Pamekasan — Kirab budaya mewarnai kunjungan Keraton Surakarta Hadiningrat ke makam leluhur di Pamekasan, Madura, dalam rangkaian kegiatan Muhibbah Budaya, Senin (16//26). Rombongan Keraton bersama keluarga melakukan nyadran atau ziarah ke makam Bandoro Raden Ayu, permaisuri Pakubuwono IV, yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Bupati Pamekasan pada masanya.
Kegiatan tersebut dipusatkan di Pendopo Budaya Pamekasan dan disambut langsung oleh Wakil Bupati Pamekasan Sukriyanto bersama jajaran pemerintah daerah serta Dewan Kesenian Pamekasan. Sejak pagi, suasana pendopo dipenuhi nuansa adat Jawa dan Madura sebagai simbol pertemuan dua budaya yang memiliki ikatan sejarah.
Wakil Bupati Pamekasan Sukriyanto menyampaikan, kunjungan itu merujuk pada fakta sejarah bahwa Bandoro Raden Ayu merupakan putri Bupati Pamekasan R Alsari atau Adipati Tjokro Adiningrat I. Dengan demikian, terdapat garis keturunan Madura dalam keluarga Keraton Surakarta.
“Bisa dikatakan keluarga Keraton Surakarta masih berdarah Madura, karena istri Raden Ajeng Handoyo PB IV melahirkan raja-raja pada saat itu,” ujarnya.
Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu Wandansari, yang akrab disapa Gusti Moeng, menegaskan bahwa ziarah tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus mempererat silaturahmi budaya.
“Kami berkesempatan nyekar terhadap makam eyang kami yang merupakan mertua dari PB IV. Ini menjadi momentum untuk kembali mengingat dan merawat sejarah keluarga,” katanya.
Usai prosesi doa dan tabur bunga, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kirab budaya menuju makam Raden Alsari di Kolpajung, Pamekasan. Kirab berlangsung khidmat dengan iringan kesenian tradisional dan pengawalan dari Dewan Kesenian Pamekasan.
Ketua Dewan Kesenian Pamekasan Arief Wibisono mengatakan, kirab tersebut digelar atas permintaan keluarga Keraton sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur serta penegasan hubungan historis antara Surakarta dan Pamekasan.
Melalui Muhibbah Budaya ini, diharapkan hubungan kultural antara Keraton Surakarta dan masyarakat Madura, khususnya Pamekasan, semakin erat serta menjadi pengingat akan kuatnya simpul sejarah yang menyatukan keduanya.





