Persoalan cinta emang tak ada habisnya, cinta adalah pepohanan yang rindang, menampung dan memeluk bumi dengan kenyamanan. Cinta adalah sapi yang dikerap, menanggung beban demi sang tuan. cinta adalah ladang yang dibajak, rela mengkoyakkan tubuhnya dalam penggemburan. Cinta adalah surau, menenggelamkan dirinya dalam kebisingan hamba dan tuhanNya. Cinta adalah cinta, begitupun bagaimana tempatmu mendefinisikannya.

Saban hari, saat hujan mengguyur habis perjalanan petang, aku berteduh, sambil menerka waktu yang akan habis dalam teduhan itu. Ah, hujan selalu menontonkan memoar yang kirap tenang namun menusuk dada. Lukisan seolah timbul persis di depan mata yang dilanda kesunyian, ingatan mulai menari berirama dengan petikan nada. Kemudian, pementasan dimulai, lewat lagu yang melekat ditelinga. Memoar itu kini hadir dalam teduhan dengan kaki yang glanjotan, aku menyaksikan lakon yang dulu pernah kumainkan dengannya, di bulan juni.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Apa yang sebenarnya terjadi dalam cinta?. Konon, para leluhur mengatakan; cinta adalah usaha pembebasan diri dari patah hati. Barangkali begitu. Kusaksikan lakon pertama yang muncul. Plassshh, dunia kini berubah. Memposisikan diriku dibibir pantai yang tersulam ikatan antara laut dan darat. Sulaman yang kokoh, sebab tempat itu kian dijadikan sandaran para nelayan dan remaja yang beradu nasib dengan langit sore. Begitupun aku dengannya.

Namanya han, pemuda tirus, memiliki warna kulit sawo matang dan mata yang sayu. Cukup tampan, menurutku. kebahagiaan memancar sendiri saat di dekatnya, ucapan dan tingkahnya kerap menghipnotis lebih dari dady conbuzer. Han, kalau saja tingkahmu lebih mulus dari percak di lututmu, sudah kupacari kau sebelum padi mulai ditanam. Tapi apalah daya, cinta ini tak berdaya dengan kekurangan yang kau tampilkan sebelum permainan dimulai. Ku tatap han, dan han menatapku. Jantungku berdetak dengan denturan ombak. “Lai, pacaran yuk”. Tapi, Roy keburu datang sebelum jawaban ku lontarkan.

Maka terjadilah yang terjadi. Tarian cinta dimulai dengan aroma kasturi dan refflesia arnoldi. Jawaban tak pernah pasti antara aku dan han, ia membrutal. Tapi, aku tak memberi apa yang dia minta, sebab cintanya tidak pernah setulus lautan pada nelayan. Kubiarkan tangisnya melengking dilangit penuh bintang. Kubiarkan nafasnya menjadi kemarahan yang abadi. Sebab ku tahu, yang ia inginkan adalah keperawanan. Barangkali aku bisa memberikannya, agar tangisan itu mereda. Sebab tangisan yang dibuatnya mengganggu para bayi yang baru  lahir atau para gadis yang dibuat iba kepadanya. Tapi, biarlah rasa ini mengalir dengan kehampaan.

Dari sekian persoalan yang kutampis dengan pilaku han yang makin menjadi, aku menjalani hidup selayaknya manusia yang haus dengan ambisi, ah, betul sekali kata mereka, manusia adalah makhluk yang paling sibuk akan dunia ketimbang makhluk lainnya. Barangkali tuhan memberikan kita akal agar menciptakan pembaruan dalam karyaNya, akal yang buas, siap memangsa segala pengetahuan yang tesembunyi dan menyimpan jawaban dari segala tanda-tanya. Tak pernah ada yang cukup dalam dunia ini, nyawa, nafsu, keinginan, ketakutan menjalar seiring dengan denyutan nadi. Di umur 27 ini, aku bekerja sambil kuliah, dua hal tersebut cukup mengisi ruang dan waktu.

Jadwal kuliahku hanya 4 kali dalam seminggu dan 5 kali seminggu untuk jam kerja. Maka di hari ke lima, ku tuntaskan segala urusan pelajaran dan pekerjaan, sebab di hari sabtu dan minggu adalah hari tenang, hari untuk diri sendiri. Dan saat ini, dipertengahan sudut kota, aku menepi, menikmati sajian kopi paling mutakhir se-kota. Tenang rasanya, menyendiri dan menghabisakan waktu tanpa beban. Ping. Ada pesan, dari anta.

