Sumenep, Analisa – Aktivitas perburuan satwa liar di kawasan perbatasan Desa Rombiya Timur dan Desa Karduluk menuai perhatian. Area yang masih memiliki vegetasi alami tersebut dinilai sebagai habitat penting bagi berbagai jenis satwa yang perlu dijaga kelestariannya.
Pemerhati lingkungan, Moh Haris, menegaskan bahwa praktik perburuan liar di kawasan itu tidak dapat dibenarkan. Ia meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi mengancam keberlangsungan satwa di wilayah tersebut.
“Wilayah perbatasan Rombiya Timur dan Karduluk masih menjadi habitat bagi sejumlah satwa. Karena itu saya tegaskan agar tidak ada perburuan liar di kawasan ini,” ujar Haris kepada analisa.co Pada Senin, (6/4) malam.
Haris mengungkapkan, kondisi keanekaragaman satwa di kawasan tersebut mengalami penurunan dibandingkan masa lalu. Ia mengingat saat masih kecil, sejumlah jenis burung masih mudah dijumpai.
“Dulu mas, waktu saya masih kecil, burung jalak masih sering terlihat di wilayah ini. Sekarang sudah tidak ada lagi, bisa dibilang punah dari kawasan ini,” katanya.
Menurutnya, tidak hanya burung jalak yang kini sulit ditemukan. Beberapa jenis satwa lain yang sebelumnya kerap terlihat juga dilaporkan semakin jarang bahkan nyaris hilang dari habitatnya.
“Selain burung jalak, dulu juga ada kepodang, cendet, tekukur, bahkan ayam hutan sering terlihat di sekitar kawasan ini. Sekarang hampir tidak pernah lagi dijumpai. Itu menandakan alam kita sedang kehilangan banyak satwa,” ungkapnya.
Ia menilai, perburuan liar berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem selain mengancam populasi satwa. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Kita harus menjaga alam dan makhluk hidup di dalamnya. Jika perburuan liar terus terjadi, maka keseimbangan ekosistem akan terganggu,” tegasnya.
Haris berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan satwa liar terus meningkat, sehingga kelestarian lingkungan di kawasan perbatasan kedua desa tersebut tetap terjaga.




