Analisa, Lifestyle Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pembekuan sementara proses penyesuaian indeks (rebalancing) untuk saham-saham Indonesia. Pelemahan tersebut membuat IHSG mendekati ambang batas penghentian sementara perdagangan saham atau trading halt.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG langsung turun lebih dari 6% ke level 8.393 dari penutupan sebelumnya di 8.980. Hingga pukul 09.05 WIB, indeks masih melemah 6,50% atau turun 583 poin ke posisi 8.396. Dalam dua jam pertama perdagangan, tekanan berlanjut dengan IHSG tercatat melemah hingga 7,33% ke level 8.321, mendekati batas trading halt yang ditetapkan BEI sebesar 8%.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tekanan jual terutama terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar dan saham unggulan (blue chip). Pelemahan tersebut dipicu oleh faktor eksternal, yakni kebijakan MSCI, bukan oleh sentimen domestik. Sejumlah saham yang sebelumnya diantisipasi masuk atau mengalami peningkatan bobot dalam indeks MSCI juga tercatat mengalami penurunan harga.

Meski pergerakan IHSG mendekati ambang batas trading halt, tidak terdapat informasi resmi yang menyebutkan bahwa penghentian sementara perdagangan saham diaktifkan pada perdagangan Rabu tersebut.

Menanggapi kondisi ini, Bursa Efek Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan akan terus melakukan komunikasi dan diskusi dengan MSCI. Otoritas pasar modal Indonesia berupaya mencari titik temu terkait transparansi data free float guna menjaga kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.

Sebagai informasi, mekanisme trading halt di Indonesia diatur oleh BEI dengan persetujuan OJK berdasarkan regulasi yang berlaku efektif sejak 8 April 2025. Dalam ketentuan tersebut, trading halt dapat diberlakukan selama 30 menit apabila IHSG turun lebih dari 8% dalam satu hari perdagangan.

Jika penurunan berlanjut hingga lebih dari 15%, trading halt dapat diperpanjang 30 menit. Sementara itu, penurunan lebih dari 20% dapat berujung pada trading suspend hingga akhir sesi perdagangan atau lebih, dengan persetujuan OJK.

MSCI sendiri merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan bagi investor institusional di berbagai negara. Setiap perubahan bobot, inklusi, atau eksklusi saham dalam indeks MSCI dapat memengaruhi aliran dana investasi, baik pasif maupun aktif, ke suatu pasar saham.

Pada 28 Januari 2026, MSCI mengumumkan pembekuan sementara seluruh proses rebalancing indeks saham Indonesia.

Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari konsultasi pasar yang dilakukan sejak Oktober 2025, terkait rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang diterbitkan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan dalam perhitungan free float.

Mengutip laman resmi MSCI, Rabu (28/1), lembaga tersebut menyatakan telah menyelesaikan konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia. Meskipun sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan komposisi kepemilikan bulanan KSEI sebagai data tambahan, MSCI mencatat masih terdapat kekhawatiran signifikan dari investor.

“Meskipun telah ada peningkatan kecil pada data free float BEI, investor menyoroti masalah fundamental terkait kemampuan investasi masih berlanjut karena kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran tentang kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang tepat,” demikian pernyataan MSCI.

Berdasarkan pengumuman tersebut, pembekuan mencakup penghentian seluruh peningkatan Foreign Inclusion Factors(FIF) dan Number of Shares (NOS), tidak adanya penambahan konstituen baru dalam MSCI Investable Market Indexes(IMI), serta pembekuan perpindahan naik antar segmen ukuran indeks, termasuk dari Small Cap ke Standard Index.

Kebijakan MSCI tersebut berpotensi menahan aliran dana pasif dari investor global yang mengikuti indeks MSCI. Kondisi ini dapat memengaruhi pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi kontributor utama pergerakan IHSG.