Jakarta – Di tengah dunia yang kian cepat, riuh, dan penuh tuntutan, tidak mudah menemukan ketenangan. Namun, aktris sekaligus jurnalis Marissa Anita tampak berjalan di jalur berbeda. Di antara kesibukan layar, panggung, dan dunia jurnalistik, ia tetap memancarkan aura damai dan seimbang. Apa rahasianya?

Bagi Marissa, hidup tenang bukan berarti tanpa masalah. Justru, ketenangan adalah hasil dari proses panjang mengenal diri, berdamai dengan luka, serta memilih untuk hidup selaras dengan nilai-nilai pribadi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Hidup tenang adalah saat kita align dengan seluruh value kita,” tulisnya dalam salah satu unggahan di LinkedIn beberapa waktu lalu.

Kata-kata itu mungkin sederhana, tetapi sarat makna. Mari menelusuri jejak pemikiran dan kebiasaan Marissa Anita dalam menjaga keseimbangan batin — pelajaran berharga bagi siapa pun yang ingin hidup lebih damai di tengah hiruk-pikuk dunia modern.

1. Keselarasan Nilai: Hidup Tidak Boleh Kontradiktif

Sumber pertama ketenangan, menurut Marissa, terletak pada keselarasan antara nilai dan tindakan. Ia menegaskan bahwa kegelisahan sering muncul bukan karena faktor luar, tetapi karena kita bertindak tidak sesuai dengan nilai yang kita yakini.

“Kalau terus hidup di luar nilai kita, itu seperti memakai sepatu yang salah ukuran setiap hari,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Kata-kata itu menggambarkan pentingnya kejujuran pada diri sendiri. Dalam dunia yang sering menuntut kompromi, Marissa justru berusaha tetap otentik — baik dalam pekerjaan, pilihan hidup, maupun hubungan personal.

Langkah kecil yang bisa dicoba antara lain menuliskan tiga nilai utama yang paling berarti bagi diri sendiri. Saat membuat keputusan besar, tanyakan: “Apakah ini sejalan dengan nilai saya?” Jika jawabannya tidak, mungkin sudah saatnya menyesuaikan arah hidup.

2. Refleksi dan Meditasi: Berhenti Sejenak untuk Menyapa Diri

Dalam blog pribadinya marissaanita.com, ia menulis artikel berjudul “Hati Tenang. Stress Jauh. Hidup Lebih Lama.” Di sana, ia bercerita bahwa ketika hati gelisah, ia memilih untuk diam, merenung, dan bermeditasi.

“Meditasi — atau bentuk refleksi sesuai keyakinan — membantu kita menenangkan pikiran, membuka hati, dan kembali mendekat pada pusat diri,” tulisnya.

Bagi Marissa, refleksi bukan sekadar ritual spiritual, tetapi kebutuhan mental. Ia percaya setiap orang perlu waktu berhenti sejenak untuk mendengar suara hati di balik bisingnya dunia.

Cara sederhana mempraktikkan refleksi harian bisa dimulai dengan meluangkan 10 menit tanpa gawai setiap pagi atau malam. Tarik napas dalam, amati pikiran tanpa menghakimi, dan tulis satu kalimat syukur setiap hari. Kecil, tapi efektif menurunkan stres dan meningkatkan kesejahteraan mental.

3. Berani Menangis dan Bercerita: Melepaskan Beban Emosi

Marissa bukan tipe orang yang menutup-nutupi kesedihan. Dalam beberapa tulisannya, ia menulis betapa pentingnya menangis, bercerita, dan melepaskan emosi yang tertahan.

“Ketika malang datang dan menyakiti hati, menangislah sampai rasa sakit mereda,” tulisnya jujur.

Bagi banyak orang, terutama di budaya yang menganggap tangisan sebagai kelemahan, pesan ini terasa menyegarkan. Marissa menekankan bahwa menangis adalah proses alami penyembuhan. Emosi yang diakui justru membantu kita kembali tenang, bukan sebaliknya.

Ia juga mendorong pentingnya berbagi cerita kepada orang yang dipercaya — bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk memproses luka dengan sehat.

4. Hidup Sederhana, Pikiran Lapang

Di balik penampilannya yang cerdas dan profesional, Marissa dikenal menjalani hidup sederhana. Kesederhanaan, katanya, bukan berarti miskin ambisi, melainkan memilih fokus pada hal yang benar-benar penting.

“Semakin sedikit yang kita genggam, semakin ringan langkah kita,” ujarnya dalam salah satu talk show.

