Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa dalam 36 jam terakhir Amerika Serikat bersama para sekutunya telah meluncurkan operasi militer besar-besaran bertajuk Operation Epic Fury terhadap Iran.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut operasi tersebut sebagai salah satu ofensif militer terbesar, paling kompleks, dan paling dahsyat yang pernah dilakukan dunia. Ia mengklaim ratusan target di Iran telah diserang, termasuk fasilitas Garda Revolusi Iran serta sistem pertahanan udara negara tersebut.
Trump juga mengatakan bahwa sembilan kapal beserta fasilitas pembangunan kapal angkatan laut Iran berhasil dihancurkan “dalam hitungan menit”. Selain itu, ia mengumumkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Jame, telah tewas dalam operasi tersebut. Ia menuduh sosok tersebut bertanggung jawab atas kematian ratusan hingga ribuan warga Amerika dan ribuan warga sipil di berbagai negara.
Menurut Trump, setelah pengumuman kematian itu, masyarakat Iran turun ke jalan untuk merayakan. Ia juga mengklaim bahwa seluruh jajaran komando militer Iran telah dilumpuhkan, dan banyak di antara mereka kini berupaya menyerah dengan meminta imunitas.
Operasi militer, lanjutnya, masih terus berlangsung dan akan berlanjut hingga seluruh tujuan Amerika Serikat tercapai. Ia menyebut tujuan tersebut sebagai “sangat kuat” dan menegaskan bahwa tindakan ini diperlukan untuk mencegah Iran memiliki rudal jarak jauh dan senjata nuklir.
Trump juga mengungkapkan bahwa tiga personel militer Amerika Serikat gugur dalam operasi tersebut, sebagaimana diumumkan oleh United States Central Command (Sentcom). Ia menyampaikan duka cita kepada keluarga korban dan berjanji Amerika akan membalas kematian mereka.
Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki militer terkuat di dunia dan menyatakan bahwa kekuatan tersebut kini digunakan demi tujuan yang benar. Ia kembali menyerukan kepada Garda Revolusi dan aparat militer Iran untuk meletakkan senjata dan menerima imunitas, atau menghadapi konsekuensi fatal.
Trump juga menyatakan solidaritas Amerika terhadap Israel serta menyerukan rakyat Iran yang menginginkan kebebasan untuk memanfaatkan momentum tersebut dan “merebut kembali negara mereka.”
Pidato tersebut ditutup dengan doa bagi para prajurit Amerika dan seruan, “God bless the United States of America.”





