Pamekasan, Analisa— Menteri Agama RI Nasaruddin Umar meresmikan perubahan status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Sabtu (29/11/2025) malam.

Peresmian dilakukan bersamaan dengan pengesahan Gedung Rektorat dan Gedung Organisasi Mahasiswa sebagai bagian dari penguatan kelembagaan kampus.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Acara tersebut disaksikan oleh Rektor UIN Madura Saiful Hadi,  anggota Komisi VIII DPR RI Hajah Anari, Staf Khusus Menteri Agama  Ismail Jawid, serta sejumlah pejabat Kementerian Agama dan pimpinan perguruan tinggi Islam.

Dalam sambutannya, Menag menegaskan bahwa transformasi IAIN menjadi UIN Madura berjalan cepat bukan karena kedekatan personal atau intervensi politik, tetapi murni karena kesiapan kampus.

“Proses ini cepat bukan karena pertemanan, bukan karena kedekatan dengan siapa pun. Ini betul-betul keringat civitas akademika UIN Madura,” ujarnya.

Menag juga memberikan apresiasi karena UIN Madura dinilai memenuhi seluruh persyaratan formal lebih cepat dibanding sejumlah kampus lain. “Ini awal yang baik. Malam ini kita bukan sekadar wukuf, tapi sudah sampai wusul,” katanya.

Nasaruddin menekankan pentingnya UIN Madura mengambil peran sebagai pusat kajian Madura. Ia menyebut Madura memiliki potensi intelektual yang kuat, terbukti dari banyaknya mahasiswa Madura yang menonjol dalam berbagai seleksi nasional, termasuk program Pendidikan Kader Ulama (PKU).

“Di PKU, sekitar 40 persen peserta terbaik berasal dari Madura, dan mereka lulus dengan predikat cum laude. Bahasa Inggrisnya bagus, bahasa Arabnya seperti penutur asli. Ini menunjukkan adanya genetik intelektual yang kuat,” katanya.

Ia menegaskan bahwa UIN Madura harus menjadi rujukan untuk memahami kekhasan Madura.

“Siapa pun yang ingin mempelajari keunikan Madura, datanglah ke UIN Madura. Kampus ini harus melahirkan the new perspective of Madura,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Menag beberapa kali menyinggung makna spiritual acara yang berlangsung pada malam hari. Ia mengaitkannya dengan tradisi para nabi dan ulama yang memilih malam sebagai waktu kontemplasi.

“Malam adalah waktunya energi spiritual. Di siang hari yang aktif adalah akal, tapi di malam hari yang aktif adalah hati. Karena itu, banyak peristiwa besar dalam sejarah terjadi pada malam hari,” ucapnya.

Menag menyebutkan sejumlah contoh seperti turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad, peristiwa Isra Mikraj, dan Lailatul Qadar.

“Perkawinan antara iqra dan bismi rabbik itulah yang melahirkan insan kamil. Mudah-mudahan UIN Madura mampu mencetak insan-insan kamil itu,” katanya.

Nasaruddin juga mengajak UIN Madura meniru tradisi keilmuan Baitul Hikmah yang melahirkan banyak ilmuwan besar pada masa keemasan Islam.

“Kalau saat itu ada Nobel, maka 27 ilmuwan Baitul Hikmah pasti mendapatkannya. Saya ingin UIN Madura menjadi The New Baitul Hikmah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan Islam tidak hanya bersumber pada akal, tetapi juga intuisi, penyucian diri, dan kedalaman spiritual.

“Di perguruan tinggi umum sumber ilmunya satu: akumulasi akal. Di UIN Madura ada enam sumber pembelajaran. Dengan modal itu, kampus ini bisa melahirkan ilmuwan yang tidak hanya cerdas secara nalar, tetapi juga bening spiritualnya,” katanya.

Menag berharap status baru sebagai UIN akan membuat kampus semakin kuat dalam riset, terbuka dalam kerja sama internasional, dan konsisten memperkuat akar tradisi pesantren.

“Kampus ini harus menjadi gua Hira bagi mahasiswa, tempat lahirnya pemimpin umat dan bangsa yang brilian,” ujar Nasaruddin sebelum menutup pidato dengan doa.