Jakarta– Presiden Prabowo Subianto menggelar dialog langsung dengan para rektor dan guru besar perguruan tinggi di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, Presiden memutuskan penambahan dana riset perguruan tinggi serta mengarahkan perluasan penerima beasiswa, khususnya di bidang sains dan teknologi.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, dialog yang berlangsung sekitar tiga jam itu mendapat apresiasi dari para pimpinan perguruan tinggi. Bahkan, para rektor dan guru besar mengusulkan agar forum serupa dapat digelar secara lebih rutin.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Para rektor dan guru besar menyampaikan apresiasi karena bisa berdialog langsung dengan Presiden, dan mereka berharap forum seperti ini dapat dirutinkan,” ujar Prasetyo.

Menurut Prasetyo, taklimat Presiden kepada kalangan akademisi merupakan bentuk komunikasi langsung pemerintah dengan para pemangku kepentingan strategis. Presiden menyampaikan perkembangan kondisi bangsa, tantangan global, serta arah kebijakan dan program prioritas pemerintah ke depan.

Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo menilai rektor dan guru besar memiliki peran kunci dalam kebangkitan Indonesia di berbagai bidang. Oleh karena itu, pemerintah membutuhkan dukungan pemikiran, riset, dan inovasi dari dunia pendidikan tinggi.

Salah satu keputusan penting yang diambil Presiden adalah penambahan dana riset perguruan tinggi. Prasetyo mengungkapkan, saat ini dana riset di perguruan tinggi hanya sekitar Rp 8 triliun atau setara 0,34 persen dari APBN. Presiden kemudian memutuskan untuk menambah anggaran sebesar Rp 4 triliun.

“Tambahan anggaran ini diharapkan dapat memperkuat riset di seluruh universitas, termasuk riset yang bekerja sama dengan BRIN,” kata Prasetyo.

Presiden menegaskan, riset tersebut diprioritaskan untuk mendukung program strategis nasional, antara lain percepatan swasembada pangan, swasembada energi, serta industrialisasi dan hilirisasi. Program hilirisasi, menurut Presiden, akan mulai dilakukan secara besar-besaran dan membutuhkan sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain riset, isu beasiswa juga menjadi perhatian Presiden. Dari sekitar 9,9 juta mahasiswa di Indonesia, baru sekitar 1,1 juta yang menerima beasiswa, termasuk Kartu Indonesia Pintar (KIP). Presiden meminta agar skema dan jumlah penerima beasiswa dihitung ulang agar dapat diperluas.

Presiden juga mengarahkan agar alokasi beasiswa LPDP lebih banyak difokuskan pada bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM). Presiden berharap porsi beasiswa di bidang tersebut dapat mencapai lebih dari 80 persen untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam penguasaan iptek.

Dalam dialog itu, Presiden turut menyoroti kekurangan tenaga kesehatan, seperti dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, serta tenaga farmasi. Pemerintah berencana memperbesar daya tampung program studi kedokteran dan membuka fakultas kedokteran baru di sejumlah wilayah, dengan skema beasiswa penuh.

Presiden Prabowo juga menyinggung pentingnya kemandirian nasional di tengah dinamika geopolitik global. Ia menekankan bahwa Indonesia harus mandiri, terutama dalam bidang pangan, energi, dan teknologi, serta mendorong inovasi, termasuk pengembangan mobil nasional.

Ke depan, pemerintah akan membentuk tim lintas kementerian untuk menata ekosistem pendidikan tinggi agar selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan program prioritas nasional. Tim tersebut akan dipimpin Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan melibatkan kementerian terkait lainnya.

“Pemerintah sangat terbuka terhadap masukan dari perguruan tinggi. Selama ini komunikasi dan koordinasi sudah berjalan dan akan terus diperkuat,” ujar Prasetyo.