Analisa, Pamekasan – Achmad Valen Akbar, finalis asal Pamekasan, Madura, Jawa Timur, menutup ajang Dangdut Academy 7 (DA7) Indosiar 2025 dengan posisi juara kedua berdasarkan akumulasi perolehan virtual gift pada rangkaian Grand Final Malam Kemenangan yang digelar Pada Jumat (26/12) malam.

Berdasarkan pengumuman resmi hasil akhir, Valen mengantongi virtual gift senilai 359,843,300 juta koin, berada di bawah Tasya asal Tangerang Selatan yang meraih 406,360,300 juta dan dinobatkan sebagai juara pertama. Sementara posisi ketiga ditempati April dari Cirebon.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Meski tidak meraih juara pertama, pencapaian Valen dinilai memiliki kualitas vokal dan konsistensi penampilan yang kuat sejak babak awal hingga final. Sepanjang kompetisi, Valen kerap mendapatkan apresiasi dari dewan juri melalui komentar teknis terkait kekuatan karakter suara, penguasaan nada tinggi, serta stabilitas vokal dalam membawakan lagu-lagu bertempo sulit.

Valen juga dikenal sebagai salah satu finalis yang tampil konsisten di setiap fase penilaian, termasuk saat Top 10, Top 4, hingga Grand Final, dengan sejumlah penampilan yang memperoleh respons positif dari penonton studio dan juri.

Namun demikian, mekanisme penentuan juara DA7 yang sepenuhnya bertumpu pada akumulasi virtual giftturut menjadi sorotan publik. Sistem tersebut menempatkan dukungan digital penonton sebagai faktor utama penentuan peringkat akhir, sementara aspek penilaian teknis dari juri tidak lagi menjadi penentu langsung hasil juara.

Skema tersebut memunculkan persepsi bahwa kompetisi dangdut bergengsi menjadi ajang adu dukungan virtual gift, di mana kemampuan finansial basis pendukung berpotensi memengaruhi hasil akhir, terlepas dari kualitas teknis penampilan peserta di panggung.

Posisi Valen sebagai juara kedua tetap dipandang sebagai capaian signifikan, mengingat ia mampu bertahan di papan atas klasemen virtual gift hingga malam penentuan. Dukungan dan antusias masyarakat terhadap Valen menunjukkan daya tarik personal dan kualitas artistik yang mampu menggalang simpati lintas daerah, khususnya dari Madura dan Jawa Timur.

Hasil akhir kompetisi tersebut menunjukkan mekanisme virtual gift menjadi faktor penentu utama peringkat peserta, yang lebih mengutamakan akumulasi dukungan virtual dalam menentukan juara, sementara penilaian teknis penampilan tidak digunakan sebagai variabel akhir pada malam final.