Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menerima laporan capaian sektor energi nasional dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/11/2025).

Dalam pertemuan tersebut, Bahlil menyampaikan sejumlah kemajuan strategis, mulai dari program listrik desa, capaian produksi minyak, hingga kesiapan Indonesia menuju kedaulatan energi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menurut Bahlil, produksi minyak nasional atau lifting hingga awal November 2025 telah mencapai lebih dari 605.000 barel per hari, melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 605.000 barel per hari.

Ia juga melaporkan bahwa penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor energi telah mencapai sekitar 75–76 persen dari target sebesar Rp 260 triliun.

“Alhamdulillah, lifting kita sampai awal November ini sudah melampaui target APBN. PNBP juga hampir 80 persen tercapai,” ujar Bahlil usai bertemu Presiden.

Bahlil menambahkan, Indonesia berpotensi tidak lagi mengimpor solar mulai 2026. Hal ini seiring dengan rampungnya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang dijadwalkan diresmikan pada 10 November 2025.

“Dengan selesainya RDMP Balikpapan dan dorongan peningkatan bauran biodiesel B50, kita berpotensi oversupply solar, bahkan bisa ekspor,” kata Bahlil.

Presiden Prabowo, lanjut Bahlil, menyambut baik capaian tersebut dan menekankan pentingnya percepatan kemandirian energi nasional.

“Semua capaian ini merupakan arahan langsung Bapak Presiden yang ingin memastikan kedaulatan energi Indonesia benar-benar terwujud,” ujarnya.

Program kedaulatan energi menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Prabowo-Gibran, termasuk melalui pembangunan infrastruktur kilang, pengembangan energi baru terbarukan, serta pemerataan listrik hingga ke desa-desa terpencil.