PAMEKASAN — Pengaderan Anggota Baru (PAB) Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB) Pamekasan 2026 tidak hanya menjadi ruang pengenalan organisasi. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses menyiapkan mahasiswa santri agar mampu mengambil peran dan eksis di lingkungan kampus.

Sekitar 70 peserta mengikuti rangkaian PAB yang digelar di Yayasan Hidayatul Ulum, Mapper, Kecamatan Proppo, Pamekasan. Kegiatan tersebut kemudian ditutup melalui closing ceremony, Minggu (20/9/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

PAB menjadi tahap awal bagi kader baru untuk membangun kapasitas, memahami nilai organisasi, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dinamika kehidupan kampus.

Bagi FKMSB, kaderisasi tidak berhenti ketika rangkaian PAB selesai. Kader baru justru dihadapkan pada tantangan berikutnya, yakni menerjemahkan pengetahuan dan nilai yang diperoleh selama proses pengaderan ke dalam aktivitas nyata.

Ketua DPW FKMSB Pamekasan, Masruhil, mengatakan proses kaderisasi harus mampu melahirkan kader yang memiliki semangat pengabdian sekaligus rasa memiliki terhadap organisasi.

Menurutnya, semangat tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan organisasi. Kader baru diharapkan tidak hanya menjadi anggota secara administratif, tetapi memiliki keterikatan dengan organisasi dan bersedia mengambil peran dalam berbagai ruang pengabdian.

“Kader FKMSB harus memiliki semangat pengabdian dan rasa memiliki terhadap FKMSB,” ujar Masruhil.

Setelah PAB berakhir, kader dituntut terus mengembangkan diri. Kampus menjadi salah satu ruang penting untuk mengimplementasikan kapasitas tersebut.

Sementara itu, Ketua DPW FKMSB Pusat, Nurisul Anwar, menegaskan bahwa PAB tidak boleh dipandang sebagai akhir dari proses kaderisasi.

“Ini adalah langkah awal, bukan akhir. FKMSB adalah forum pengabdian,” kata Nurisul.

Kader baru perlu mendapatkan ruang untuk berkembang, baik dalam kapasitas intelektual maupun kemampuan sosial.

Mahasiswa Santri Dituntut Seimbang

Dalam proses pengkaderan, pesan tentang pentingnya keseimbangan antara ilmu dan akhlak turut disampaikan Ketua Umum Pengurus Pondok Pesantren Banyuanyar sekaligus salah satu pendiri FKMSB, Moh. Khalil Asy’ari.

Ia menekankan pentingnya niat dalam menjalankan pengabdian melalui FKMSB. Pengabdian tersebut diarahkan kepada Allah dan Rasul-Nya, Pondok Pesantren Banyuanyar, serta masyarakat.

Pesan tersebut menjadi salah satu bekal penting bagi kader yang akan menjalani kehidupan kampus. Kemampuan akademik perlu berjalan bersama karakter dan akhlak agar kader tidak hanya memiliki kecakapan intelektual, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuannya untuk memberikan manfaat.

Dengan bekal tersebut, mahasiswa santri diharapkan mampu membawa identitas dan nilai pesantren ke ruang akademik tanpa kehilangan kemampuan beradaptasi dengan dinamika kampus.