Analisa, Jakarta – Penentuan juara Dangdut Academy 7 (DA7) yang sepenuhnya mengandalkan akumulasi virtual gift menjadi sorotan publik di berbagai platform media sosial. Skema tersebut menempatkan dukungan digital penonton sebagai faktor utama dalam menentukan peringkat akhir peserta, sementara penilaian teknis dari dewan juri tidak lagi menjadi penentu langsung hasil juara.

Berdasarkan pengumuman resmi hasil akhir, Tasya asal Tangerang Selatan dinobatkan sebagai juara pertama dengan perolehan 406.360.300 juta koin virtual gift. Posisi berikutnya ditempati Valen dengan 359.843.300 juta koin, sementara peringkat ketiga diraih April asal Cirebon.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Mekanisme tersebut memicu perbincangan luas di media sosial. Sejumlah warganet menilai sistem kompetisi bergeser dari ajang adu kualitas vokal dan teknik bernyanyi menjadi pertarungan bisnis. Persepsi tersebut muncul seiring absennya pengaruh langsung penilaian juri dalam penentuan juara akhir.

Kritik paling masif terlihat di akun TikTok resmi Indosiar, khususnya pada unggahan pamflet pengumuman juara pertama. Kolom komentar dipenuhi respons bernada kecewa hingga sindiran dari pengguna media sosial.

Beberapa komentar yang muncul di antaranya ditulis akun @MariaUlfa96 yang menyebut, “Juara 1 tergagal sepanjang sejarah Ini mah lebih buruk dari KDI.”

Akun @beatzzie menuliskan, “Seumur hidup baru kali ini lihat juara 1 DA panen hujatan.”

Sementara akun @babiibabe menyebut, “Juara DA tergagal sepanjang masa.”

Komentar lain datang dari @MIMI PIO REAL yang menulis, “Indosiar tahun ini gagal memilih yang berkualitas.”

Akun @Gazal | Digital menyampaikan kekecewaannya dengan menuliskan, “Nyesal ngehina KDI, ternyata lebih buruk yang gua bangga-banggakan.”

Sedangkan akun @ciaa menuliskan, “Yang terbaik belum tentu menang, tapi yang berduit sudah pasti dipandang.”

Skema ini lazim digunakan dalam berbagai program hiburan digital, namun penerapannya memunculkan perdebatan mengenai keadilan penilaian.