“lai, han bikin ulah sama cewek.”

“Bukan han Namanya kalau ga bikin ulah, ta.”

“dia ngebunuh pacarnya, coba liat berita, Laii!!.”

“Astagaa”

Maka secepat informasi menjalar dalam dunia ini, tak perlu se-jam untuk menganalisa kebenaran pesan temanku. Percaya tidak percaya, namun ini Han, sikapnya yang problematik sudah pasti memicu kericuhan publik. Aku mengeram membaca berita tentang han, kukumpulkan semua informasi keberannnya. dunia heboh. kaum feminis menuntut hukuman yang kejam kepada pelaku. sosok perempuan yang mati dibakar han, mulai terbaca identitasnya. Duka kedua orangtua korban tersorot diberbagai media. Berbagai opini public kian berseliweran disegala tempat. Astaga han, kali ini dia benar-benar gila.

Aku ga berpikir dua kali untuk melakukan hal ini. Menghampiri han, dan meminta penjelasan singkat untuk mengembalikan ketenangan pikiranku. Setelah tawar menawar dengan pihak kepolisian, aku diberi waktu 20 menit. Ah, entahlah mengapa keberanian menemui han ini muncul setelah 1 tahun aku menjauh darinya. Di ruangan 4×4 dengan udara yang pengap, kutatap wajah han yang sayu, tidak seperti biasanya, han tidak balik menatapku.

“aku akan menanggungnya, lai.” Han memulai percakapan, setelah beberapa saat lengang. garis wajahnya menunjukkan kepedihan.

“aku tidak pernah mencintai perempuan itu. Tapi dia mencintaiku. Dia yang memberikan tubuhnya kepada tubuhku. Dia yang membakar tubuhnya dihadapanku setelah pengakuanku bahwa aku tidak mencintainya. Tapi kubiarkan dia meninggal dalam kobaran api itu. Sebab itu yang dia pilih. Ia lebih memilih mati membawa janin dirahimnya ketimbang hidup tanpa cinta.” Nafasnya berderu dengan isak tangis yang tak terbendung. Han manatapku.

“tapi lai, aku tidak peduli bagaimana alam menghukumku. Kubiarkan mereka menuliskan sejarah keji tentang hidupku, sebagaimana kubiarkan Wanita itu terbakar. Kubiarkan alam menunjukkan nasibku selanjutnya.” Lengang

“aku mencintaimu lai. aku tahu kau mencintaiku, tapi aku tidak pernah tahu bagaimna cinta itu bekerja dalam dirimu. Terimakasih sudah menjengukku sebelum nasibku ditetapkan.” Aku masih terpaku menatap tubuh han di hadapanku.

“han, boleh aku peluk?.” Tak perlu menunggu, tubuh han kian melebur dalam pelukanku, tubuhnya hangat, persis seperti yang kurasakan dalam pertemuan terakhir kita. pelukan yang sesekali kurindukan. Semenit kemudian aku beranjak, meninggalkan tatapan han yang menuntun  kepergianku. Dan ini merupakan pertemuan terakhir aku dan han.

Perjalanan pulang kali ini begitu berat. Persoalan-persoalan kian mucul dalam benakku. Benarkah yang diucapkan han, bahwa aku mencintainya?, benarkah bukan han yang membunuh Wanita itu?, benarkah kekacauan hidup han terjadi karenaku?, siapa yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, haruskah aku menceritakan kepada semua orang tentang cerita han tadi, tapi dunia sudah menetapkan bahwa han lah yang bersalah dalam kasus ini. Apa han berbohong kepadaku, agar aku iba?. Ah, sudahlah.

Kejidian itu sepertihalnya mimpi yang Panjang, ada hal ganjil yang tak pernah kutemukan, jawaban dari tanda tanya, siapa yang salah?, pertanyaan yang kian muncul saat ini, kemarin, esok, atau mungkin sirna dengan sendirinya. Sebab, perbincangan tentang kasus han kian redup dengan prihal lainnya. Perjalanan waktu kian menghadirkan pertunjukan-pertunjukan lain yang lebih mamukau. Tapi kepedihan selalu menghantui, bahwa tidak ada malam segalap lupa, dan hujan selalu mengabadikannya sebagai kisah yang perlu ditontonkan, layaknya hujan di bulan juni.