Pamekasan — Kasus ditemukannya ulat pada lauk ayam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, memicu kehebohan publik. Di balik insiden tersebut, terungkap fakta bahwa dapur Yayasan SPPG Nurul Haromain selaku penyedia MBG ternyata beroperasi tanpa melibatkan tenaga ahli gizi sebagaimana diwajibkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Insiden itu mencuat setelah sekolah-sekolah di Desa Kertagena, Kecamatan Kadur, mengembalikan seluruh paket MBG yang diterima karena bau menyengat dan kondisi makanan yang dinilai tidak layak konsumsi. Ayam yang diduga sudah membusuk dan berulat itu bahkan terekam dalam sebuah video yang kemudian beredar luas di media sosial, memicu keresahan para wali murid.
Mitra Yayasan SPPG Nurul Haromain, Ahmad Madani Zakaria, mengakui adanya kelalaian dalam proses pengawasan bahan makanan. Ia juga membenarkan bahwa pihaknya belum melibatkan ahli gizi secara resmi dalam penyusunan menu MBG.
“Dalam pelaksanaannya memang belum ada ahli gizi tetap. Kami akui ada kelalaian dalam pengecekan bahan baku makanan,” ujar Ahmad saat dikonfirmasi, Sabtu (13/12/2025).
Sebelumnya, pada Kamis (11/12/2025), sedikitnya tiga hingga lima sekolah, mulai dari SDN Kertagena 1 hingga SDN Kertagena Tengah 4, menolak dan mengembalikan paket MBG kepada penyedia karena dinilai tidak layak konsumsi.
Padahal, Badan Gizi Nasional telah menegaskan bahwa setiap penyedia MBG wajib menerapkan standar ketat keamanan pangan, termasuk melibatkan tenaga ahli gizi dalam perencanaan menu, pengolahan, hingga distribusi makanan bagi peserta didik.
Kasus ini pun menuai sorotan dari berbagai pihak. Orang tua siswa meminta pemerintah daerah dan penyelenggara program untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG di Pamekasan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Keamanan pangan bagi siswa harus menjadi prioritas utama. Program ini baik, tapi pelaksanaannya harus benar,” ujar salah satu wali murid.
Hingga berita ini diturunkan, koordinasi lanjutan antara pemerintah daerah, Badan Gizi Nasional, dan penyedia MBG masih terus dilakukan untuk memastikan kepatuhan terhadap standar gizi dan keamanan pangan dalam program tersebut.





