Analisa, Bali – Persoalan sampah di Bali kian mendesak. Di tengah produksi ribuan ton sampah setiap hari, penanganannya dinilai belum sebanding. Sorotan pun mengarah pada kepemimpinan Gubernur Bali, Wayan Koster, yang kembali menjabat untuk periode 2025–2030.


Berdasarkan data pemerintah daerah, timbulan sampah di Bali mencapai sekitar 3.400 ton per hari. Namun, kapasitas pengelolaannya belum mampu menampung seluruh volume tersebut, sehingga ribuan ton sampah masih belum tertangani secara optimal setiap harinya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kondisi ini menandakan persoalan pengelolaan sampah di Bali belum sepenuhnya terselesaikan, meskipun berbagai kebijakan telah dicanangkan sejak periode kepemimpinan sebelumnya.

Di sisi lain, penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung turut memperumit situasi. Selama ini, TPA tersebut menjadi salah satu titik utama pembuangan sampah di kawasan Denpasar dan sekitarnya.

Tanpa kesiapan sistem pengganti yang matang, beban penanganan kini tersebar dan memicu penumpukan di sejumlah titik.

Dampaknya mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.

Zainal, pedagang ayam potong di Jimbaran, mengaku kesulitan membuang limbah usahanya.


“kami ini sulit sekarang buang bulu ayam saja kita ditolak sementara sampah menunpuk untuk pengambilan saja tak ada,” ujarnya.

Keluhan serupa datang dari warga Denpasar, Kadek Sulistiana.


“kami semua merasakan bagaimana sulitnya penanganan sampah dibali, sementara sehari saja bisa ribuan sampah yang belum teratasi,” katanya.

Situasi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara produksi sampah yang tinggi dengan kesiapan infrastruktur dan sistem pengelolaannya.

Publik menaruh perhatian pada langkah strategis pemerintah provinsi di bawah kepemimpinan Wayan Koster bersama Wakil Gubernur I Nyoman Giri Prasta. Keduanya kembali memimpin Bali untuk periode 2025–2030, setelah sebelumnya menjalankan pemerintahan pada periode 2018–2023.

Sejumlah pihak menilai, kebijakan pengelolaan sampah yang telah berjalan perlu dievaluasi secara menyeluruh, terutama pada aspek implementasi di lapangan. Upaya pengurangan sampah dari sumber, peningkatan fasilitas pengolahan, hingga penguatan koordinasi antar daerah menjadi pekerjaan yang belum sepenuhnya tuntas.