Analisa – Tahun lalu, akhir 2025, untuk pertama kalinya saya mendatangi Lembana, sebuah kolektif seni dan Aglikurtur di Sumenep. Kesenian menampakkan tilasnya, yang dikemas dengan Pamolean— yang dapat dikunjungi publik.Yup, Semua diundang, dengan sambutan dan sapaan hangat, tanpa membedakan siapa dan siapa.

Pamolean disajikan dengan ragam kesenian, perbincangan hangat penuh akan pengetahuan dan makna. Meski hanya se-perempat hari saya berada di sana, saya pikir cerita dari pengalaman ini akan terus melekat dan menjadi perbincangan dibeberapa pertemuan ke depan. Rasanya tak sabar bertemu dengan lembana selanjutnya, he.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

 “Kenapa Namanya Lembana?”. Pertanyaan itu muncul seenteng mengucapkannya kepada pemilik lembana (kakak Fikril). “Emang di sana Namanya lembana, Ai. dan Lembana ada di Parèghih”. Maka di sebuah perkopian, kemudian tahulah saya tentang Parèghih di Lembana, atau lebih tepatnya Lembana di parèghih.

Ujaran Kak Fikril, Parèghih merupakan tempat dengan letak geografis yang dicirikan oleh bukit yang tinggi, terdapat tebing. Sehingga, tempat ini disebut Parèghih karena keberadaannya di dataran tinggi. Hal ini, merupakan pengetahuan baru bagi saya. Sebab, sejak lahir, saya berada di Parèghih yang dalam artian berbeda dengan Parèghih Lembana.

Parèghih sebagai pusat penyatuan jiwa

Manusia terlahir sebagai makhluk yang berkelompok, memiliki keterikatan satu dengan yang lain. adalah Keluarga yang menjadi unit dasar keterikatan manusia, darah yang satu. Keterikatan sebagai pemicu hak kasih tanpa nilai tawar, perasaan yang abadi. Ikatan keluarga kian berlanjut meski sebagian telah dikebumikan.

Generasi selanjutnya akan mengenang kehidupan leluhur dari cerita turun temurun. Maka tahulah mereka, siapa nama buyutnya, bapak dari buyutnya, saudara-saudara dari buyutnya hingga beberapa sedulur yang telah dikebumikan.

Dibeberapa daerah, termasuk dalam keluarga saya, memiliki makam yang satu. Para leluhur, sanak saudara yang sudah meninggal meraka diikat dalam satu lahan kuburan. Makam keluarga, menjadi simbol keterikatan yang tidak terputus antar generasi. Makam ini yang kemudian disebut sebagai Parèghih.

Parèghih menjadi pusat penyatuan jiwa dengan yang sudah tiada. jembatan spritualitas. Dibeberapa waktu paling mashur, yang hidup akan mengunjungi Parèghih, mereka berkomunikasi melalui lantunan do’a dan bacaan-bacaan ayat suci.

Parèghih dalam film Avatar 1&2

Saya jadi teringat dengan Tree of Souls (pohon jiwa) dan Cove of the Ancestors (Teluk Para Leluhur) dalam Film Avatar 1 dan 2. Avatar 1 mengisahkan tentang suku Na’vi penduduk asli pandora sebagai Omaticaya (Suku Hutan) dengan Eywa (Ibu Agung atau Ibu dari segala-galanya). Sedangkan Avatar 2 adalah Metkayina sebagai Suku Laut. Pohon jiwa dan Teluk Para Leluhur dalam film ini, jika diartikulasi, menurut saya memiliki makna selayaknya makam keluarga (Parèghih).

Mengapa demikian?. Berikut saya deskripsikan dengan penceritaan film secara singkat, melalui ingatan sehabis menontonnya.

Di awal cerita film ini, kita diperlihatkan manusia Jake Sully dalam keadaan lumpuh. Namun kondisi lain membuat dirinya ikut andil misi para ilmuwan untuk menggantikan kakaknya dalam menjalankan program Avatar. dalam perjalanan misinya, Jake Sully jatuh cinta kepada Neytiri (Putri Na’vi ), yang membuatnya memisahkan diri dari misi awal dan menjadi bagian dari suku Na’vi. Ritual pemindahan jiwa Jake Sully berlaksana di Pohon Jiwa. Kesadaran Jake sepenuhnya dirubah dari tubuh manusia ke tubuh Avatar.

Tubuh manusia Jake Sully meninggal secara utuh, namun kesadarannya hidup dalam tubuh Avatar dan menjadikannya bagian dari suku Na’vi. Hal ini menjadi benang merah dengan ajaran spiritual kita, bahwa kematian adalah proses transisi menuju kehidupan yang abadi. Tree of Souls satu nuansa dengan Parèghih,  tubuh yang tak bernyawa disatukan atau dikebumikan dalam satu tempat.

Di bagian lain, pada film Avatar 2, The Way Of Water (2022). Gambaran Parèghih saya temukan pada Kematian anak Jake Sully, Neteyam. Misi penyelamatan keluarga Jake Sully, membuatnya bersembunyi di Klan Laut (Klan Metkayina).

Naasnya, perkelahian antara manusia dan suku Avatar membuat Neteyam meninggal. Yang kemudian jenazahnya ditenggelamkan ke dasar laut –Teluk Para Leluhur—sebagai bentuk pengembalian energi kepada sang Eywa. Meski Neteyam merupakan Suku Omatikaya (suku hutan), jasadnya dikebumikan di Klan Metkayina, karena suku Metkayina menganggap keluarga Jake Sully bagian dari mereka. Gambaran Parèghih di sini adalah Ketika Jake Sully dan Neytiri mengunjungi Teluk Para Leluhur tersebut untuk menyatukan jiwa dengan anaknya yang tiada, Neteyam. semakna kala kita mengunjungi Parèghih  dengan segala macam ritualnya.

Lantas, apa makna Parèghih yang sebenarnya?. Apakah Parèghih adalah tempat tertinggi yang berada di permukaan bumi, atau Parèghih sebagai tempat leluhur dikebumikan?. Atau, Barangkali Parèghih adalah pusat spritualitas tertinggi sebagai penyatuan para jiwa dan raga?, Bagaimana menurut kalian?.