JakartaBadan Gizi Nasional (BGN) membantah klaim bahwa mitra Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa meraup laba bersih hingga Rp1,8 miliar per tahun. Menurut BGN, angka tersebut hanyalah pendapatan kotor maksimal sebelum dikurangi biaya operasional dan investasi.

‎Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, menegaskan insentif Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebesar Rp6 juta per hari operasional sudah termasuk dalam pagu Rp15.000 per menu MBG.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

‎Insentif ini diberikan berdasarkan ketersediaan layanan, bukan jumlah porsi, sehingga tidak menambah pagu anggaran.

‎“Program MBG fokus pada mutu layanan dan keamanan pangan, bukan keuntungan berlebih bagi mitra,” ujar Sony, Jumat, 25 Februari 2026.

‎Menurut perhitungan BGN, pendapatan kotor Rp1,878 miliar berasal dari insentif Rp6 juta dikalikan 313 hari operasional (365 hari dikurangi Minggu). Jumlah ini belum dikurangi investasi awal dan biaya operasional, sehingga tidak mencerminkan laba bersih.

‎Mitra MBG harus membangun dan mengoperasikan SPPG sesuai standar ketat BGN, dengan investasi awal Rp2,5–6 miliar. Biaya ini mencakup lahan, dapur industri, instalasi listrik tiga fase, sistem filtrasi air, instalasi pengolahan limbah, AC, CCTV, mess karyawan, peralatan masak industri, serta sertifikasi SLHS dan halal. Titik impas bisnis diproyeksikan tercapai 2–2,5 tahun setelah operasional.

‎Program MBG menargetkan 82,9 juta penerima manfaat melalui pembangunan 35.000–40.000 SPPG di 38 provinsi. Penyaluran dana, pelaporan harian, dan mekanisme auto top-up dilakukan digital dengan pengawasan berlapis untuk memastikan akuntabilitas penggunaan anggaran negara.

‎BGN mengimbau masyarakat merujuk pada sumber resmi dan memahami ketentuan secara lengkap sebelum menarik kesimpulan.

‎Transparansi, standar mutu, dan tata kelola menjadi fondasi Program MBG dalam mendukung generasi sehat dan produktif menuju Indonesia Emas 2045.