Jakarta – Kreator konten dan pengamat sosial-politik Cania Citta Irlanie menilai masyarakat perlu lebih kritis dalam menyikapi berbagai opini yang beredar di ruang publik, terutama di media sosial.

Menurutnya, sebelum menyetujui atau menolak suatu pandangan, publik sebaiknya memahami terlebih dahulu bagaimana menilai kualitas dari opini tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam video berjudul “Cara Menilai Kualitas Opini Orang” yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, Cania menjelaskan bahwa proses menilai opini tidak jauh berbeda dengan cara menyusun argumen yang baik. “Pertama-tama kita harus tahu dulu tesisnya apa. Apa yang sebenarnya ingin dibuktikan oleh orang itu,” ujarnya.

Cania mencontohkan, jika seseorang berpendapat bahwa “perempuan lebih kuat di perasaan, laki-laki lebih kuat di logika”, maka kalimat tersebut adalah tesis. “Yang perlu kita cek kemudian adalah benar atau tidak tesis itu, dan apa maksud dari istilah yang digunakan,” katanya.

Ia menilai, banyak perdebatan di ruang publik terjadi karena perbedaan pemahaman atas istilah yang dipakai. “Apa maksudnya ‘lebih kuat’? Apa yang dimaksud ‘perasaan’? Apa itu ‘logika’? Kalau definisinya tidak jelas, maka pembuktiannya pun jadi tidak nyambung,” jelasnya.

Menurut Cania, mendefinisikan istilah dan menentukan indikator adalah langkah penting agar diskusi memiliki arah yang jelas. Tanpa indikator yang disepakati, data atau fakta yang disajikan dalam opini bisa menjadi tidak relevan.

Setelah mengetahui tesis dan definisi, langkah berikutnya adalah memeriksa pembuktian. Cania menegaskan, tidak semua data bisa dianggap sebagai bukti yang sah. “Kadang orang kasih data, tapi datanya nggak nyambung dengan hal yang mau dibuktikan,” ujarnya.

Ia mencontohkan, jika seseorang ingin membuktikan bahwa perempuan lebih susah move on, data yang digunakan harus benar-benar relevan dengan hal tersebut. “Kalau buktinya cuma dari jumlah perempuan yang belum punya pasangan, itu kan nggak membuktikan apa-apa,” katanya.

Cania mengingatkan, kualitas argumen tidak hanya diukur dari ada atau tidaknya data, tetapi juga dari keterkaitan antara data dan tesis yang diajukan, serta kekuatan logika di baliknya.

Lebih lanjut, Cania menyoroti kebiasaan banyak orang yang membuat klaim tanpa menyebutkan ukuran penilaiannya. Misalnya, seseorang menyebut “Gubernur A adalah yang terbaik” tanpa menjelaskan apa indikator “terbaik” yang dimaksud.

“Kalau ukuran ‘terbaik’ adalah jumlah transportasi umum yang dibangun, ya sebutkan dulu. Kalau nggak, data apa pun yang ditampilkan jadi nggak relevan,” ujar Cania.

Ia menambahkan, kebiasaan tidak membuat ukuran seperti ini sering kali memunculkan debat tidak produktif di media sosial. “Satu orang bilang gubernur terbaik karena transportasi, yang lain bilang karena sungai diperlebar. Mereka berdebat, padahal ukuran ‘baik’-nya beda,” katanya.

Melalui video tersebut, Cania ingin mendorong masyarakat agar lebih sadar terhadap proses berpikirnya sendiri. “Dalam berpikir kritis, yang penting bukan cuma punya data, tapi tahu data itu nyambung atau nggak sama yang mau dibuktikan,” tegasnya.

Cania, yang juga merupakan penulis buku “Makanya, Mikir!”, menilai kesadaran terhadap logika dan relevansi adalah kunci dalam menjaga kualitas diskursus publik. Ia berharap masyarakat bisa lebih berhati-hati dalam menerima informasi serta tidak mudah terjebak dalam opini yang emosional atau menyesatkan.


Sumber: YouTube Cania Citta Irlanie – “Cara Menilai Kualitas Opini Orang”