cuaca semakin sulit diprediksi. Dua tahun terakhir ini cuaca tidak stabil, terutama pada bulan 7–8. Dampaknya jelas pada pendapatan hasil laut. Kalau tidak melaut, ia mengandalkan simpanan kecil atau bahkan menjual barang di rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau tidak melaut, biasanya kerja lain seperti bangunan atau serabutan. Yang penting bisa dapat uang halal. Pekerjaan itu biasanya saya jalani satu–dua bulan,” katanya.
Sumadi bercerita, ia pernah mengalami kecelakaan laut sekitar dua tahun lalu. Perahunya hampir terbalik karena hujan badai di tengah laut.“Waktu itu saya sendirian di siang hari. Saya hanya pasrah, apa pun nasib dari Tuhan. Kalau selamat saya bersyukur, kalau karam ya itu risiko bekerja di laut. Gelombangnya sangat besar,” tuturnya.
Ia biasa berangkat melaut pukul 04.00 atau 05.00, persis setelah salat subuh, dan kembali lagi ke darat pada siang atau sore hari, baik dapat ikan maupun tidak.
Sumadi menjelaskan, datangnya informasi cuaca tidak menentu. Biasanya mereka saling mengingatkan lewat grup WA atau telepon, baik sore maupun malam hari.
“Kami saling mengingatkan agar waspada, misalnya untuk mengecek tali tambatan perahu apakah sudah kokoh. Kalau angin besar, perahu biasanya ditaruh agak jauh dari bibir pantai, sekitar 300 meter, supaya tidak langsung kena hantaman. Kalau kena hantaman besar, perahu bisa rusak atau retak. Kami sudah punya titik-titik tertentu untuk pengamanan perahu,” ujarnya.
Keputusan melaut selalu mempertimbangkan cuaca. Kalau sudah ada informasi cuaca tidak baik, mereka memilih tidak berangkat. Tanda cuaca buruk biasanya terlihat dari gumpalan awan hitam dan awan putih bergelombang sekitar 1–1,5 jam sebelumnya.
“Tanda cuaca, ya kalau orang sini biasa menyebutnya la’pala’ taon. Kalau bahasa Indonesianya disebut puting beliung,” katanya.
Menurut Sumadi, grup komunitas nelayan itu sangat penting. Misalnya ada informasi bahwa hari ini akan ada badai pada jam tertentu, maka mereka melaut lebih awal dan pulang lebih cepat.
Ia menuturkan, ada beberapa istilah angin yang dikenal masyarakat setempat: angin dari selatan disebut ghendhing, dari timur temor, dari barat bharat, dan dari utara daja. Dari arah utara biasanya tidak terlalu berisiko.
Ia mengaku belum pernah mendengar istilah-istilah seperti “signifikan” atau “mitigasi” dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Informasi cuaca hanya ia dapat dari HP, tidak pernah dari TV atau radio. “Biasanya satu hari sebelum melaut kami saling memberi kabar, seperti mengingatkan adanya angin ghendhing malam nanti.”
Sumadi bilang, ia menggunakan GPS dan kompas. Saat badai, hujan dan angin bercampur membuat arah tidak jelas. Ia memakai GPS Garmin, yang bentuknya seperti jam tangan dengan sistem baterai. Ia juga selalu menyediakan pelampung sendiri.
Cerita soal iklim juga datang dari Subahri, petani garam di Desa Bunder, Pademawu, Pamekasan. Menurutnya, cuaca kini sudah susah ditebak. Ia sering menerima informasi cuaca dari tetangganya yang bekerja di pertanian garam milik pemerintah.
“Saya biasa menerima dari tetangga yang kerja di milik PN ini. Kata mereka, cuaca berpedoman pada data dari BMKG. Tapi saya lebih percaya tanda jalannya air di muara. Dari sisi timur, kalau air laut masuk ke saluran lahan cepat pas malam hari, itu tandanya kemarau pendek. Kalau lambat, tandanya kemarau panjang,” ujarnya.

