Oleh: Zenfreak

Bagi sebagian orang yang berdiri di balik pagar besi dan tembok modernitas, kehidupan santri dan pesantren adalah wajah ketertinggalan, kekolotan, dan keterbelakangan. Potret santri yang berjalan menunduk di hadapan gurunya, atau bergotong-royong membangun masjid tanpa upah, dianggap sebagai cuplikan keterbelakangan budaya yang sebaiknya dihapus. Televisi bernarasi, “Ini mirip penjajahan.” Influencer yang menderita penyakit epistemik dan kultural, serta memiliki keterbatasan perspektif, dengan enteng menyebutnya sebagai feodalisme.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menilai pesantren dari luar adalah seperti menilai kegelapan tanpa kesabaran menunggu bintang yang perlahan muncul. Sering kali penilaian itu hanyalah pantulan dari himpunan prasangka yang tak memiliki dasar untuk dapat dipertanggungjawabkan. Penuh bias. Kita perlu masuk ke dalam kebudayaan itu, menyelami proses yang adil, menuju fusi horizon, meminjam diksi Hans-Georg Gadamer — sebuah penyatuan antara penafsir dan pelaku budaya.

Meleburkan diri sebagai pengamat dengan makna yang hidup di dalamnya, bukan dengan standar budaya lain yang secara angkuh dipaksakan sebagai alat ukur.

Ketundukan dan gotong royong tidak bisa diperkosa dengan perspektif modern-sekuler yang menafsirkan semuanya sebatas relasi kuasa seperti dalam sistem feodal. Jauh dari itu, ia adalah arena pendidikan moral, spiritual, kesadaran, dan nilai — sesuatu yang justru sejalan dengan etika Timur, dengan pikiran Konfusius. Bukan penindasan sebagaimana yang dibayangkan secara picik, melainkan sebuah pembebasan dari dalam.

Bagi pesantren dan mereka yang menjiwai kehidupan di dalamnya, praktik-praktik semacam itu tidak lagi dipahami sebagai ketidaksetaraan, melainkan sebagai adab yang perlu dipelihara, kebaikan yang harus dirawat.

Jika feodalisme lahir dari relasi kuasa, maka ketundukan, ketaatan, dan gotong royong di kalangan santri lahir dari kesadaran etis yang sangat manusiawi.

Mereka yang menuduh pesantren itu feodal mungkin lupa bahwa adab, budi pekerti, kesopanan, dan gotong royong bukanlah warisan feodalisme. Nilai-nilai itu jauh lebih purba, yaitu akar dari kemanusiaan itu sendiri.

Mari berhenti menjadi angkuh dan pongah. Kembalilah menjadi manusia yang mau saling mengerti dan memahami.

 


Penulis adalah Zenfreak, alumnus Pondok Pesantren Darul Aitam Karang Bista dan Santri Alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, aktif menulis tentang berbagai isu yang menganggu fikiran nya dan bekerja sebagai desainer.