Sumenep-Polemik pernyataan anggota DPRD Kabupaten Sumenep, Indra Wahyudi, kian memanas setelah Gerakan Transformasi Nusantara (GTN) resmi mengadukannya ke Badan Kehormatan (BK) DPRD Sumenep, Jumat (24/4/2026). Aduan tersebut disampaikan melalui audiensi langsung dengan jajaran BK, termasuk Ketua BK, dr. Virzannida.
Ketua GTN Sumenep, Abdurrahman Saleh, menilai pernyataan Indra Wahyudi di media sosial telah melampaui batas sebagai wakil rakyat. Menurutnya, pelabelan terhadap pihak yang mengkritik program pemerintah berpotensi memecah belah masyarakat.
“Melabeli orang yang tidak puas terhadap program pemerintah dan dipublikasikan di media sosial itu seakan mengajak followers membenci pengkritik,” ujar Rahman dalam audiensi.
GTN juga menilai respons Indra terhadap kritik terkesan arogan dan antikritik. Bahkan, pernyataan yang menyebut kritik sebagai “cari panggung” dinilai memperkeruh suasana publik.
“Menurut kami, ini menunjukkan sikap antikritik. Pelabelan seperti ‘anak abah’ dan ‘cari panggung’ berpotensi mengadu domba masyarakat. Dia ini pejabat atau buzzer?” tegas Rahman.
Dalam aduannya, GTN mendesak BK DPRD Sumenep untuk menjatuhkan sanksi tegas jika terbukti melanggar kode etik. Mereka juga meminta hasil kajian diumumkan secara terbuka melalui konferensi pers.
Sementara itu, Ketua BK DPRD Sumenep, dr. Virzannida, menyatakan pihaknya mengapresiasi langkah GTN yang menggunakan jalur resmi untuk menyampaikan aduan. Namun, ia menegaskan bahwa BK belum dapat mengambil keputusan sebelum proses kajian dan penyelidikan selesai.
“Aduan akan kami terima dan kaji secara menyeluruh untuk memastikan apakah terbukti melanggar atau tidak,” jelasnya.
Ia menambahkan, setiap anggota dewan memiliki tanggung jawab atas ucapan dan tindakannya di ruang publik. Karena itu, BK juga akan memberikan imbauan agar seluruh anggota DPRD lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan.
“Kami akan mengingatkan agar tidak menimbulkan kontroversi dan mispersepsi di masyarakat,” tambahnya.
Awal Mula Polemik
Kontroversi ini bermula dari unggahan Indra Wahyudi di Facebook pribadinya yang menyinggung pihak-pihak yang tidak puas terhadap program Presiden Prabowo Subianto.
Dalam unggahan tersebut, Indra menyebut bahwa ketidakpuasan terhadap program prioritas pemerintah, seperti MBG, umumnya datang dari kelompok yang ia labeli sebagai “anak abah”.
Pernyataan itu kemudian menuai respons dari GTN Sumenep yang menilai pelabelan tersebut tidak pantas dilontarkan oleh pejabat publik karena berpotensi mengandung unsur ujaran kebencian terhadap kelompok tertentu.
Menanggapi kritik tersebut, Indra Wahyudi justru menyebut reaksi GTN sebagai upaya “cari panggung”. Hal ini semakin memperuncing polemik hingga akhirnya GTN membawa persoalan ini ke BK DPRD Sumenep.
GTN juga menegaskan akan melanjutkan laporan tersebut ke Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Jawa Timur sebagai langkah lanjutan.





