Jakarta — Dalam gelaran Festival of 20s, penulis dan kreator konten pengembangan diri Abigail Limuria menegaskan bahwa krisis identitas yang kerap menimpa anak muda bukanlah “drama berlebihan”. Menurutnya, fase usia 20-an memang secara alami dipenuhi gejolak psikologis, perubahan besar, dan tekanan untuk segera menemukan arah hidup.

“Aku baru saja lulus dari umur 20-an. Dan jujur, itu masa yang sangat membingungkan,” ujar Abigail membuka sesi. Ia menggambarkan dekade tersebut sebagai rangkaian peralihan besar: masuk kuliah, lulus, mencari pekerjaan, mencoba dunia profesional, hingga mempertanyakan kembali identitas diri.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Perubahan-perubahan itu, menurutnya, membuat banyak anak muda merasa tidak memiliki pijakan. “Yang dulu kita suka jadi membosankan. Yang dulu kita benci mendadak terasa penting. Kita bingung, aku ini siapa? Mau ke mana?” katanya.

Pencerahan datang ketika seseorang menjelaskan padanya bahwa krisis yang ia alami merupakan bentuk analysis paralysis, kondisi ketika seseorang lumpuh karena terlalu banyak pilihan dan informasi.

“Ini bukan drama. Ini kondisi psikologis yang nyata. Kita tersesat karena banyak jalan, bukan karena tidak punya jalan,” kata Abigail. Ia menilai anak muda saat ini hidup dalam banjir informasi yang menuntut mereka mengambil keputusan cepat, namun justru membuat mereka kewalahan.

Abigail menemukan cara mengurai kebingungan itu melalui mental model, kerangka berpikir yang membantunya melihat masalah secara lebih runtut. Salah satu rujukan utamanya adalah buku How Will You Measure Your Life karya Clayton Christensen, yang memperkenalkan dua strategi hidup: deliberate dan emergent.

Deliberate digunakan ketika seseorang sudah tahu tujuannya. Emergent berlaku ketika arah hidup belum jelas, sehingga eksperimen menjadi langkah paling rasional.

Menurut Abigail, mayoritas anak muda berada di fase emergent. “Kita tidak akan tahu kita suka atau jago sesuatu sampai kita coba. Hidup di usia 20-an memang fase eksperimen,” ujarnya. Ia mengisahkan temannya yang mencoba 12 aktivitas berbeda dalam setahun—dari barista hingga media—sebelum akhirnya menemukan jalan sebagai sinematografer.

Abigail mengaku dulu menanti hari ketika semua jawabannya hadir. “Aku kira pas kuliah aku akan tahu. Lalu pas kerja. Tapi ternyata ‘some day’ itu tidak pernah datang.”

Ia menekankan bahwa yang membuat seseorang lebih tenang bukan menemukan jawaban final, melainkan meningkatkan kapasitas diri: kemampuan berpikir jernih, komunikasi yang baik, dan ketahanan mental.

“Kita akan terus berubah. Dunia juga berubah. Tidak mungkin ada satu jawaban yang berlaku selamanya,” katanya.

Dalam sesi tersebut, Abigail memperkenalkan sampul buku terbarunya, ditulis bersama seorang penulis perempuan lainnya. Buku itu berisi kumpulan mental model dan kerangka keputusan yang ia nilai efektif membantu generasi muda menavigasi usia 20-an. Pre-order dibuka pada 27 Desember melalui Peppress.

Menutup sesinya, Abigail kembali menegaskan bahwa kebingungan di usia 20-an bukanlah sesuatu yang sepele. “Ini bukan drama. Ini bagian dari proses bertumbuh,” katanya.

Baginya, semakin cepat seseorang berdamai dengan ketidakpastian, semakin mudah ia melewati fase krisis tersebut. “Usia 20-an itu bukan masalah. Itu kesempatan untuk eksplorasi. Happy exploring, everyone.”