PAMEKASAN — Gelombang protes masyarakat terhadap Kantor Bea Cukai Madura kian memanas. Setelah sebelumnya digeruduk oleh Lingkar Melati Bersatu (LMB), kini giliran Aliansi BEM se-Kabupaten Pamekasan yang mendatangi kantor tersebut untuk menuntut tindakan tegas terhadap dugaan maraknya peredaran rokok ilegal bermerek “Marbol”.

Namun, bukannya mendapatkan penjelasan, massa aksi justru dihadapkan pada sikap tertutup instansi tersebut. Pihak Bea Cukai Madura terkesan bungkam dan enggan menemui perwakilan mahasiswa maupun wartawan yang hendak mengonfirmasi isu tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Rangkaian Aksi dan Pelemparan Telur Busuk

Eskalasi kekecewaan publik bermula pada Selasa (13/10/2026), saat massa LMB mendatangi Kantor Bea Cukai Madura di Pamekasan. Dalam aksi tersebut, LMB mendesak aparat menindak tegas para pemilik, pemodal, dan pengendali utama bisnis rokok tanpa pita cukai di Madura. LMB bahkan menyerahkan daftar 23 nama yang diduga terlibat dalam jaringan tersebut, serta menyerukan pemeriksaan atas dugaan penggunaan mesin produksi tanpa izin.

Aksi tersebut sempat diwarnai ketegangan ketika massa melemparkan telur busuk ke arah gedung kantor sebagai simbol protes.

“Penindakan selama ini hanya menyasar pedagang kecil dan toko kelontong, sementara aktor intelektual dan pengendalinya seolah tak tersentuh. Kami minta penegakan hukum ini tidak tebang pilih dan segera menelusuri pihak yang diduga mengendalikan produksi serta distribusi,” tegas Koordinator Lapangan LMB, Hendra, di tengah aksi.

BEM Pamekasan Soroti Rokok “Marbol”

Tekanan berlanjut pada Rabu (14/10/2026). Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM se-Kabupaten Pamekasan kembali menggelar aksi demonstrasi. Fokus utama tuntutan mereka adalah penindakan terhadap pihak yang ditengarai menjadi bos besar di balik peredaran rokok ilegal bermerek Marbol.

Lagi-lagi, upaya mahasiswa dan media untuk mendapatkan konfirmasi dari pimpinan Bea Cukai Madura membentur tembok tebal.

“Mohon maaf, pimpinan dan pejabat penindakan belum bisa ditemui saat ini karena sedang ada rapat internal di dalam,” ujar Fauzi, salah satu petugas keamanan Kantor Bea Cukai Madura saat mengiringi wartawan yang meminta klarifikasi.

Sikap tertutup ini dinilai publik sebagai bentuk penghindaran atas keterbukaan informasi, khususnya mengenai komitmen pengawasan barang kena cukai di wilayah Madura.