Jakarta– Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, peredaran mitos dan kesalahpahaman seputar kesehatan menjadi tantangan serius bagi literasi publik. Salah satu tokoh yang gencar mengambil peran melawan misinformasi ini adalah Dr. Tirta Mandira Hudhi, seorang dokter dan kreator konten yang dikenal dengan gaya komunikasinya yang lugas dan blak-blakan.

Melalui platform digital, Dr. Tirta secara konsisten membedah beragam mitos yang telah mengakar di masyarakat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Langkah ini bukan sekadar upaya mencari popularitas, melainkan sebuah bentuk edukasi berbasis bukti medis yang krusial untuk mencegah masyarakat mengambil keputusan kesehatan yang keliru.

Mitos Mie Instan

Isu seputar makanan dan metabolisme menjadi lahan subur bagi mitos. Dua anggapan yang paling sering ia luruskan adalah seputar konsumsi mi instan dan mitos pembakaran lemak.

Selama bertahun-tahun, beredar keyakinan bahwa mi instan adalah “racun” yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk dicerna dan akan menempel di usus. Dr. Tirta dengan tegas membantah narasi ini.

“Usus itu tidak sebego itu. Usus manusia dirancang untuk memproses berbagai jenis makanan, termasuk mi instan,” ujarnya dalam salah satu konten edukasinya.

Menurutnya, persoalan kesehatan sesungguhnya bukan terletak pada mi instan itu sendiri, melainkan pada pola konsumsi yang berlebihan dan ketidakseimbangan gizi.

Menjadikan mi instan sebagai makanan pokok tanpa tambahan protein (telur/daging) dan serat (sayur) adalah akar masalah, bukan pada kemampuan usus mencernanya.

Mitos lain yang juga dikoreksi adalah anggapan bahwa minum air hangat setelah berolahraga dapat menghancurkan lemak. Dr. Tirta menjelaskan bahwa proses pembakaran lemak di dalam tubuh tidak dipengaruhi oleh suhu air yang diminum. Pembakaran lemak adalah mekanisme biologis yang bergantung pada defisit kalori (kalori yang masuk lebih sedikit dari yang dikeluarkan) dan intensitas aktivitas fisik, bukan pada air panas atau dingin.

Mitos Tidur

Tak hanya soal makanan, kesalahpahaman juga meliputi area gaya hidup. Salah satu topik yang mendapat perhatian adalah efek begadang terhadap tubuh. Dr. Tirta mengamini bahwa begadang akan mengganggu proses regenerasi sel yang optimal terjadi pada malam hari.

Dia menyoroti mitos bahwa tidur siang dapat sepenuhnya menggantikan kualitas tidur malam yang hilang. Walaupun tidur siang dapat memberikan istirahat pada otak, ia menegaskan bahwa proses recovery dan regenerasi organ dalam tubuh tidak akan berjalan ideal jika jam tidur biologis (siklus sirkadian) terus menerus dilanggar.

Dalam konteks olahraga, Dr. Tirta juga meluruskan pandangan keliru yang menyatakan bahwa olahraga berat dapat menebus dampak buruk pola makan yang kacau.

“Berlari 10 kilometer sekalipun tidak akan menetralkan dampak buruk jika pola makan Anda tetap tidak teratur dan tidak sehat,” tegasnya.

Inti dari hidup sehat, menurutnya, adalah kombinasi yang harmonis antara asupan nutrisi yang tepat dan aktivitas fisik yang terukur. Olahraga tidak bisa dijadikan “penalti” untuk menebus kebiasaan buruk makan.

Asupan Protein dan Fungsi Ginjal

Mitos populer lain yang menjadi sasaran edukasi Dr. Tirta adalah hubungan antara konsumsi protein tinggi dan risiko gagal ginjal. Kekhawatiran ini sering menjangkiti para pegiat olahraga yang rutin mengonsumsi suplemen protein.

Dr. Tirta menjelaskan bahwa konsumsi protein berlebih hanya berpotensi merusak ginjal jika dilakukan secara ekstrem tanpa aktivitas yang seimbang, apalagi jika seseorang sudah memiliki riwayat atau gangguan ginjal sebelumnya.

Bagi orang sehat, asupan protein yang sesuai justru sangat dibutuhkan untuk pemulihan dan pembentukan massa otot. Dr. Tirta mengingatkan masyarakat untuk selalu memahami kebutuhan protein harian yang direkomendasikan dan tidak serta-merta percaya pada narasi yang menggeneralisasi risiko kesehatan tanpa landasan medis yang kuat.