Saya kuliah di Universitas Madura, tepatnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Prodi Bahasa Indonesia. Percayalah, belajar bahasa indonesia tak semudah penuturannya. Sebagai contoh, menjadi mahasiswa bahasa indonesia saya dihadapi pada permasalahan ketidaksesuian tanda (kosakata) yang berseliweran di lingkungan sosial, tapi pengetahuan bukan persoalan fanatisme, paham terhadap lingkungan perlu kita terapkan di berbagai persoalan lingkungan sosial. kerap kali saya sengaja acuh pada kesalahan kosakata di slogan atau banner-banner di warung atau tempat lainnya. Pernah sekali saya memiliki tugas untuk mencari kesalahan kosakata di lingkungan sosial, kemudian saya harus memberi penjelasan kepada pemilik banner bahwa tulisannya salah, dan saya harus mengubahnya dengan cara membuat banner atau gambar baru untuk menggantikan kesalahan tersebut. Selain karena tugas kampus, saya kurang peduli untuk memperbaiki kosakata yang salah. Sebagai penyelamat dari dosa pengetahuan, saya anggap kesalahan demikian sebagai nilai estetika yang kerap digunakan penjual sebagai daya tarik.
Perjalanan saya sebagai mahasiswa memiliki beberapa fase yang akan saya jabarkan ditulisan kali ini. Fase pertama adalah awal semester, fase pengenalan dunia kampus. Dalam fase ini, sebagai mahasiswa baru saya memiliki pertanyaan yang menggebu-gebu pikiran; antara bagaimana?, siapa?, dan mengapa?. Pertanyaan demikian muncul di sela-sela kesibukan menjadi mahasiswa baru. Layaknya sebuah kertas kosong yang masih polos, ia kemudian mencari denah untuk memulai perjalanan yang belum diketahui. Di fase ini, saya mencoba menggabungkan diri dengan berbagai organisasi dan komunitas mahasiswa, dengan harapan tidak dungu. Saya jadi teringan kata Dungu, kerap muncul dari lidah senior kampus (menjelma gaya Rocky Gerung) yang mencemooh mahasiswa tidak berorganisasi.
Berkegiat di organisasi cukup membantu saya dalam membangun jaringan komunikasi. Akses pertemanan pun meningkat antar fakultas dan Uiversitas. Perjalanan di organisasi cukup membangan karakter setiap anggotanya. Mirisnya, kerap kali beberapa mahasiswa memperdagangkan organisasi, mereka menjadikan organisas sebagai alat untuk meraih kekuasaan. Ditilik dari ungkapan adler bahwa setiap manusia memiliki dorongan untuk mencapai superoritas sebagai kompensasi dari rasa kurang atau rendah diri (inferioritas). Hal ini, sejalan dengan karakter beberapa mahasiswa yang berusaha mendominasi dirinya atas orang lain. kerap kali organisasi dijadikan lahan untuk meraih kuasa sehingga makna esensial dalam sebuah organisasi kian tergerus oleh mereka yang lapar akan kuasa, namun tidak memiliki integritas sebagai penguasa. Demikian kerap saya temukan diberbagai organisasi kampus.
Fase kedua adalah dipertengahan kuliah. Nasib kemudian mengantarkan saya pada kebebasan menjalani perkualiahan. Di fase ini, selain berkuliah dengan khidmat dan berorganisasi, saya memiliki kesempatan bergabung dalam sebuah team kemenangan salah satu calon bupati pamekasan. Pengalaman ini banyak memberi pelajaran baik bagi diri saya. Terjun dalam dunia politik, berhadapan langsung dengan masyarakat dan membuat framing paslon sebaik mungkin di media sosal. Penerapan teori yang saya dapatkan di bangku kelas dan coretan kertas tertuang di fase ini.
Fase ketiga di akhir kuliah, saya memfokuskan diri saya pada tugas akhir, meskipun kemudian saya mendapat tawaran dan bekerja di salah satu kantor percetakan. Sebagai mahasiswa yang aktif diberbagai organisasi baik internal maupun eksternal kampus dan bekerja. Mengutamakan tugas akhir kampus dan memilih lulus tepat waktu adalah kewajiban yang saya tetapkan pada diri saya. Pada fase ini, saya berhadapan dengan berbagai macam tawaran manis dan tragis yang menyebabkan lulus tidak tepat waktu, namun hal tersebut saya tepis guna menyelamatkan apa yang sudah saya janjikan. Demikin pejalanan kampus bekerja dalam diri saya, kemudian saya akan berjalan dan terus mengeja pengetahuan sembari berharap nasib baik selalu menyertai.





