Analisa, Bola – Sepak bola Indonesia tengah mengalami turbulensi tajam setelah serangkaian hasil negatif yang menimpa Tim Nasional Indonesia di semua tingkatan usia. Dari senior, U-23 hingga U-20, prestasi yang diharapkan justru berubah menjadi sorotan kegagalan, memperuncing kritik terhadap kepemimpinan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir.

Pesatnya tekanan publik, manajer timnas Sumardji akhirnya mengundurkan diri, menandai babak baru evaluasi besar-besaran dalam struktur manajemen tim nasional.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Semenjak gagalnya Timnas senior Indonesia sirna untuk melanjutkan mimpi tampil di Piala Dunia 2026 setelah dua kekalahan krusial dari Arab Saudi (3-2) dan Irak (1-0) di putaran akhir kualifikasi zona Asia, yang menutup peluang Indonesia tampil di pentas dunia untuk pertama kali sejak 1958.

Meskipun Erick Thohir mencoba mengapresiasi perjuangan tim dan menegaskan pencapaian sejarah lolos ke putaran keempat kualifikasi, permintaan maaf terbuka juga disampaikan melalui akun media sosialnya, mencerminkan besarnya kekecewaan publik dan pencapaian yang tidak sesuai target.

Penunjukan Patrick Kluivert sebagai pelatih pada Januari 2025 sempat menuai harapan baru, namun hanya bertahan kurang dari setahun. Kerja sama dengan pelatih asal Belanda ini berakhir dengan mutual terminationkontrak setelah gagal mencapai target yang dijanjikan, termasuk kegagalan mencetak hasil stabil di kualifikasi.

Kritik makin tajam ketika keputusan untuk memecat pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong, yang sempat membawa tim lebih kompetitif dengan hasil-hasil stabil di fase awal kualifikasi, dianggap prematur dan kontraproduktif oleh banyak analis sepak bola, terutama ketika masa transisi tak diikuti perencanaan teknis kuat.

Tingkat kekalahan tak hanya dialami tim senior. Timnas U-23, yang sebelumnya menjadi juara dan harapan masa depan sepak bola nasional, gagal mempertahankan prestasi tersebut di SEA Games 2025. Indonesia tersingkir di fase grup sebuah hasil memalukan untuk tim yang sebelumnya berstatus juara bertahan.

Lebih jauh lagi, di ASEAN U-23 Championship final 2025, Indonesia kalah 0-1 dari Vietnam, memperlihatkan regresi performa dari juara tahun-tahun sebelumnya dan ketidakmampuan mempertahankan level tertinggi kompetitif regional.

Setelah kekalahan mengecewakan tim nasional di SEA Games 2025, Sumardji resmi mengundurkan diri sebagai manajer Timnas Indonesia, mencakup senior dan kelompok umur, menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada PSSI untuk mencari figur pengganti yang dianggap lebih tepat.

Keputusan ini dipandang sebagai indikator dari kegagalan manajemen tingkat tinggi dalam membangun strategi jangka panjang yang kuat, bukan sekadar pergantian pelatih dan keputusan ad hoc. Sumardji sendiri menyatakan keputusan mundur sebagai bentuk tanggung jawab, namun langkah ini juga mencerminkan tekanan publik dan internal yang semakin intens.

Kebijakan naturalisasi pemain keturunan Eropa, yang digalakkan di masa kepemimpinan Erick Thohir, awalnya dianggap sebagai strategi untuk mempercepat peningkatan kualitas tim. Namun kritik publik menilai hal ini justru membuat identitas tim nasional tergeser dan tidak terlihat sebagai solusi jangka panjang bagi pembangunan sepak bola nasional.

Selain itu, langkah pemecatan Shin Tae-yong yang sempat membawa momentum positif  termasuk sukses mencetak hasil mengejutkan seperti kemenangan atas Arab Saudi di salah satu laga dinilai terlalu impulsif dan memecah fokus tim.

Ekskalasi kegagalan di semua level menimbulkan kritik tajam terhadap arah kebijakan PSSI di bawah Erick Thohir. Banyak pengamat dan analis menyoroti kurangnya blueprint teknis yang jelas, kesan politisasi keputusan tim pelatih, dan kurangnya pembinaan pemain muda yang berkelanjutan sebagai faktor utama di balik penurunan prestasi secara umum.

Meski ada argumen bahwa pencapaian seperti mencapai putaran keempat kualifikasi Piala Dunia merupakan langkah positif, hasil akhirnya tetap dianggap gagal bila target tampil di level tertinggi tidak tercapai terutama setelah investasi besar dalam naturalisasi pemain dan perubahan pelatih yang mahal secara reputasi.