Dalam sejarah panjang gerakan mahasiswa Indonesia, nama Mahbub Djunaidi menempati tempat yang unik. Ia bukan hanya tokoh organisasi, bukan pula sekadar penulis atau wartawan. Mahbub adalah simbol: cerminan dari zaman ketika aktivisme, intelektualitas, dan keberanian berpikir bersatu dalam satu tubuh muda yang gelisah.

Lahir di Jakarta pada 27 Juli 1933, Mahbub tumbuh di tengah pergolakan kemerdekaan. Ia menyaksikan bagaimana bangsa baru ini berusaha berdiri di atas kakinya sendiri, dengan segala idealisme dan luka yang menyertainya. Di masa itulah, darah aktivisme mulai mengalir dalam dirinya — dan ia tak pernah berhenti percaya bahwa mahasiswa bukan sekadar pelajar, melainkan penggerak sejarah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dari HMI ke PMII:

Sebagai mahasiswa muda yang haus gagasan, Mahbub aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), salah satu organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia. Tapi dalam pergulatan pemikiran yang panjang, ia merasa ada ruang yang perlu dibangun — wadah bagi mahasiswa yang ingin berpikir kritis tanpa kehilangan akar tradisi Islam ala Nahdlatul Ulama.

Dari kegelisahan itu lahirlah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada tahun 1960. Dan Mahbub, dengan kecerdasannya yang khas dan gaya berpikir yang jenaka tapi tajam, dipercaya menjadi Ketua Umum PMII pertama.

Bagi Mahbub, mendirikan PMII bukan sekadar membangun organisasi baru, tapi membangun kesadaran baru. Ia ingin agar mahasiswa Islam tidak hanya sibuk berdebat soal dogma, tapi juga peduli pada persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang menimpa rakyat.

Ia menulis dan berbicara tentang Islam yang membebaskan, bukan membatasi. Ia menyebut mahasiswa sebagai “anak zaman” — yang tugasnya bukan melawan orang tua, tapi melawan kejumudan.

“Mahasiswa harus belajar berpikir, bukan sekadar menghafal. Karena bangsa yang tidak berpikir akan mudah diperintah,” ujarnya dalam salah satu pidato organisasi.

Aktivisme yang Mengakar pada Nurani

Berbeda dari banyak aktivis sezamannya yang keras dan konfrontatif, Mahbub membawa warna baru: aktivisme yang cerdas, lembut, tapi menggigit. Ia lebih memilih menertawakan kekuasaan ketimbang memakinya, karena baginya humor adalah senjata yang paling beradab dalam perlawanan.

Ia mampu menjembatani aktivisme dan intelektualisme. Dalam rapat-rapat organisasi, ia bisa berdiskusi serius tentang teori sosial Barat, lalu menutupnya dengan lelucon khas Betawi yang membuat semua orang tertawa. Tapi di balik tawa itu, selalu terselip pesan: berpikirlah dengan jujur, bertindaklah dengan hati.

Mahbub melihat mahasiswa bukan sebagai elite intelektual yang hidup di menara gading, melainkan bagian dari rakyat yang harus turun ke jalan bila keadilan dilanggar. Aktivisme baginya bukan tentang demonstrasi, melainkan cara hidup — keberanian untuk bersuara ketika orang lain diam.

Dari Jalanan ke Meja Redaksi

Ketika dunia mahasiswa mulai ditinggalkannya, Mahbub tak berhenti menjadi aktivis. Ia hanya mengganti medan pertempuran: dari jalanan ke ruang redaksi. Pena menjadi tongkat perlawanan barunya.

Ia masuk dunia jurnalistik dan akhirnya menjadi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) periode 1965–1970. Di masa penuh gejolak politik itu, ia mempertahankan idealisme pers sebagai penjaga nurani publik.

Sebagai wartawan, Mahbub tidak menulis untuk menyenangkan kekuasaan. Ia menulis untuk menjaga akal sehat bangsa. Tulisan-tulisannya yang muncul di berbagai surat kabar, termasuk Kompas dan Tempo, menjadi saksi bagaimana seorang aktivis sejati tetap bisa berjuang tanpa harus berteriak di jalanan.

Aktivis yang Tidak Pernah Pensiun

Bagi Mahbub, menjadi aktivis tidak berhenti ketika seseorang lulus kuliah. Aktivisme adalah cara berpikir dan cara hidup. Ia membawa semangat mahasiswa itu ke setiap ruang — ruang redaksi, ruang debat, bahkan ruang sastra.

Ia menulis cerpen, esai, dan kolom dengan gaya khasnya: ringan, lucu, tapi sarat pesan moral. Dalam setiap kalimatnya, selalu ada kesadaran sosial yang tajam dan kemanusiaan yang dalam. Ia tidak pernah kehilangan keberpihakannya pada rakyat kecil.

Ketika banyak orang memilih diam pada masa-masa sulit, Mahbub tetap menulis. Ia tahu, dalam keadaan di mana kebebasan dibatasi, tulisan bisa menjadi bentuk perlawanan paling beradab.

Mahbub Djunaidi wafat pada 1 Oktober 1995. Namun warisannya tidak pernah mati. PMII yang ia dirikan terus hidup dan melahirkan banyak pemimpin bangsa. Tulisan-tulisannya masih relevan, karena nilai-nilai yang ia bawa — kejujuran, akal sehat, dan humor — selalu dibutuhkan dalam setiap zaman.

Dalam pandangan banyak aktivis muda, Mahbub bukan hanya pendiri organisasi, tapi juga pendiri cara berpikir. Ia mengajarkan bahwa intelektualisme dan spiritualitas bisa berjalan berdampingan. Bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya soal gelar, tapi tentang keberanian berpihak pada kebenaran.

Mahbub pernah menulis, “Kita boleh berbeda pandangan, tapi jangan berbeda cinta pada negeri ini.”

Kalimat itu seperti epitaf yang sederhana namun abadi — menggambarkan seorang aktivis sejati yang berjuang tanpa kebencian, berpikir tanpa pamrih, dan menulis dengan hati yang penuh cinta pada Indonesia.