Kesederhanaan ini mencakup banyak hal: membatasi komitmen yang tidak perlu, memilah informasi, serta menghindari overthinking terhadap hal-hal kecil. Ia percaya, semakin sederhana kehidupan kita, semakin besar ruang bagi ketenangan batin tumbuh.

5. Kesehatan Fisik Sebagai Dasar Kedamaian Batin

“Hati yang tenang tidak bisa tumbuh di tubuh yang lelah,” demikian pepatah yang sering dikutip Marissa. Ia menekankan pentingnya menjaga tubuh agar selaras dengan pikiran.

Dengan rutinitas yang padat, Marissa tetap meluangkan waktu untuk olahraga ringan, tidur cukup, dan menjaga pola makan. Ia tidak mengagungkan diet ekstrem, melainkan memilih keseimbangan. Ketenangan batin berakar pada tubuh yang dirawat dengan cinta, bukan dengan paksaan.

6. Mindfulness: Hadir di Saat Ini

Dalam berbagai unggahan media sosialnya, Marissa sering menyinggung pentingnya mindfulness, atau kesadaran penuh terhadap momen sekarang.

Ia menolak hidup yang serba terburu-buru. Baginya, makan pun harus disadari: menikmati aroma, rasa, dan tekstur. Menyapu rumah pun bisa menjadi meditasi, jika dilakukan dengan penuh kehadiran.

Mindfulness mengajarkan bahwa ketenangan tidak datang dari liburan panjang, melainkan dari kemampuan menikmati detik-detik kecil kehidupan.

7. Resiliensi: Bangkit dari Luka dan Trauma

Sebagai publik figur, Marissa tak jarang menghadapi tekanan dan penilaian publik. Namun, ia tidak menutup-nutupi proses penyembuhannya dari trauma masa lalu. Dalam beberapa kesempatan, ia berbagi tentang bagaimana terapi dan refleksi membantu dirinya kembali utuh.

Ketenangan sejati, katanya, bukan berarti hidup tanpa luka, tapi kemampuan untuk menatap luka dengan lembut, tanpa membenci diri.

“Kita tidak bisa menghapus masa lalu, tapi kita bisa memilih cara baru untuk berjalan setelahnya,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

8. Membatasi Kebisingan Informasi

Marissa percaya bahwa kebisingan digital adalah sumber stres baru manusia modern. Ia menerapkan “puasa digital” dengan membatasi konsumsi media sosial dan berita negatif pada jam-jam tertentu.

Prinsipnya sederhana: apa yang kita konsumsi secara mental menentukan kedamaian batin. Ia lebih memilih mengisi pikirannya dengan hal-hal yang memperkaya, bukan yang menguras emosi.

Cobalah praktik kecil seperti tidak membaca berita sebelum tidur, menonaktifkan notifikasi media sosial, dan mengikuti akun yang menginspirasi, bukan yang memicu perbandingan.

9. Menerima Ketidaksempurnaan Diri

Kesempurnaan adalah mitos. Marissa mengingatkan bahwa setiap orang berhak gagal dan belajar. Ia menolak standar kesempurnaan yang sering dibebankan pada perempuan publik figur.

“Saya tidak ingin menjadi sempurna, saya hanya ingin jujur,” katanya dalam sebuah podcast.

Dengan menerima ketidaksempurnaan, kita berhenti menuntut diri secara berlebihan — langkah penting menuju kedamaian batin.

10. Merawat Hubungan yang Menenangkan

Di akhir banyak refleksinya, Marissa kerap menyinggung pentingnya koneksi manusia. Ia menekankan nilai kehadiran dan empati dalam hubungan. Bagi Marissa, teman sejati bukan yang selalu setuju, tapi yang mau hadir ketika kita rentan.

Ia memilih menjauh dari relasi yang toksik, dan mendekat pada orang-orang yang membuatnya berkembang tanpa kehilangan diri.

Rahasia hidup tenang ala Marissa Anita bukanlah formula instan. Ia hasil dari proses panjang: mengenal diri, menata nilai, menjaga tubuh, serta menyederhanakan kehidupan.

Setiap orang punya jalannya sendiri. Namun satu hal pasti: ketenangan bukan sesuatu yang kita cari di luar, melainkan sesuatu yang kita bangun di dalam.

“Hidup tenang bukan hidup tanpa badai, tapi kemampuan untuk tetap tenang di tengahnya,” tulis Marissa di blognya.

Mungkin di situlah rahasia sesungguhnya: bukan dunia yang harus tenang, tapi hati kita yang belajar diam.