Analisa, Kolom – Viralnya tayangan Trans7 yang menyinggung pesantren menjadi perbincangan luas di ruang digital. Fenomena ini mendapat sorotan dari Fahrur Rozi, CO. Divisi Litbang Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB), yang menilai peristiwa tersebut kelalaian media, bahkan ujian bagi kepekaan intelektual para kader mahasantri dalam memahami isu publik.
“Kita tidak boleh hanya jadi penonton dari hiruk-pikuk viralitas. Kader FKMSB harus tajam membaca arah isu, memahami konteksnya, dan hadir membela kebenaran dengan akal sehat,” tegas Fahrur, Selasa (15/10).
Menurutnya, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi sering kali membuat masyarakat terjebak dalam euforia reaksi cepat, tanpa sempat menimbang data dan substansinya, kondisi semacam ini, Mahasiswa santri harus tampil sebagai garda rasional dan moral.
“Jangan biarkan akal kita tumpul di era gencarnya isu publik. Santri itu pewaris ilmu, harus tangkas bereaksi, tapi perlu menimbang, meneliti, dan meluruskan arah,” ujarnya.
Ia menegaskan, tayangan yang menyentuh marwah pesantren tidak bisa dibiarkan tanpa kritik. Namun, kritik itu harus hadir secara elegan, berbasis pengetahuan, dan berpijak pada nilai-nilai kebenaran, bukan kemarahan.
“Kebenaran tidak bisa diperjuangkan dengan emosi. Ia harus diperjuangkan dengan data, nalar, dan kesadaran. Inilah karakter yang membedakan kader FKMSB dari mereka netizen reaktif,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa ruang publik hari ini dipenuhi kepentingan dan framing. Karena itu, kemampuan analisis menjadi benteng penting bagi kader agar tidak mudah digiring oleh narasi yang menyesatkan.
“Setiap isu adalah ujian bagi daya kritis kita. Jika kita diam, kebenaran akan dipelintir, kalau kita gegabah, kebenaran akan kehilangan wibawanya. Maka FKMSB harus hadir dengan sikap yang cerdas dan terukur,” tambahnya.
Menutup pandangannya, Fahrur menyerukan agar seluruh kader FKMSB menjaga semangat berpikir kritis dan keberanian moral dalam membela kebenaran, apa pun bentuk isunya.
“Jangan biarkan fungsi kebenaran dipermainkan oleh kepentingan. Tugas kita menjaga akal tetap hidup dan hati tetap jernih. Sebab santri yang berhenti berpikir, sejatinya sedang berhenti memperjuangkan nilainya,” pungkasnya.





