Jakarta– Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, menegaskan pihaknya tetap menyuarakan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) meski di tengah situasi teror dan intimidasi yang ia alami dalam beberapa waktu terakhir.

Tiyo Ardianto mengaku dirinya dikuntit oleh orang tak dikenal, menerima pesan ancaman, hingga mendapat intimidasi berupa ancaman penculikan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ia menduga teror tersebut berkaitan dengan sikap kritis yang ia dan jajaran BEM UGM sampaikan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, khususnya program MBG.

“Ada pesan yang meminta saya menghentikan kritik, bahkan ada ancaman penculikan,” ujarnya.

Di tengah tekanan tersebut, BEM UGM tetap menyampaikan kritik secara terbuka. Dalam pernyataannya, Tiyo Ardianto menilai Presiden terlalu dominan membahas program MBG dalam berbagai forum resmi. Ia bahkan menyebut Presiden seperti “SEO MBG” karena dinilai terus mempromosikan program tersebut dalam setiap kesempatan.

“Di berbagai pidato dan forum, apa pun temanya, selalu kembali ke MBG. Respons terhadap kritik pun kembali lagi ke MBG,” kata Tiyo.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat publik sulit membedakan peran Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, karena komunikasi yang dibangun terkesan seperti mempromosikan satu program tertentu secara terus-menerus.

Selain itu, BEM UGM juga menyoroti aspek penganggaran program MBG. Sejak September, mereka mengaku telah mengingatkan agar anggaran pendidikan tidak dialihkan untuk membiayai program tersebut. Mereka menilai tujuan MBG yang berfokus pada pengentasan stunting dan peningkatan gizi lebih tepat menggunakan anggaran kesehatan.

“Anggaran pendidikan tidak boleh dirampas untuk makan bergizi gratis. Pendidikan adalah mandat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” tegasnya.

BEM UGM menilai pengalihan anggaran pendidikan berpotensi mengganggu kualitas layanan pendidikan dan bertentangan dengan prioritas pembangunan sumber daya manusia dalam jangka panjang.