Inspirasi – Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk, Ivan Cahyadi, berbagi filosofi kepemimpinan yang menekankan pentingnya integritas, dorongan, dan empati dalam menjaga relevansi perusahaan berusia 112 tahun.
Bagi Ivan Cahyadi, kepemimpinan bukan sekadar soal strategi bisnis atau hasil keuangan, melainkan tentang nilai yang dipegang teguh.
“Integritas adalah yang terpenting dalam kepemimpinan, bahkan lebih dari kompetensi,” ujar Ivan. “Karena orang yang kompeten tanpa integritas justru bisa menghancurkan perusahaan.” katanya saat menjadi bintang tamu di laman YouTube Gita Wirjawan.
Filosofi itu menjadi fondasi kepemimpinan Ivan dalam menjaga Sampoerna, perusahaan berusia 112 tahun, agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Lahir di Semarang dan besar di Surabaya, Ivan tak pernah menyangka akan berkarier di industri tembakau. Lulusan keuangan dan ekonomi ini awalnya hanya mengikuti saran seorang teman untuk melamar ke Sampoerna.
Yang membuatnya tertarik adalah proses rekrutmen yang panjang dan ketat, melibatkan 18 wawancara selama beberapa minggu. “Itu menunjukkan keseriusan perusahaan dalam memilih orang,” kenangnya.
Dengan percaya diri, Ivan bahkan menyatakan ambisinya ingin menjadi presiden direktur dalam sepuluh tahun. “Waktu itu mungkin terdengar naif,” ujarnya sambil tersenyum, “tapi saya ingin belajar dan membuktikan diri.”
Kerja kerasnya berbuah hasil. Di tahun pertamanya, ia menjadi pegawai tercepat di angkatannya yang mendapat promosi, membuka jalan kariernya selama hampir tiga dekade di Sampoerna.
Ivan menegaskan, kekuatan utama Sampoerna terletak pada filosofi pendirinya yang dikenal dengan “tiga tangan”: satu tangan untuk pelanggan, satu untuk karyawan dan mitra, serta satu untuk masyarakat.
Walau bukan perusahaan pendidikan, Sampoerna berkomitmen pada mobilitas sosial dan pengembangan sumber daya manusia. Sistem meritokrasi memberi kesempatan bagi siapa pun untuk berkembang, tanpa memandang latar belakang pendidikan.
Lebih dari 50.000 pedagang warung dan 2.000 petani mendapat pelatihan dan dukungan usaha dari Sampoerna. “Kami percaya, ketika seseorang tumbuh, seluruh komunitas ikut terangkat,” ujar Ivan.
Dalam kepemimpinannya, Ivan berpegang pada tiga nilai utama: integritas, dorongan (drive), dan kompetensi. Ia percaya semangat belajar dan kemauan untuk berkembang mampu mengalahkan keterbatasan kemampuan teknis.
Ia juga mengangkat konsep “keberuntungan cerdas” — keberuntungan yang muncul dari kerja keras dan keputusan sadar untuk produktif, bukan sekadar nasib baik.
Namun, di tengah dorongan untuk terus maju, Ivan menekankan pentingnya empati. “Kemajuan itu penting, tapi jangan sampai kita kehilangan sisi manusia,” ujarnya.
“Kepemimpinan sejati bukan tentang mengendalikan, melainkan tentang menumbuhkan orang lain.”
Di bawah kepemimpinan Ivan, Sampoerna tak hanya fokus pada bisnis, tetapi juga berperan dalam pengembangan talenta lokal.
Melalui investasi pada pabrik dan superlab modern, perusahaan kini mempekerjakan lebih dari 200 ilmuwan Indonesia di bidang sains dan teknologi. Langkah ini diharapkan menjadi pengganda dalam pengembangan sumber daya manusia di Tanah Air.
Bagi Ivan, hubungan antarmanusia adalah inti dari organisasi yang sehat. Ia terinspirasi oleh Satya Nadella, CEO Microsoft, yang dikenal memimpin dengan empati.
“Saya percaya, ketika kita memahami orang lain lebih dalam, kita bisa menciptakan keselarasan yang tidak bisa dipaksakan,” katanya.
Ia menuturkan, suatu kali tanpa perencanaan, dirinya dan direktur pemasaran menyampaikan pesan yang sama kepada puluhan manajer. “Itu tanda bahwa kami sudah sejalan dalam nilai dan tujuan,” ujarnya.