Ia bercerita, akhir-akhir ini sering turun hujan, meskipun tidak deras. Menurutnya, itu sudah biasa dialami sejak beberapa tahun terakhir. Padahal, garam butuh kemarau. Ia menganggapnya sebagai cobaan bagi petani garam.
Beberapa tahun terakhir, cuaca tidak menentu. Waktunya kemarau, tapi tiba-tiba hujan—apalagi tahun ini. “Kata orang-orang tua, iklim itu lima tahun sekali pasti ada kemarau pendek. Ya contohnya tahun ini.”
Menurutnya, petani garam pasti panen tiap tahun. Tapi kalau panasnya hanya dua bulan, hasilnya sedikit. Kalau lebih lama, panennya lebih banyak.
Subahri bilang, angin yang paling bagus itu dari timur; warga setempat menyebutnya angen nemor. Tapi sebenarnya, dari arah mana pun bisa jadi garam asal tidak hujan. Angin dari selatan disebut ghendhing, dari utara sanghar, dan dari barat nambhara’.
“Orang sini juga pakai tanda-tanda angin, selain kabar dari PN. Kalau soal cuaca, saya sendiri tidak pernah dengar istilah ‘waspada’ atau ‘signifikan’ seperti yang sering disebut di berita. Tapi katanya, info bisa dilihat dari HP, dari Google. Tapi saya tidak bisa, paling cuma dengar dari anak-anak. Kadang dibilang besok hujan, eh nyatanya besoknya tidak hujan.”
Para petani garam setempat, katanya, juga memiliki beberapa istilah soal cuaca. “Pantumannya air. Ada aeng ketegheh (air ketiga), itu tanda sungai mulai mengering. Bagi orang pesisir, itu petunjuk musim. Mungkin kalau orang gunung lain lagi, misalnya soal tembakau.”
Adi Putra, nelayan muda di Desa Bandaran, Tlanakan, Pamekasan, juga menceritakan soal iklim di daerah setempat, Rabu (20/8/2025).
Ia bilang, cuaca kadang baik kadang tidak, sehingga melaut juga tergantung kondisi cuaca. “Kalau informasi cuaca, saya biasanya lihat di HP. Kalau dari BMKG secara langsung ke HP, belum pernah. Jadi keputusan melaut tidak bergantung pada lembaga, melainkan tergantung keputusan sendiri dan rembukan kelompok.”
Adi menjelaskan, angin yang datang dari barat biasanya disebut musim ngunca’, istilah yang bermakna ikan-ikan akan naik ke atas. Dalam 3–5 tahun terakhir, hasil tangkapan kadang banyak kadang sedikit, sebab cuaca juga tidak menentu.
“Saya sendiri belum pernah mengalami kecelakaan laut. Paling jauh biasanya ke Podai, Sumenep, yang bisa ditempuh dalam sehari. Saya juga pernah gagal melaut, tetapi bukan karena cuaca, melainkan karena mesin kapal rusak mendadak. Sepengalaman saya, kalau hanya karena cuaca, orang sini biasanya tetap banyak yang melaut. Tetapi kalau mesin atau barang rusak, besar kemungkinan langsung balik dan tidak jadi melaut.”
Ia bilang, keputusan melaut tergantung berani tidaknya melawan badai. Meskipun cuaca kurang baik, kalau rombongan sepakat dan berani, mereka tetap berangkat guna mencari nafkah.
“Ada tanda-tanda angin yang dikenal orang sini, misalnya angin ghendhing selatan ditandai awan naik di selatan, angin utara disebut dhaja, angin barat disebut bharat dengan ciri awan hitam, sedangkan angin timur disebut slabung, dengan ciri awan bergerak cepat dari timur ke barat—yang oleh orang sini disebut tong-batong.”
Menurutnya, ada juga waktu-waktu tertentu ketika nelayan tidak melaut, misalnya saat ada koloman, jumatan, atau solawatan. Begitu juga ketika terang bulan pada bulan purnama, biasanya nelayan setempat memilih tidak melaut. Ada pula koloman selasaan, meskipun tidak semua nelayan mengikutinya.
Gafur Abdullah merupakan Penulis – Jurnalis Lepas.





