Analisa, Banyuwangi – Kemacetan panjang terjadi di kawasan menuju Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Minggu (15/3). Antrean kendaraan dilaporkan mengular hingga sekitar 37 kilometer dari pelabuhan.

Pantauan Google Maps menunjukkan ekor antrean kendaraan berada di wilayah Kota Negara yang berjarak sekitar 37 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menanggapi kondisi tersebut, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menyatakan telah mengoptimalkan layanan penyeberangan di lintasan Ketapang–Gilimanuk seiring meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang angkutan Lebaran serta penutupan operasional penyeberangan saat Hari Raya Nyepi.

Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale, mengatakan saat ini sebanyak 35 kapal dioperasikan secara nonstop selama 24 jam untuk melayani arus kendaraan dan penumpang dari Bali menuju Jawa.

“Saat ini, sebanyak 35 kapal dioperasikan secara nonstop selama 24 jam untuk melayani arus kendaraan dan penumpang dari Bali menuju Jawa,” kata Windy, Minggu.

Ia menuturkan peningkatan pergerakan kendaraan terjadi seiring tingginya mobilitas masyarakat serta kendaraan logistik yang hendak menyeberang ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, menjelang penutupan layanan penyeberangan saat Nyepi pada 18–20 Maret 2026.

“ASDP menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan sebagian pengguna jasa,” tambahnya.

Untuk menjaga kelancaran layanan, ASDP menambah tujuh kapal dari pola operasional normal sebanyak 28 kapal, sehingga saat ini total 35 kapal beroperasi secara bergantian selama 24 jam di lintasan Ketapang–Gilimanuk.

Selain penambahan armada, enam kapal menerapkan pola operasional TBB (Tiba–Bongkar–Berangkat) guna mempercepat siklus layanan kapal di pelabuhan. Kapal yang tiba langsung melakukan proses bongkar muatan dan kembali berlayar tanpa melakukan pemuatan kendaraan di pelabuhan tersebut.

Operasional lintasan Ketapang–Gilimanuk juga didukung 17 dermaga aktif, terdiri dari sembilan dermaga di Pelabuhan Ketapang dan delapan dermaga di Pelabuhan Gilimanuk.

“Dermaga LCM difokuskan melayani kendaraan logistik guna menjaga kelancaran distribusi barang sekaligus memisahkan arus kendaraan besar dengan kendaraan penumpang,” jelasnya.

ASDP juga melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk KSOP, Kepolisian, TNI, dan pemerintah daerah untuk mengatur operasional di lapangan serta memastikan pergerakan kendaraan di kawasan pelabuhan tetap terkendali.