PAMEKASAN — Perjalanan Ahmad Syafii di dunia jurnalistik tidak berlangsung dalam waktu singkat. Bertahun-tahun menjalani profesi sebagai wartawan membuatnya bersentuhan langsung dengan berbagai peristiwa, bertemu beragam karakter, sekaligus memahami dinamika kehidupan masyarakat Pamekasan.

Pengalaman panjang di dunia pers tersebut kini membawanya pada tanggung jawab baru. Ahmad Syafii dipercaya menjadi Ketua Jurnalis Independen Pamekasan (JIP), organisasi wartawan yang baru terbentuk dan mendeklarasikan diri di Pamekasan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Bagi Syafii, kepercayaan tersebut bukan sekadar posisi dalam sebuah organisasi. Ada tanggung jawab untuk membangun wadah yang mampu menjadi ruang bersama bagi para jurnalis, sekaligus memberikan kontribusi terhadap perkembangan kehidupan pers dan masyarakat.

Selama menjalani profesi jurnalistik, Syafii terbiasa dengan rutinitas wartawan. Mulai dari mencari informasi, menemui narasumber, melakukan verifikasi, hingga menyajikan berita kepada publik.

Namun, menurut dia, menjadi wartawan tidak cukup hanya dengan kemampuan menulis.

Ada tanggung jawab publik yang melekat dalam setiap produk jurnalistik. Informasi yang disampaikan wartawan dapat memengaruhi cara masyarakat memahami dan melihat sebuah persoalan.

“Jurnalistik bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga bagaimana informasi itu diperoleh, diverifikasi, kemudian disampaikan kepada publik secara berimbang dan bertanggung jawab,” kata Syafii.

Kecepatan Informasi dan Tantangan Wartawan

Perkembangan teknologi membuat dunia pers mengalami perubahan yang cukup cepat. Pertumbuhan media daring dan media sosial membuat informasi dapat menyebar dalam hitungan detik.

Kondisi tersebut, kata Syafii, menjadi tantangan tersendiri bagi wartawan. Di satu sisi, media dituntut menyajikan informasi secara cepat. Namun di sisi lain, kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi.

Menurutnya, wartawan tidak seharusnya hanya berlomba menjadi media pertama yang memberitakan sebuah peristiwa. Informasi harus dipastikan kebenarannya sebelum disampaikan kepada masyarakat.

“Di tengah derasnya informasi dan media sosial, wartawan justru harus semakin kuat dalam melakukan verifikasi. Jangan sampai kecepatan mengalahkan ketepatan. Wartawan harus tetap berpijak pada fakta dan kode etik jurnalistik,” ujarnya.

Bagi Syafii, prinsip tersebut menjadi bagian penting yang harus terus dijaga oleh wartawan di tengah perubahan ekosistem media.

Sebab, derasnya arus informasi juga membuka peluang munculnya informasi yang belum terverifikasi, kabar keliru, hingga informasi yang dapat menyesatkan masyarakat.

Karena itu, wartawan memiliki posisi penting sebagai pihak yang melakukan pemeriksaan terhadap sebuah informasi sebelum disampaikan kepada publik.

JIP dan Dinamika Pers Pamekasan

Pengalaman dan pandangan Syafii terhadap perkembangan dunia pers turut menjadi bagian dari latar lahirnya Jurnalis Independen Pamekasan atau JIP.

Organisasi tersebut hadir sebagai salah satu wadah bagi para jurnalis di Pamekasan. Dalam deklarasinya, Ahmad Syafii dipercaya untuk memimpin organisasi tersebut.

Syafii menilai kehadiran JIP merupakan bagian dari dinamika kehidupan pers di Pamekasan. Menurut dia, munculnya organisasi baru tidak harus dimaknai sebagai bentuk persaingan dengan organisasi wartawan yang sudah lebih dahulu ada.

“Kami hadir bukan untuk menegasikan organisasi yang sudah ada. Justru kami ingin menjadi bagian dari ekosistem pers di Pamekasan. Perbedaan wadah organisasi adalah hal yang wajar, selama orientasinya tetap pada kepentingan publik dan kemajuan dunia jurnalistik,” tuturnya.

Ia berharap keberadaan JIP dapat menjadi ruang bagi wartawan untuk saling bertukar pengalaman, belajar, dan meningkatkan kemampuan jurnalistik.

Bagi Syafii, organisasi wartawan seharusnya tidak berhenti pada aktivitas perkumpulan. Lebih dari itu, organisasi harus memiliki program yang memberikan manfaat nyata bagi anggota dan masyarakat.

“Kami ingin JIP menjadi rumah bersama bagi jurnalis yang ingin terus belajar dan berkembang. Ukuran keberhasilan organisasi bukan seberapa besar organisasinya, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada anggota dan masyarakat,” ucapnya.

Membangun Fondasi Organisasi

Sebagai organisasi yang baru berdiri, Syafii menyadari masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Membangun fondasi organisasi menjadi salah satu tantangan awal yang harus dihadapi.

Selain membangun struktur dan tata kelola organisasi, ia juga ingin memastikan JIP tetap berjalan dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip jurnalistik.

Tantangan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab yang kini diembannya sebagai Ketua JIP.

Syafii memahami bahwa organisasi wartawan tidak akan berkembang hanya dengan mengandalkan nama atau jumlah anggota. Dibutuhkan kerja bersama, program yang jelas, serta komitmen untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di dalamnya.

Karena itu, ia ingin JIP diarahkan menjadi wadah yang mendorong para jurnalis untuk terus meningkatkan kompetensi.

Perubahan dunia media yang begitu cepat, menurut dia, menuntut wartawan untuk tidak berhenti belajar. Kemampuan jurnalistik harus terus diasah agar wartawan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.

Di sisi lain, prinsip dasar jurnalistik tetap harus menjadi pegangan.

Bagi Ahmad Syafii, perjalanan panjang di dunia pers telah memberikan banyak pelajaran. Dari berbagai peristiwa yang diliput hingga dinamika masyarakat yang ditemui, profesi wartawan membuatnya memahami bahwa kerja jurnalistik memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan berita.

Kini, pengalaman tersebut menjadi bekal baginya untuk menahkodai JIP.

Dengan organisasi yang masih relatif baru, Syafii menghadapi tantangan untuk membangun JIP menjadi wadah yang tidak hanya eksis, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi jurnalis dan masyarakat Pamekasan.