Analisa, Pamekasan – Aliansi Jurnalis Muslimah (AJM) Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar menggelar seminar literasi berita pada Kamis (16/1). Kegiatan ini bertujuan mendorong santri agar melek literasi berita dan mampu menyikapi informasi secara kritis di tengah derasnya arus informasi digital yang rawan hoaks dan misinformasi.
Seminar bertajuk Santri Cakap Literasi Berita tersebut menghadirkan dua pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, yakni Khoyrul Umam Syarif dari Kabar Madura dan Umarul Faruk dari Analisa. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB itu diikuti para santri dengan antusias.
Dalam pemaparannya, Umarul Faruk menegaskan bahwa pemahaman jurnalisme tidak hanya penting bagi wartawan, tetapi juga bagi masyarakat umum, termasuk santri. Menurutnya, literasi jurnalistik menjadi filter utama agar seseorang tidak mudah percaya terhadap informasi yang membanjiri jagad maya.
“Kita tidak harus menjadi jurnalis untuk memahami jurnalisme. Literasi ini penting agar cara pandang kita tidak kusut dan tidak tersesat oleh informasi,” ujarnya.
Faruk menjelaskan, tantangan utama di era digital saat ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan melimpahnya informasi. Kondisi tersebut, kata dia, justru berbahaya jika tidak dibarengi kemampuan memilah dan memverifikasi kebenaran.
“Informasi hari ini seperti banjir. Jika tidak memiliki filter, kita akan menelan informasi apa saja, termasuk hoaks dan misinformasi,” katanya.
Untuk memperjelas materinya, Faruk mencontohkan sejumlah hoaks yang sempat viral di masyarakat, seperti klaim pada 2020 tentang konsumsi telur tertentu yang disebut dapat membuat kebal penyakit, serta peristiwa pada 2016 ketika seorang nelayan di Sulawesi Tengah dikabarkan menemukan bidadari di laut yang belakangan terbukti hanya boneka.
“Santri diharapkan memiliki cara pandang yang jernih dan kritis dalam menyikapi informasi, serta tidak mudah terpengaruh hoaks di tengah pesatnya perkembangan media digital,” tambahnya.
Sementara itu, Khoyrul Umam Syarif menekankan pentingnya literasi berita di tengah derasnya arus informasi digital, khususnya di media sosial. Menurut Kepala Biro Kabar Madura Pamekasan tersebut, santri harus mampu bersikap kritis terhadap setiap informasi yang diterima.
“Santri masa kini harus cakap memahami konteks, sumber, dan kebenaran informasi yang didapatkan. Karena itu, literasi berita menjadi benteng utama untuk menangkal hoaks dan informasi menyesatkan,” paparnya.
Selain membahas literasi informasi, seminar ini juga mengulas dasar-dasar penulisan jurnalistik. Para peserta dikenalkan dengan berbagai jenis berita, mulai dari straight news, hard news, soft news, hingga feature, termasuk pengenalan jurnalisme sastrawi dengan gaya penulisan naratif.





