Setiap tanggal 10 November, linimasa media sosial selalu dipenuhi dengan ucapan Hari Pahlawan. Sekolah menggelar upacara, kantor mengadakan peringatan, dan media menayangkan kisah para pejuang. Tapi kenapa tanggal 10 November yang dipilih sebagai Hari Pahlawan?

Awal Mula: Dari Kekalahan Jepang hingga Kedatangan Sekutu

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun kondisi belum sepenuhnya aman. Pasukan Sekutu datang tidak sekadar melucuti Jepang—ada pula upaya untuk mengembalikan kekuasaan Belanda melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Bagi rakyat yang baru merdeka, kedatangan pasukan tersebut dipandang sebagai ancaman. Rakyat di berbagai daerah bersiap mempertahankan kemerdekaan, termasuk warga Surabaya.

Insiden Bendera di Hotel Yamato

Salah satu pemicu meletusnya pertempuran besar di Surabaya adalah insiden bendera di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) pada 19 September 1945. Ketika tentara Belanda menaikkan bendera merah-putih-biru di atap hotel, rakyat Surabaya marah. Sekelompok pemuda kemudian merobek bagian biru sehingga tersisa bendera merah putih — simbol kemerdekaan.

Kejadian ini menyalakan semangat perlawanan dan menjadikan Surabaya simbol perlawanan rakyat terhadap upaya pengembalian kolonialisme.

Puncaknya: Pertempuran 10 November 1945

Ketegangan meningkat setelah Brigadir Jenderal Mallaby, pemimpin pasukan Inggris di Surabaya, tewas pada 30 Oktober 1945. Sebagai respons, pasukan Inggris melancarkan serangan besar pada 10 November 1945, menggunakan tank, pesawat tempur, dan pasukan lengkap.

Rakyat Surabaya, bersenjata seadanya dan dipimpin tokoh-tokoh seperti Bung Tomo, tidak gentar. Pidato Bung Tomo yang menggema lewat radio membakar semangat perlawanan hingga ke banyak daerah. Meski pertempuran menelan korban yang besar, perlawanan itu menunjukkan tekad bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan.

Lahirnya Hari Pahlawan

Pertempuran Surabaya berlangsung berminggu-minggu dengan korban jiwa yang banyak dari pihak pejuang dan warga sipil. Untuk menghormati pengorbanan tersebut, pemerintah Indonesia menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.

Penetapan ini tidak hanya mengingatkan tragedi Surabaya, tetapi juga mengabadikan semangat nasionalisme dan kesatuan bangsa.

Maknanya bagi Generasi Sekarang

Hari Pahlawan bukan hanya untuk mengenang masa lalu, melainkan juga pengingat bagi generasi kini. Perjuangan saat ini mungkin bukan di medan perang, melainkan di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, teknologi, dan sosial.

Menjadi pahlawan sekarang berarti berkontribusi positif bagi masyarakat—sekecil apa pun—dengan integritas, kepedulian, dan aksi nyata.

Setiap kali memperingati 10 November, jangan hanya berhenti pada seremoni. Maknai semangat para pejuang Surabaya dengan aksi nyata dan semangat pantang menyerah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kata Bung Tomo: “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu kita tidak akan menyerah kepada siapa pun juga.”

Apabila ingin versi yang dipersingkat untuk newsletter atau disertai foto + caption, beri tahu kami foto seperti apa yang kamu inginkan.